Kamis, 21 November 2019


Tarif Hotel Singkawang Melangit

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 1618
Tarif Hotel Singkawang Melangit

Grafis Suara Pemred (Koko)

Kepala Badan Keuangan Daerah Singkawang, Muslimin
"Beberapa orang yang diwawancara, ternyata saat menyambut perayaan Cap Go Meh, mereka tidak menginap di Singkawang, dikarenakan harga kamar melonjak drastis."

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie
"Kabar yang tersiar itu tidak benar, karena menurut pengakuan manajemen hotel bahwa tarif yang diberlakukan pada perayaan itu bukan per hari tetapi per paket."

SINGKAWANG, SP – Jelang Cap Go Meh, harga hotel di Singkawang melangit. Kenaikannya lebih dari dua kali lipat. Padahal, sudah jadi kesepakatan bersama Pemkot Singkawang, kenaikan tarif tak lebih dari 100 persen.

Jika tak dikontrol, perkara ini buruk bagi kelangsungan pariwisata. Kesan buruk bisa membuat wisatawan enggan kembali. Terlebih di saat sama, terjadi kenaikan tiket pesawat dan ada kebijakan bagasi berbayar.

Warga Kota Pontianak, Jerry terkejut ketika mendapatkan daftar harga kamar di salah satu hotel di Singkawang. Dia diminta memesankan kamar untuk rekan kerjanya di Jakarta, yang ingin menyaksikan Cap Go Meh di Singkawang.

Bermodal nomor telepon salah satu hotel yang didapat dari salah seorang rekan, dia menanyakan harga kamar untuk tanggal 17 Februari. Resepsionis hotel kemudian menyampaikan penawaran harga melalui pesan WhatsApp. 

“Waktu saya lihat harganya Rp1,2 juta untuk kamar kelas deluxe. Kaget saya,” katanya, Senin (11/2).

Padahal di hari biasa, harga kamar di hotel tersebut hanya Rp300 ribu. 

“Mereka bilang sudah aturan dari perusahaan. Jadi tanggal 17, 18, 19 Februari, harga kamar kelas deluxe Rp1,2 juta. Itu hanya untuk sewa kamar saja,” jelasnya.

Kondisi ini juga dikeluhkan rekannya. Padahal, rencananya akan memesan 10 kamar.

“Saya sempat dibilang bohong, naikkan harga. Jadi tak enak saya,” sesalnya.

Harga hotel wajar naik, namun semestinya tak sampai lebih dari dua kali lipat.

“Cari untung boleh, tapi jangan kelewatanlah. Pemerintah dan asosiasi perhotelan di sana masa tidak tahu dengan kondisi ini. Malah aneh kalau mereka tidak tahu,” sesalnya.

Namun, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie membantah jika tarif kamar yang diberlakukan manajemen hotel terbilang mahal.

"Kabar yang tersiar itu tidak benar, karena menurut pengakuan manajemen hotel bahwa tarif yang diberlakukan pada perayaan itu, bukan per hari tetapi per paket (dari tanggal 17, 18 sampai 19)," katanya.

Paket itu diberlakukan dari Pawai Lampion sampai perayaan Cap Go Meh. 

"Jadi bukan per hari lho ya, tapi per paket," ujarnya.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Singkawang, Supardiana mengatakan, apabila pihak hotel ingin menaikkan tarif kamar pada momentum tertentu, sebaiknya disepakati bersama. Terlebih ketika Cap Go Meh, mereka tidak boleh menaikkan harga kamar lebih dari 100 persen. 

Sementara Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Singkawang, Mulyadi Qamal mengatakan, saat ini pemesanan kamar hotel sudah mencapai 80 persen. Untuk tarif, dia mengimbau agar pengelola hotel tidak menaikkan semaunya sampai melebihi 100 persen. 

"Usahakan maksimal 100 persen," ujarnya.

Dari pencarian Suara Pemred di laman Traveloka, tak ada hotel tersisa untuk hari Senin (18/2). Sementara di hari Minggu (17/2) dan Selasa (19/2) yang jadi awal dan akhir rangkaian Cap Go Meh, hanya tersisa empat penginapan. 

Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Singkawang, Muslimin memastikan, pihaknya akan memonitor ke lapangan terkait tarif hotel. Pihaknya selalu mengingatkan pengusaha, agar menaikkan harga secara wajar dan tidak berlebihan.

"Kami bersama tim dan Disparpora akan memonitor di lapangan terkait hal ini. Jika ditemui ada pelaporan pajaknya yang tidak sesuai dengan harga jual yang mereka tetapkan, maka akan kami berikan peringatan baik secara lisan maupun tertulis," ujarnya.

Perkara tarif tersebut memang berpengaruh pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Singkawang. Selama ini sistem pajak hotel pun menggunakan self assesment. Artinya wajib pajak yang menghitung sendiri, dan menyetorkan hasil pajaknya setiap bulan ke kas daerah.

Secara umum, para wajib pajak hotel memang sudah patuh. Hanya saja, perlu secara terus-menerus dipantau. Apalagi saat musim ramai dari Imlek sampai Cap Go Meh saat ini.

"Harapan kita dari para pengusaha hotel, untuk selalu taat dan membayar pajak sesuai dengan harga jual yang mereka bebankan ke konsumen saat musim ini," pintanya.

Muslimin sendiri sempat mewawancarai sejumlah tamu yang bakal ke Singkawang, saat Cap Go Meh. Mereka menyatakan tidak menginap di Kota Seribu Kelenteng tersebut, lantaran harga kamar melonjak drastis.

"Nah, kalau hal ini banyak yang berpikiran sama, berarti yang rugi tentu kita masyarakat dan para pengusaha Singkawang sendiri," ungkapnya.

Oleh karena itu, pembinaan Disparpora sebagai leading sektor/pembina pengusaha hotel di Kota Singkawang diharap lebih bertaji.

Tak Aji Mumpung

Ketua PHRI Kalbar, Yuliardi Qamal mengatakan, pihaknya selalu mengimbau seluruh anggota untuk tidak aji mumpung, memanfaatkan momentum besar layaknya Cap Go Meh. 

Pasalnya, hal tersebut akan menjadikan satu kejadian yang buruk bagi dunia pariwisata. Banyak wisatawan yang kemudian merasa jera untuk kembali lagi ke Kalbar, khususnya di Singkawang atau Kota Pontianak. 

Dalam penentuan tarif pun, PHRI tak mengintervensi. Semua dipasang masing-masing hotel. 

"Kita tidak ada menentukan batas-batas harga. Itukan sudah hukum alam. Cuma kita selalu mengimbau, agar anggota kita tidak menjadi aji mumpung menjelang momen ini," terangnya. 

Pada dasarnya, permintaan jasa perhotelan sudah dilakukan jauh hari oleh wisatawan. Akibatnya kini, kamar-kamar hotel tersebut telah penuh. Ketika ada wisatawan baru yang ingin memesan penginapan, besar kemungkinan tak akan kebagian.

"Namanya permintaan kan, mereka (wisatawan) sudah setahun lalu malah itu dipesan sedemikian rupa, sehingga kamarnya sudah pada penuh," ungkapnya. 

Meskipun begitu, saat ini Pemerintah Kota Singkawang sudah mencarikan jalan keluar, dengan memberdayakan rumah warga sebagai homestay.

"Itu bagus juga, di mana kepala dinasnya (pariwisata) sudah berkoordinasi bersama beliau (wali kota), bahwa akan memberdayakan rumah-rumah penduduk, dijadikan tempat penginapan," tambahnya. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa, pariwisata benar-benar memiliki manfaat untuk banyak pihak. Meski memang, hal-hal semacam itu tidak stagnan. Hanya menjelang perayaan Cap Go Meh saja. Seharusnya, pemberdayaan tersebut bisa kontinu. Caranya dengan membuat orang tertarik datang sepanjang tahun.

"Sehingga di hari-hari yang lain, bisa terisi seperti hari ini," ujarnya. 

Lantaran Cap Go Meh Singkawang sudah jadi event internasional, tidak menutup kemungkinan dampaknya terasa di Pontianak. Tak jarang memang wisatawan menginap di Kota Khatulistiwa. Mereka hanya ke Singkawang saat jadwal tatung.

"Jadi tidak pendek hanya di Kota Singkawang saja, tapi mereka bisa stay di Kota Pontianak juga," terangnya. 

Diharapkan wisatawan bertahan lama di Kalbar. Tidak sekadar satu-dua hari. Perlu ada daya tarik atau agenda penunjang usai Cap Go Meh. Sehingga uang yang mereka belanjakan jauh lebih banyak. Dengan demikian, efeknya besar bagi perekonomian.

Tidak hanya hotel, pendapatan kuliner dan jasa lainnya akan meningkat. Misalnya angkutan daring dan suvenir. 

Dampak dari perayaan Cap Go Meh, baik di Singkawang dan Pontianak, ternyata hanya dirasakan hotel yang berada di dekat lokasi. Grand Mahkota Hotel Pontianak yang berada di Jalan Sidas misalnya, tak memiliki persiapan khusus jelang festival tersebut. Di Pontianak, Festival Cap Go Meh diadakan di Jalan Gajahmada. Pasar malamnya di Jalan Diponegoro, sepelemparan batu dari lokasi pertama. 

“Kita tidak ada persiapan khusus, karena hotel yang berada di luar daerah Jalan Gajahmada Kota Pontianak tidak akan mengalami pengaruh yang besar,” sebut General Manager Grand Mahkota Hotel, M Rizal Razikan.

Namun demikian, Grand Mahkota Hotel Pontianak sejak awal Februari hingga Maret memang sudah penuh. Akan tetapi bukan karena Cap Go Meh. 

“Okupansi Kota Pontianak juga saat ini masih di bawah 50 persen,” katanya.

Milik Pasar

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kalbar, Natalia mengatakan jelang perayaan Cap Go Meh, dinasnya hanya membantu promosi. Agenda itu sudah masuk dalam ajang tahunan. Festivalnya pun memiliki panitia sendiri. Dinasnya tak masuk dalam kepanitiaan. 

"Kita tidak ada menyiapkan apa-apa," singkatnya. 

Tarif hotel yang dirasa tinggi merupakan bagian dari kompetisi usaha. Hukum pasar berlaku. Permintaan pasar yang semakin banyak, akan berpengaruh pada harga. 

"Kalau namanya usaha jasa pariwisata itukan kaitannya dengan perekonomian ya. Hukum ekonomi itu berlakulah di mana-mana. Permintaan banyak, harganya meningkat,” sebutnya.

Disporapar Kalbar menyerahkan semua ke pasar. Tak ada intervensi apa pun. Termasuk penetapan harga tertinggi. Ramainya kunjungan buat hotel saling kompetisi.

"Tarif harga itukan mekanismenya pasarlah ya, artinya tiap-tiap hotel punya mekanismenya sendiri. Jadi untuk harga kita tidak intervensi,” katanya. (din/iat/rud/sms/bls)

Awasi Ambang Batas

Anggota DPRD Kalbar, Bong Chin Nen tak memungkiri kenaikan tarif hotel yang lebih dari dua kali lipat dalam setiap Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang. Dia kesal, permasalahan serupa terus terjadi tiap tahun. Padahal, perihal ini buruk untuk industri pariwisata jangka panjang.

"Kalau dilepas ke pasar, akhirnya mau-mau pasar menentukan berapa saja kan, sehingga jadi keluhan,” katanya, Senin (11/2). 

PHRI dan Pemkot Singkawang harus membuat batas kenaikan harga khusus, jelang Festival Cap Go Meh. Walau sudah ada aturan, terbukti masih ada hotel yang nakal. Mestinya, ada sanksi tegas pada mereka.

Ketegasan seperti itu yang selama ini tidak diberlakukan. Akibatnya, hotel-hotel jelang Cap Go Meh sesukanya menaikkan harga. Semata-mata semua menghamba hukum pasar. Terlebih saat ini harga tiket pesawat juga mengalami lonjakan. Bisa jadi hal ini memberi kesan buruk wisata Singkawang.

"Kita beri saranlah, kalau boleh ditentukan persentasenya. Misalnya ditentukan kenaikan maksimal berapa persen, sehingga orang tidak terkejut," pungkasnya. (iat/bls)