Bandara Singkawang Gerbang Kemajuan Utara Kalbar

Singkawang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1100

Bandara Singkawang Gerbang Kemajuan Utara Kalbar
Grafis (Suara Pemred / Koko)
Pengamat Penerbangan, Syarif Usmulyani Alkadrie
"Membangun bandara tidak seperti membangun rumah."

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie
"Pembangunan fisik bandara Februari 2019. Lokasinya di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan."

SINGKAWANG, SP – Bandar udara (bandara) Kota Singkawang akan dibangun Februari 2019. Lapangan terbang itu diharap bisa mendongkrak ekonomi utara Kalimantan Barat. Tak hanya Kota Seribu Kelenteng, kabupaten tetangga digadang turut merasakan manfaat.

Diprediksi mengoperasikan pesawat jenis ATR-72, bandara ini akan menghubungkan semua lokasi berbandara di Kalbar, dan sejumlah rute luar pulau terdekat. Namun jika dapat sokongan dana lebih, rute Singkawang-Kertajati (Majalengka) atau kota lain di Pulau Jawa ingin disasar. Selain mempersingkat waktu, peningkatan ekonomi masa depan dinilai bakal terwujud.   

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, pembangunan bandara sangat penting untuk kemajuan Kota Singkawang. Bukan hanya perkara menghemat waktu perjalanan, bandara disebut jadi indikator daerah maju.

"Kalau perjalanan dari Pontianak ke Singkawang berjam-jam, bagaimana kita bisa meningkatkan kunjungan pariwisata kita," ujarnya, Selasa (4/12).

Bandara dia yakini bakal mewujudkan visi misi Singkawang Hebat. Investor lebih mudah masuk, pengangguran berkurang, dan sejumlah efek turunan lain dirasakan. Saat ini, dia sudah menemui beberapa calon investor untuk percepatan pembangunan. 

"Kita akan lakukan rapat atau pertemuan lanjutan bersama Bapak Menteri Perhubungan, dan para calon investor untuk membahas kerja samanya seperti apa nantinya," jelasnya. 

Pembangunan fisik bandara dilakukan Februari 2019. Namun belum ada tanggal pasti. Lokasinya berada di Kelurahan Pangmilang, Kecamatan Singkawang Selatan.

“Suatu kehormatan bagi kita bahwa Bapak Menteri bersedia untuk datang dan ikut melakukan peletakan batu pertama,” sebutnya.

Kepala Dinas Perhubungan Singkawang, Sumastro menjelaskan, rencana pembangunan bandara disesuaikan dengan permintaan pasar, yang dalam hal ini adalah penumpang. Baik itu permintaan terbang, maupun mendarat. 

Landasan pacu bandara dibuat tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Panjangnya berkisar antara 1.600 sampai 1.800 meter. Diproyeksikan jenis pesawat yang beroperasi sekelas ATR-72 yang mengangkut 72 penumpang. Tetapi, jika permintaan pasarnya bergerak cepat, maka Menteri Perhubungan akan mempertimbangkan usulan mempercepat program perpanjangan landasan pacu menjadi di atas 2.000 meter. 

"Jika sudah di 2.000 meter, sesuai dengan penlok yang ditetapkan oleh Menhub, tentu saja pesawat yang ada di bandara nanti sejenis berbadan lebar," ungkapnya. 

Pasalnya, tahapan landasan pacu Bandara Singkawang berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP-1024 Tahun 2018 tentang Penetapan Lokasi (Penlok) Bandar Udara Baru Kota Singkawang berawal dari 1.600 meter, 2.000 meter, 2.500 meter bahkan lebih.

Perihal rute, jika jenis pesawat masih ATR-72, penerbangan tentu melayani rute-rute yang tidak terlalu jauh. Seperti Singkawang-Pontianak, Singkawang-Ketapang, Singkawang-Sintang, Singkawang-Putusibau, Singkawang-Ranai, Singkawang-Natuna, dan bisa jadi Singkawang-Batam. Tapi jika nanti sudah jenis pesawat berbadan lebar, rute akan ditambah menjadi Singkawang-Kertajati. 

“Kalau mau masuk ke Jakarta sepertinya tidak mungkin, karena kita tahu slot di Jakarta itu merupakan bandara yang sangat sibuk. Apalagi sudah dari segala penjuru Indonesia berkumpul,” katanya.

Dia memastikan pembebasan 106 hektare lahan sudah selesai. Ganti rugi juga sudah diberikan. Hanya ada sisa 44,5 hektare masih dalam proses konsinyasi di Pengadilan Negeri Singkawang.

"Artinya dana ganti rugi yang disediakan pemerintah kita titipkan ke Pengadilan Negeri sepanjang para pihak (pemilik lahan) belum bisa menerima proses ganti rugi yang disediakan," jelasnya. 

Tapi, dari 44,5 hektare itu hanya sekitar 7 hektare saja yang murni tidak mau menerima besaran ganti rugi. Sedangkan sisanya, lebih menuntut kepada siapa ganti rugi ini diterima. 

"Artinya siapa yang paling berhak, pihak-pihak itu bersengketa di pengadilan," tuturnya. 

Pemkot Singkawang pun sudah mendapat surat pernyataan dibenarkan, untuk membangun bandara walaupun masih dalam proses konsinyasi. Untuk tahapan selanjutnya, pengendalian program bandara lebih banyak diserahkan pada pemerintah pusat. 

Dia belum tahu pasti apakah pemerintah pusat akan menggandeng swasta, sebagaimana pembangunan Bandara Kertajati dengan program Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), atau semua murni APBN.

“Jika memang murni APBN, mungkin saja program ini memakan waktu,” sebutnya. 

Namun, dia memastikan Kota Singkawang segera memiliki bandara. Peletakan batu pertama dilakukan Februari mendatang, anggarannya pun sudah tersedia di tahun 2019. Menteri Perhubungan juga menyatakan, Pemkot mampu menyiapkan lahan sesuai syarat dan kriteria clear and clean.

"Jadi tidak lagi menjadi sesuatu yang masih dalam angan-angan atau sebatas perencanaan saja. Clear berarti tidak ada sengketa-sengketa, dan clean berarti kita ada pendampingan TP4D dari Kejaksaan. Jadi tidak ada lagi dugaan ini dan itu," tegasnya.

Sejak Dimekarkan 

Wakil Ketua DPRD Singkawang, Sumberanto Tjitra mengatakan, ide pembangunan bandara sebenarnya sudah lama, setelah Pemkot Singkawang dimekarkan. 

"Waktu zamannya Wali Kota pertama Bapak Awang Ishak, kemudian diteruskan oleh Wali Kota Hasan Karman dan seterusnya," kata Sumberanto. 

Menurutnya, bandara dianggap penting dan telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Hal ini karena melihat situasi kondisi Singkawang yang sangat strategis karena dikelilingi oleh tiga kabupaten. Yaitu, Kabupaten Bengkayang, Sambas dan Mempawah. Jumlah perantau dari wilayah itu juga lumayan.

"Mereka juga pangsa pasar yang sangat potensial. Sehingga dengan adanya bandara, kita harapkan penguatan ekonomi Singkawang dan sekitarnya. Di samping itu, akses lalu lintas semakin dekat," ujarnya. 

DPRD Singkawang sangat kooperatif dan mendukung visi misi wali kota yang tertuang dalam RPJMD. Pihaknya sudah menyetujui anggaran Rp8 miliar dalam APBD Singkawang 2018 yang diperuntukkan ganti rugi lahan.  

“Untuk tahun anggaran 2019, lagi kita bahas," ungkapnya. 

Setelah itu, DPRD Singkawang akan menjadwalkan pemanggilan pihak eksekutif untuk memberikan informasi dalam rapat kerja dengan Komisi II DPRD. 

Mantan Wali Kota Singkawang, Awang Ishak mengatakan, bandara penting lantaran sebanyak 35 ribu orang Singkawang, Bengkayang dan Sambas ada di Taiwan. Kemudian, 20 ribuan orang Singkawang, Bengkayang dan Sambas ada di Pulau Jawa. Alasan lainnya, posisi antara Pelabuhan Kijing dengan Bandara Singkawang merupakan lokasi yang strategis untuk Indonesia bagian barat. 

"Jadi Mempawah dengan Singkawang adalah jantungnya Indonesia bagian barat, kepada Gubernur Kalbar buka kawasan industri di antara kedua wilayah ini," ujarnya.

Catatan Pembangunan

Pengamat penerbangan, Syarif Usmulyani Alkadrie mengatakan spirit pembangunan bandara sebenarnya baik-baik saja. Namun dalam pembangunannya, perlu memperhatikan beberapa aspek kajian Feasibility Study (FS). Pembangunan bandara harus melalui studi kelayakan yang panjang.

“Membangun bandara tidak seperti membangun rumah,” kata Syarif Usmulyani.

Pembangunan bandara, mesti memperhatikan beberapa aspek. Misalnya, aspek lingkungan akan berdampak pada Instrumen Aproud Prosedur (IAP), terkait ada tidaknya hambatan saat pesawat mendarat. Kemudian, aspek akseptabilitas, soal bagaimana arus keluar masuk bandara ke depan. Pemblokiran terhadap daerah bandara juga harus menjadi perhatian, jangan sampai muncul pembangunan di sekitar daerah pendaratan pesawat.

“Kajiannya sudah dilakukan atau belum, dan kalau pun sudah dilakukan kajian yang ada sudah sejauh mana,” katanya.

Arah angin juga harus dijadikan perhatian. Pasalnya, dalam sistem aerodinamik, pesawat untuk masuk harus melawan arah angin. Dia mengingatkan, studi perkara itu tak bisa dalam waktu singkat.

“Studi kelayakan teknis, operasional dan bangunan, sudah seperti apa,” ucapnya.

Staf Ahli PT Angkasa Pura II Bandara Supadio ini menyampaikan, dalam pembangunan tidak hanya mengejar pembangunan fisik, tapi juga aspek keselamatan. Menurutnya, anggaran Rp10 miliar hanya cukup untuk menyiapkan lahan. Baik itu pembebasan, pembersihan dan pemerataan lahan dan permukaan. 

“Untuk Bandara Supadio saja bangunannya perlu dana sekitar Rp800 miliar, belum lagi sarana pendukung lainnya, seperti landasan,” ucapnya.

Dia pesimis dalam kondisi perekonomian tak stabil sekarang, dana APBD dan APBN akan cukup. Masalah lain, jika lahan hanya seluar 106 hektare, hanya bisa dibangun bandara tipe kelas IV, dengan penumpang 40 sampai 70 orang. Bandara Supadio memiliki luas 300 hektare dan topografinya datar.

“Dengan kondisi topografi Singkawang yang berbukit, perlu biaya berapa lagi untuk pemerataannya,” ucapnya.

Jika ingin memaksakan, luas lahan tersebut akan berpengaruh pada panjang landasan dan pesawat yang bisa mendarat. Berdasarkan hitungannya, hanya pesawat baling-baling jenis ATR yang bisa beroperasi.

“Jangan sampai pembangunan bandara ini jadi sia-sia. Seberapa penting pembangunan bandara bagi masyarakat sekitar, juga harus dikaji secara serius,” katanya.

Menurutnya, pembangunan bandara di Kota Singkawang hanya bisa jadi bandara pendukung Bandara Supadio. Pasalnya, bandara internasional itu memiliki kapasitas yang sangat besar, bahkan landasan pacunya akan ditambah hingga 3.000 meter. (din/rud/bls)

Hidupkan Pariwisata

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Singkawang, Mulyadi Qamal mendukung realisasi pembangunan bandar udara (bandara) di kota setempat. Pasalnya, jarak tempuh dari bandara terdekat, yakni Bandara Supadio di Kubu Raya makan waktu kurang lebih empat jam. 

"Saya rasa dengan dibangunnya bandara, tentu akan mempersingkat waktu," ujarnya Selasa (4/12).

Pembangunan bandara tersebut, tentu juga akan mempermudah pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya di Kota Singkawang. Dampak luar biasa akan dirasakan. Pariwisata akan makin berkembang.

Disamping itu, dia juga meminta Pemkot Singkawang bisa menggelar even-even besar. Dengan demikian, akan banyak mendatangkan orang-orang luar ke Kota Singkawang. Makin lama mereka tinggal, makin besar Pendapatan Asli Daerah Singkawang. Tentu mereka tak sekadar makan dan minum, tapi juga menginap.

Selama ini, Kota Singkawang hanya mengandalkan even Cap Go Meh saja. Dan even itu pun, hanya setahun sekali dengan waktu yang singkat.

"Untuk itu, diharapkan Pemkot Singkawang bisa bekerja sama dengan Pemerintah Pusat, melibatkan pihak ketiga guna menarik even-even nasional untuk digelar di Kota Singkawang," harapnya.

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Bong Chin Nen mengatakan dengan adanya bandara, warga sekitar Singkawang yang ingin bepergian keluar bisa tiba lebih cepat, dibanding harus ke Pontianak lebih dulu.

“Singkawang punya bandara memang menjadi antisipasi yang baik menanggapi permasalahan selama ini,” kata Bong Chin Nen.

Dia berharap penyelesaian pembangunan bandara tidak butuh waktu lama. Proses pembebasan lahan harus dikoordinasikan baik. Anggota DPRD Provinsi Kalbar daerah pemilihan Singkawang-Bengkayang ini tidak ingin ada konflik antara pemerintah dan pemilik lahan.

“Saya harap Pemerintah Kota Singkawang bisa berkoordinasi baik dengan pemerintah provinsi dan kementerian, serta bisa menggaet donatur agar bisa mempercepat proses pembangunan,” tutupnya. (din/rud/bls)