Kamis, 24 Oktober 2019


Dua Kali Pilkada di Kota Singkawang

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1709
Dua Kali Pilkada di Kota Singkawang

GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)

Singkawang sudah melakukan Pilkada langsung sebanyak dua kali. Pilkada di Singkawang dan Kalbar umumnya, belum lepas dari politik identitas. Politik identitas adalah, tindakan politis dengan mengedepankan kepentingan dari anggota suatu kelompok, karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan.   

Kota Singkawang memiliki luas wilayah 50.400 hektar. Wilayah Kota Singkawang Timur dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang. Bagian Singkawang Utara dengan Kabupaten Sambas. Bagian Singkawang Barat dengan Laut Natuna.
 

Di Kota Singkawang terdapat tiga etnis besar. Yaitu, Tionghoa 50 persen, Melayu 27 persen, dan Dayak 7 persen. Tak heran bila, etnis Dayak sebagian besar mendiami Singkawang Timur. Etnis Melayu mayoritas mendiami wilayah Singkawang Utara. Etnis Tionghoa sebagian besar tinggal di Singkawang Barat.
 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2013, jumlah penduduk di Kota Singkawang  sebesar 198.742 jiwa. Jumlah itu menyebar tidak merata. Di Singkawang Barat terdapat 12.539 jiwa, dengan kepadatan 2.777 jiwa setiap km persegi. Di Singkawang Tengah berjumlah 60.647 jiwa atau rata-rata 2.124 jiwa tiap km persegi.

Singkawang Selatan 44.071 jiwa dengan kepadatan 196 jiwa tiap km persegi. Singkawang Timur 20.477 jiwa dengan kepadatan 123 jiwa tiap km persegi. Singkawang Utara 23.391 jiwa dengan kepadatan 351 jiwa tiap km persegi.
  Artinya, bisa dipastikan, siapa yang menguasai Singkawang Barat dan Tengah, bakal memenangkan Pilkada Singkawang?

 Itu rumusnya. Benarkah demikian? Coba kita lihat Pilkada langsung pertama, memilih walikota periode 2007-2012, dan Pilkada langsung kedua, memilih walikota periode 2012-2017 di Singkawang. 
 

Naiknya Hasan Karman atau Bong Sau Fan sebagai Wali Kota Singkawang periode 2007-2012, tak lepas dari terbukanya sistem politik dan demokrasi, pasca reformasi 1998. Ada lima pasangan pada Pilkada langsung pertama tersebut. Pasangan pertama, Hasan Karman – Edy R. Yacoub. Kedua, Awang Ishak – Raimundus Sailan. Ketiga, Darmawan – Ignatius Apui. Keempat, Suyadi Wijaya – Bong Wui Khong. Kelima, Syafei Djamil – Felix Periyadi.
 

Awang merupakan Pj Wali Kota Singkawang, periode 2002-2007, pasca pemekaran dari Kabupaten Sambas, setelah keluarnya UU Nomor 12 Tahun 2001, tentang Pembentukan Kota Singkawang.  
 

Dalam suatu kesempatan wawancara, Awang Ishak pernah menuturkan, Pilkada langsung pertama di Singkawang, masih memilih suku, bukan figur pemimpin. “Alangkah baiknya tak gunakan isu ras dan politik uang,” kata Awang.  

Hasil Pilkada langsung pertama, total suara sah sebanyak 86.294 suara. Awang Ischak mendapat 30.706 suara. Hasan Karman dapat 36.103 suara. Namun, pilkada itu menyisakan persoalan. Awang menggugat ke pengadilan.
  Awang menganggap pasangan Hasan Karman berbuat curang.

Seperti, ada anak SMP mencoblos, selebaran berbau SARA, politik uang, memberikan barang, hingga kehadiran Karman di KPU Singkawang jelang rekapitulasi suara.   Seluruh bukti sudah dikumpulkan. Awang yakin memenangkan gugatan. Namun, Majelis Hakim yang diketuai Sofjan Tanjung, anggota CH Kristipurnami Wulan, Asmaini Adlis, I Nengah Suriada dan Sudjono berkehendak lain. Ada tiga hakim menolak gugatan. Dua hakim menerima gugatan. Awang Kalah.  

Hasan Karman muncul pada saat yang tepat. Euforia politik dan simbol keterkekangan etnis Tionghoa. Yang selama ini tak dapat kesempatan di bidang politik. 
  Faktor lain kekalahan itu, kata Awang, karena suara Melayu terpecah. Diperebutkan empat orang, sedangkan suara Tionghoa satu saja.  

Pilkada langsung kedua berlangsung pada 20 September 2012. Ada empat kandidat maju dalam Pilkada di Singkawang. Nomor urut satu, Awang Ishack - Abdul Muthalib (Aidul). Nomor urut dua, Henoch Thomas – Rozanuddin (Hero). Nomor urut tiga, Hasan Karman – Ahyadi (HKAD). Nomor urut empat, Nusantio – Tasman (Nusantara).

Berdasarkan data KPU Kota Singkawang, jumlah DPT sebanyak 158.021. Jumlah pemilih di Singkawang Barat 46.135, Singkawang Selatan 32.989, Singkawang Timur 14.769, Singkawang Tengah 47.008, Singkawang Utara 17.120. Total suara sah 97.441 suara. Tak menggunakan hak suara 58.220. Suara tak sah sebanyak 3.468 suara.  

Petahana, Hasan Karman - Ahyadi didukung PDIP, Partai Demokrat dan Partai Perjuangan Indonesia Baru. Karman sesumbar memenangkan pemilihan. Hasilnya? Meski didukung 40 persen suara di DPRD Kota Singkawang, Karman kalah dari Awang.
  Pasangan Awang Ischak – Abdul Muthalib meraih suara terbanyak. Selisih dengan petahana, Karman hampir 3.000 suara.

 Padahal, Karman unggul di Kecamatan Singkawang Selatan, Timur dan Barat. Awang unggul di Kecamatan Utara dan Tengah.
  Secara keseluruhan, Awang – Abdul mendapat 44.082 suara atau 45,50 persen. Henoch - Rozanuddin, 2.441 suara atau 2,50 persen. Karman – Ahyadi dapat 41.539 suara atau 42,57 suara. Nusantio – Tasman dapat 9.515 suara atau 9,57 persen.  

Pasangan Awang Ishak – Abdul Muthalib, akhirnya memimpin Kota Singkawang periode 2012-2017.   Penulis di Suara Pemred pernah mewawancarai puluhan narasumber di Singkawang. Mulai dari tokoh masyarakat, ketua yayasan, elit politik, pengusaha hingga rakyat biasa, terkait masalah sosial dan pascapilkada pertama dan kedua di Singkawang, dan pembangunan patung naga.  

Bila dirangkum, bunyinya kira-kira begini: “Kekalahan Hasan Karman terjadi karena tak lagi didukung tokoh dan warga Tionghoa. Banyak yang kecewa terhadap hasil pembangunan selama Karman menjabat Wali Kota Singkawang, maupun terhadap sikapnya. Kasus pembangunan patung Naga, bisa disebut satu diantaranya.

Pembangunan patung itu menyulut polemik, bahkan bentrok fisik. Kondisi itu membuat warga Tionghoa merasa terancam dan tak tenang dalam berbisnis.   Selain itu, Hasan Karman tidak lagi didukung Permasis (Perhimpunan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya). Ormas yang bergerak di bidang sosial dan budaya ini, anggotanya pengusaha dari Singkawang dan sekitarnya di Jakarta.  

Tak hanya dukungan, Permasis dianggap kunci kemenangan bagi para calon Tionghoa yang maju di Pilkada Singkawang. Dari segi logistik maupun lobi-lobi ke pimpinan yayasan Tionghoa di Singkawang dan sekitarnya.” 
  Nah, bagi Balon dari Tionghoa yang maju di Pilkada Singkawang, tentu harus memperhatikan dua hal itu. (ant/abd/loh/lis/sut)