Tarif Hotel Singkawang Meroket

Singkawang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 728

Tarif Hotel Singkawang Meroket
Grafis Koko (Suara Pemred)
PHRI Singkawang, Mulyadi Qamal
"Dalam hal pelayanan maupun masalah kenaikan harga, tidak menutup kemungkinan juga dari sekian hotel yang ada di Singkawang tidak mengindahkan imbauan ini."

Kepala Bidang Pariwisata Singkawang, Supardiana
"Mereka tidak boleh menaikkan harga kamar lebih dari 100 persen."

SINGKAWANG, SP – Tarif hotel di Kota Singkawang terus meroket di libur Natal dan jelang pergantian tahun. Kenaikannya pun terbilang fantastis, hampir 100 persen. Jadi tujuan wisata utama Kalbar, tampaknya benar-benar dimanfaatkan jasa perhotelan di Kota Seribu Kelenteng tersebut. 

Ditelusuri lewat aplikasi pemesanan tiket Traveloka, Hotel Swiss-Belinn Singkawang misalnya, menawarkan harga Rp900 ribu per malam untuk  kamar deluxe twin di hari Jumat (28/12). Harganya meningkat jadi Rp1,7 juta per malam untuk kamar tipe sama di malam pergantian tahun, Senin (31/12). 

Hal serupa terjadi di Palapa Beach Hotel. Hotel yang berada di kawasan Pantai Pasir Panjang ini mematok harga Rp903.615 untuk kamar jenis family room di hari Jumat. Sementara ketika pergantian tahun, untuk kamar tipe sama harganya jadi Rp1.325.000 per malam.

Namun demikian, saat ini hampir semua kamar hotel penuh. Di Hotel Grand Mandarin Singkawang contohnya. Kamar kelas family room seharga Rp 1 juta. Hotel baru ini memiliki fasilitas biasa saja. Namun, walau tarif per malam naik 70-78 persen dari hari biasa, 50 buah kamar di hotel itu nyaris penuh.  

"Dipastikan mendekati tahun baru kelak kamar hotel kami juga akan penuh atau full booking," kata GM Hotel Grand Mandarin Singkawang, Erik.

Jika hotel lain menaikkan tarif, Hotel Roban Inn justru tidak melakukannya. Mereka sengaja memberlakukan harga sewa biasa untuk menarik pengunjung. Ladang rupiah bagi mereka hanya Festival Cap Go Meh. Ketika perayaan itu, harga bisa mencapai dua kali lipat.

"Saat ini, pemesanan kamar sudah mencapai 50 persen dari total sebanyak 30 kamar. Tapi untuk Cap Go Meh, sudah full booking," kata GM Hotel Roban Inn Singkawang, Akiat.

Praktik melipatgandakan tarif itu sebenarnya bikin pengunjung keberatan. Namun mereka mau tak mau menyewa, lantaran tak ada pilihan lain. 

Andre (33) warga Kota Pontianak tak jarang bolak-balik Singkawang. Menurutnya, ada selisih jauh dari harga yang ditetapkan pihak hotel. Di hari kerja, hotel tempat dia biasa menginap mematok harga Rp300 ribu per malam. Namun ketika musim libur, harganya naik dua kali lipat.

"Ya kita tahulah, apa pun usahanya pasti mencari untung. Tapi ya sedang-sedang juga kalau mau kasih harga," kesalnya. 

Dia berharap pemerintah bisa lebih mengawasi. Kenaikan dua kali lipat dari harga biasa menurutnya keterlaluan. Terlebih seringkali harga yang ditetapkan tidak sejalan dengan fasilitas yang disediakan. Jika dibandingkan hotel di Pontianak, harganya lebih murah namun fasilitasnya lebih baik.

Pengalaman tak menyenangkan lain sempat dirasa Yeni (25). Warga Pontianak ini sempat ingin menginap di salah satu hotel di lokasi pantai. Namun harga yang ditetapkan jauh dari harga normal, dia akhirnya mencari hotel lain di luar kawasan pantai. Sayangnya, kenaikan harga juga berlaku di hotel lain. 

"Kayaknya kalau menjelang libur, semua hotel di Singkawang menaikkan harga," ujarnya. 

Diceritakannya, saat itu dia ditawari harga Rp450 ribu untuk satu kamar dengan dua tempat tidur. Sedangkan kamar dengan satu tempat tidur dibanderol Rp300 ribu per malam. Padahal, kamar-kamar itu tak dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Terpisah, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Singkawang, Supardiana mengatakan, apabila pihak hotel ingin menaikkan tarif kamar pada momentum tertentu, sebaiknya disepakati bersama. Terlebih ketika Cap Go Meh, mereka tidak boleh menaikkan harga kamar lebih dari 100 persen. 

Namun sayang, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Kota Singkawang dalam ‘Tingkat Hunian Kamar Hotel Kota Singkawang Tahun 2016’, potensi  industri  pariwisata yang dimiliki belum memberi dampak  bagi perekonomian kota. Salah satu indikasinya, dilihat dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Singkawang  tahun 2016. Sub sektor hotel hanya memberikan sumbangan sebesar 1,20 persen dari  total PDRB  Kota  Singkawang.

Namun, di sisi berbeda tahun 2018, Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Singkawang mencatat pajak hotel melebihi target. Di awal tahun, Pemkot menetapkan target Rp3 miliar. Namun saat ini sudah terealisasi Rp3,2 miliar.

"Kalau BKD hanya memastikan bahwa dari tarif hotel yang ditetapkan, harus di dalamnya include dengan pajak hotel yang telah ditetapkan sesuai peraturan yang berlaku," kata Kepala BKD Kota Singkawang, Muslimin.

Dia menjelaskan tarif hotel jadi kewenangan Wali Kota Singkawang melalui dinas teknis untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaannya di lapangan. Hanya untuk perkara pajak, dia menyebut selama ini, belum ditemukan pengelola hotel yang menunggak.

"Kalau terlambat ada, tapi kalau menunggak belum pernah," ujarnya.

Klaim Terbaik 

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Singkawang, Mulyadi Qamal mengatakan, tidak bisa dipungkiri bahwa Kota Singkawang sebagai salah satu tujuan destinasi wisata di Kalbar. Dia mengklaim fasilitas terbaik sudah diberikan.

"Kami dari pelaku usaha bergerak di bidang perhotelan maupun restoran, jauh-jauh hari sudah menyiapkan segala macam fasilitas dan pelayanan, untuk tamu-tamu yang datang agar merasa puas," katanya. 

Terlebih di momentum libur panjang, hari besar keagamaan, tahun baru, Imlek dan Cap Go Meh. Fasilitas yang diberikan jasa perhotelan cukup lengkap dibanding daerah lain di Kalbar. Akibatnya, Singkawang jadi daerah paling ramai dikunjungi, sampai-sampai kamar yang tersedia tak bisa menampung.

Namun, hanya di momentum tertentu tersebut, Singkawang ramai pengunjung. Sisanya mereka kesulitan. Sebagai kota wisata dan jasa, dia mengatakan perlu kerja sama dengan dinas terkait, untuk memajukan pariwisata. 

“Bicara mengenai harga, karena permintaan banyak, sementara hotel yang ada masih belum mampu untuk menampung para tamu yang datang menginap, sehingga berlakulah hukum ekonomi,” katanya.

Dia menegaskan perihal harga standar tinggi dan sebagainya, ditentukan pihak hotel. PHRI sendiri tidak mengatur soal itu. Namun semua tergantung kelas hotel, seperti Kelas Melati atau Bintang, serta fasilitas yang tersedia.

"Kami dari PHRI beserta dinas telah memberikan imbauan kepada pihak pengelola hotel, pada waktu momen-momen tertentu, untuk tidak menaikan harga di luar kesepakatan bersama, antara 50-100 persen," katanya. 

Namun, dia tidak memungkiri jika, ada satu-dua hotel yang tak mengindahkan.

"Dalam hal pelayanan maupun masalah kenaikan harga, tidak menutup kemungkinan juga dari sekian hotel yang ada di Singkawang, tidak mengindahkan imbauan ini," ujarnya. 

Jika pun ada, menurutnya bukan tanpa alasan. Dia mengambil contoh persentase kunjungan wisata ke Singkawang dalam setahun. Bagaimana perbandingan momen tertentu dengan hari biasa. Sedangkan pertumbuhan hotel sangat menjamur. 

“Hari-hari biasa hotel-hotel tidak merata kebagian tamu. Tapi pada momen-momen tertentu saja, baru merata kebagian tamu," ungkapnya.

Manajemen hotel mungkin sudah tahu dan punya cara tersendiri untuk menarik tamu. Artinya, segmen sudah ada masing-masing. Ketika hari biasa dan sepi pengunjung, harga biasanya diturunkan.

Menurutnya, persaingan di perhotelan sudah sangat ketat. 

“Mudah-mudahan bisa menjadi motivasi para pelaku usaha perhotelan, untuk berusaha lebih maju dengan bersaing secara sehat, maju untuk Singkawang Hebat," tuturnya. (rud/sms/bls)

Tegas Ambang Batas

Anggota DPRD Kalbar, Lutfi meminta pemerintah tegas soal ambang batas harga tarif sewa kamar hotel. Jika daerah belum mempunyai regulasi soal itu, maka harus segera dibuat. Harus ada aturan soal harga minimum dan maksimum. 

"Di sini ketegasan pemerintah daerah, ketika musim libur begini mereka harus mengawasi tarif hotel ini," katanya, Kamis (27/12).

Dia menyebut kebutuhan kamar hotel pada saat libur memang meningkat. Karena banyaknya wisatawan dari luar daerah. Peningkatan itu lantas berpengaruh pada harga kamar hotel yang juga ikut naik.

"Hotel ini sama dengan pesawat, yang pada saat libur begini naik," ujar dia. 

Batas tarif hotel semestinya ditetapkan oleh Dinas Pariwisata, bersama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) setempat. Harus ada kategorisasi tarif sesuai kualitas hotal. Misalnya, antara hotel bintang 4 dan 5 akan berbeda tarifnya.

"Untuk tarif hotel memang bervariasi tergantung dengan fasilitas, kemudian lokasi hotel," ujar dia.

Hanya saja, dia beranggapan, baik musim libur maupun hari biasa, semestinya tarif hotel disamakan.

"Jangan begitu ramai mereka naikan, begitu sepi mereka kasih diskon. Jangan seenaknya hotel menaikkan tarifnya di musim libur, kalau seenaknya begitu tidak profesional," ujar politisi Nasdem ini. (iat/bls)