Selasa, 10 Desember 2019


Bangunan SMPN 19 Tidak laik, Wali Kota Singkawang Janji Rehab Penuh

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 398
Bangunan SMPN 19 Tidak laik, Wali Kota Singkawang Janji Rehab Penuh

TINJAU SEKOLAH - Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie saat meninjau salah satu ruang kelas di SMP Negeri 19 , Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat, Selasa (10/7). Dia menilai kondisi bangunan sekolah tersebut sudah tak laik dan akan segera diperbaiki. (SP/R

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie
"Akan kita rehab habis, karena kalau separoh-separoh selain memerlukan biaya yang sangat besar, hasilnya juga kurang maksimal,"

SINGKAWANG, SP - Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie melakukan kunjungan kerja ke SMP Negeri 19 di Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat, Selasa (10/7). Dia menilai kondisi bangunan sekolah tersebut sudah tak laik dan akan segera diperbaiki.

"Berdasarkan hasil peninjauan saya, bahwa SMPN 19 ini sangat memprihatinkan, yang seharusnya peruntukkannya untuk sekolah dasar (SD) tapi digunakan untuk SMP," kata Tjhai Chui Mie.

Temuannya tersebut segera akan disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang untuk ditindaklanjuti.

"SMP ini harus kita bangun lagi demi kenyamanan anak-anak sekolah sehingga dapat memotivasi mereka dalam proses belajar mengajar dengan tempat duduk, meja, rak buku dan lainnya yang serba baru," ujarnya.

Apalagi prestasi anak bukan hanya didapat dari ilmu pendidikan, melainkan budi pekerti yang menyangkut dengan tata ruang dan sebagainya harus dalam kondisi baik.

"Maka dari itu tempat sekolah harus sudah mencerminkan dan mengajarkan berbagai hal untuk anak-anak kita sewaktu mereka masih muda," ungkapnya.

Untuk itu, dia berharap Kepala Dinas Pendidikan beserta konsultan bisa mendesain kembali SMPN 19 seperti apa dan berapa besar anggarannya.

"Akan kita rehab habis, karena kalau separoh-separoh selain memerlukan biaya yang sangat besar, hasilnya juga kurang maksimal," tuturnya.

Diapun berharap, ada pihak-pihak lain yang mau melaporkan kondisi sekolah yang saat ini dirasakan sudah tidak layak lagi. "Karena tanpa adanya laporan, bagaimana mungkin saya bisa tahu dan tidak mungkin juga saya akan meninjaunya satu-satu," pintanya.

Maka dari itu, dia sangat mengharapkan proaktif dari kepala sekolah atau guru untuk bisa menyampaikan kepada Pemerintah Kota Singkawang. "Sehingga kita bisa bertindak dengan cepat, dan anak-anak sekolah juga bisa segera menikmatinya," ungkapnya.

Dia pun berjanji akan melakukan berbagai upaya guna memprioritaskan pendidikan sepanjang tidak melakukan pelanggaran hukum yang ada. "Karena ini yang selalu ada di visi misi kami," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMPN 19 Singkawang Barat, Asep Wahyudin mengatakan, total anak didiknya sekarang ini ada sebanyak 352 siswa.

"Namun untuk tahun ajaran baru ini, kita menerima sebanyak tiga kelas lagi yakni sebanyak 96 siswa," katanya.

Selama ini, proses belajar mengajar masih terbilang normal meski kondisi sarana dan prasarana sekolah sangat memprihatinkan. "Alhamdulillah prestasi yang dicapai siswa juga cukup membanggakan," ujarnya.

Hanya saja, untuk peningkatan prestasi siswa ke depan sangat diragukan, mengingat standar sekolah yang digunakan ini masih setingkat SD. 

"Untuk ruangan guru, tata usaha dan kepala sekolah maupun wakil saja kita tidak ada, sehingga untuk memenuhi itu musala yang seharusnya untuk ibadah tapi digunakan untuk ruangan guru," ungkapnya.

Menurutnya, ruang guru SMPN 19 ada dua, yang satu di musala dan perpustakaan. "Sedangkan untuk ruangan kepala sekolah, wakil dan tata usaha dipakai satu ruang tapi disekat-sekat," tuturnya.

Mudah-mudahan apa yang dirinya sampaikan kepada Wali Kota Singkawang bisa terlaksana dalam waktu cepat. "Mengingat animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di SMPN 19 ini memang sangat banyak," jelasnya.

Gedung Tidak Standar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Singkawang, HM Nadjib mengatakan, jika gedung yang di tempati siswa SMPN 19 sebenarnya merupakan gedung SDN 14. Sehingga, gedung yang dipakai SMPN 19 tidak standar. Karena awalnya memang untuk SD.

"Karena ketika mereka pindah ke situ, ada sebagian sarana dan prasarana SD yang tinggal dan dipakai oleh mereka," ujarnya.

Menurut dia, jika Wali Kota Singkawang menginginkan agar sekolah itu lebih nyaman dan leluasa, maka ada sekitar delapan bangunan rumah dinas di sekitar lokasi tersebut harus dibebaskan.

"Masalah ini sebenarnya sudah saya tawarkan ke wali kota, delapan rumah yang mau dibebaskan ini kalau dapat diberikan uang panjaran untuk mereka mengambil rumah baru," ungkapnya.

Pertimbangan dengan diberikannya uang muka ini, pertama, karena secara kemanusiaan tidak mungkin dinas akan melakukan penggusuran seenaknya mengingat mereka yang tinggal di rumah dinas juga sudah berjasa. Lalu yang kedua, mereka bisa memiliki rumah sendiri. Dan ketiga, Pemkot Singkawang bisa membangun sekolah sesuai yang diinginkan. "Saya rasa dengan cara seperti inilah solusinya," tutup dia. (rud/ang)