Kamis, 12 Desember 2019


Panitia Imlek dan CGM 2016 Kota Singkawang Dianggap Persulit Proses Pembayaran Uang Pembinaan

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1238
Panitia Imlek dan CGM 2016 Kota Singkawang Dianggap Persulit Proses Pembayaran Uang Pembinaan

TAGIH JANJI- Sejumlah tatung sedang menagih janji uang pembinaan Rp 1 juta kepada Panitia Imlek dan CGM 2016 Singkawang, di Jalan Kalimantan. (FOTO SUARA PEMRED/ M. ELIAZER)



SINGKAWANG, SP - Sebagian besar tatung yang menanti pembayaran uang pembinaan Rp 1 juta terpaksa kecewa. Pasalnya, panitia dianggap mempersulit proses pembayarannya. " Ini muka saya sudah luka,  ditusuk tapi tidak dapat," kata Aliong salah satu tatung di Kantor Panitia Imlek dan Festival Cap Go Meh (CGM) 2016 Singkawang,  Rabu (24/2).

Menurut Aliong, panitia mensyaratkan, para tatung harus memiliki nomor urut peserta yang dipasang ditandu saat beraksi pada CGM. Serta bukti otentik lain berupa foto tatung saat beraksi yang dimiliki oleh pihak panitia. " Saya sudah daftar, tapi waktu saya atraksi kemaren,  tidak ditempel nomor urut," ujar Aliong.

Aliong juga kecewa dengan cara panitia yang memperlakukan para tatung seperti pengemis,  saat akan mengambil dana santunan yang dijanjikan oleh panitia. "Janjinya kemarin jam sepuluh pagi,  tapi sudah siang belum juga mulai, pintu pakai ditutup. Kami dijadikan seperti pengemis oleh panitia. Padahal yang kami tagih, hak kami. Kami juga turun kemarin saat Cap Go Meh," ungkap Aliong.

Senada dengan tatung lainnya yang mengatakan tahun ini, proses pembayaran dana santunan yang dilakukan oleh panitia sangat berbeda dibanding tahun lalu. "Tahun lalu tidak ada masalah seperti ini. Setelah Cap Go Meh, dana langsung cair. Tapi tahun ini panitia bikin aturan yang tidak jelas dan tidak masuk akal," ujar Almininus.

Biaya yang diperlukan untuk tatung beraksi, menurut Alminus tidaklah murah. Uang pembinaan yang diberikan panitia tidak mencukupi. " Untuk bayar enam orang yang angkat tandu saja,  sudah kurang. Ini kami ambil ke panitia juga untuk bayar orang yang angkat tandu, mereka nagihnya ke kami, jadi kami nagihnya ke siapa kalau bukan ke panitia," paparnya.    

Humas Panitia Imlek dan CGM 2016 Singkawang, Andy Victorio mengatakan panitia bekerja sesuai dengan prosedur dan kesepakatan yang sebelumnya telah dilakukan antar panitia dan para tatung.

"Sebelum kami membayar,  semua diperhitungkan. Jadi bagi tatung yang memang benar memenuhi syarat mendaftar dan turun saat Cap Go Meh,  itu semua kami bayar tidak ada masalah. Dananya sudah kami siapkan jauh hari, dan bagi mereka yang tidak memenuhi syarat tapi tetap ikut turun waktu Cap Go Meh, kami mengucapkan terima kasih," tutur Andy Victorio.

Andy menambahkan setiap biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan Imlek dan CGM akan dipertanggungjawabkan oleh panitia. "Karena dana ini juga ada dana pemerintah, kami tidak mau sembarang menggunakannya," jelas Andy.

Pantauan Suara Pemred hingga sore hari, proses pembayaran masih dilakukan dengan pengawalan ketat kepolisian. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tindakan anarkis yang kemungkinan terjadi.           

 
Roh Leluhur Merestui
Pemimpin Kelompok Tatung Datuk Kurata Chui Bui Khiong membantah kabar ada tatung tewas saat melakukan aksi saat ritual hari Minggu (21/2) lalu. Kabar beredar dari media sosial maupun broascast di Blackbery Mesenger. "Kabar itu tidak benar, orang yang ada di foto itu masih hidup, sekarang dia sudah pulang ke Jakarta," katanya, Rabu (24/2).

Dalam foto terlihat seorang tatung yang belakangan diketahui bernama Asau, terkapar dijalan dengan menggunakan pakaian lengkap ala tatung dan dikerubungi oleh banyak orang.

Di foto tersebut juga terlihat Chong Bui Khiong, berada di atas orang tersebut dengan posisi memegang leher tatung yang berlumuran darah tersebut.

"Jadi yang benar adalah saat itu kami melakukan atraksi dan untuk membuktikan bahwa pedang yang kami gunakan benar-benar pedang asli dan tajam. Dalam hitungan detik, darah langsung diberhentikan, tidak juga dibawa ke rumah sakit, semua selesai saat itu juga," paparnya.

Selain itu juga menurutnya, dengan jatuhnya darah tatung di jalan, juga melambangkan bahwa para roh leluhur merestui atraksi Cap Go Meh yang akan  dilakukan kesesokan harinya. "Juga menandakan dewa merestui. Leher yang terluka ada dibagian leher sebelah kanan," jelasnya.

Bahkan menurut dia, usai kejadian tersebut, Asau juga melanjutkan atraksi tatungnya saat perayaan Cap Go Meh. "Dia tetap beraksi, dia makan beling waktu Cap Go Meh kemarin, jadi tidak ada masalah," ungkapnya.

Persatuan Tatung  Datuk Kurata merupakan persatuan tatung yang membawahi setidaknya 40 tatung yang ada di Singkawang.  Sedangkan Asau merupakan tatung dari Jakarta yang sengaja datang ke Singkawang untuk ikut memeriahkan Cap Go Meh Di Singkawang. "Jadi dia juga di bawah naungan datuk Guru Kurata," jelasnya. (jee/sut)