Cap Go Meh Singkawang Jadi Tranding Topik Nasional

Singkawang

Editor Admin Dibaca : 480

Cap Go Meh Singkawang Jadi Tranding Topik Nasional
Cap Go Meh Singkawang
SINGKAWANG, SP - Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Arief Yahya melepas parade tatung yang berjumlah sebanyak 1.060 peserta di Festival Cap Go Meh (CGM) Kota Singkawang, Selasa (19/2).

Parade tatung yang diawali dengan tari-tarian Rentak NKRI itu dihadiri Pangdam XII/Tpr, Kapolda Kalbar, Waka Polda Kalbar, Wali Kota Singkawang, Forkopimda, para pengusaha dan turis serta para undangan lainnya.

"Event Cap Go Meh di Kota Singkawang menjadi tranding topik Nasional. Bahkan sebelum saya datang ke Singkawang, event ini sempat menjadi tranding topik nomor 1 Nasional," kata Menpar.

Dia juga mengucapkan selamat kepada panitia, karena pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh tahun ini kembali berhasil Rekor MURI atas pembuatan sepasang reflika Singa Raksasa setinggi 8,88 meter.

"Dan selamat juga kepada event Cap Go Meh Singkawang karena telah menjadi kalender Of Event Nasional. Usai acara, akan saya serahkan piagamnya kepada Wali Kota Singkawang," ujarnya.

Menurutnya, setiap event tentu memiliki dua nilai, yaitu Culture Wellius dan Komersil Wellius. Untuk Culture Welliusnya, jelas dia, bahwa Cap Go Meh Singkawang merupakan identitas budaya dan pemersatu masyarakat.

"Sedangkan untuk Komersil Welliusnya kita harapkan event seperti ini akan mensejahterakan masyarakat Singkawang," ungkapnya.

Menpar juga mengucapkan selamat kepada masyarakat Singkawang yang telah berhasil meraih sebagai kota tertoleran se-Indonesia.

Kalau mau menjadikan Singkawang sebagai destinasi utama pariwisata kelas dunia maka rumusnya 3A.

Nomor satu, Atraksi. Karena, selama Singkawang tidak punya atraksi kelas dunia, maka susah bagi destinasi itu untuk menjadi destinasi utama wisata kelas dunia.

Sebenarnya, Singkawang mempunyai potensi yang sangat besar untuk menuju ke arah tersebut. Salah satu contoh, Festival Cap Go Meh sudah beberapa kali mendapat penghargaan baik dari Kemendikbud maupun Kemenpar.

"Kemudian hari ini juga akan saya sampaikan, berarti Singkawang sudah berada ditingkat Nasional," jelasnya.

Kalau hanya berada ditingkat Nasional, Menpar merasa belum cukup. Maka itu, Singkawang harus menjadikan Festival Cap Go Meh ke tingkat dunia. Oleh karenanya, Festival Cap Go Meh dengan ke khasan tatung itu, boleh diusulkan sebagai Unesco Heritage.

"Saya berharap Festival Cap Go Meh Singkawang ini bisa menjadi salah satu yang bisa kita usulkan," pintanya.

Namun, sebelum kearah itu ada hal-hal yang perlu disiapkan, antaralain, pertama, pihaknya akan mengirimkan Koreografer ke Singkawang untuk mendampingi Koreografer yang ada di Singkawang.

Kedua, penata musiknya harus level Nasional. Ketiga, penata busanya juga harus level Nasional. "Ini bukan instruksi saya, tapi merupakan instruksi Presiden di setiap event. Setelah semua dekorasi tingkat Nasional, barulah bisa diusulkan ke Unesco,” katanya.

Setelah atraksi, nomor duanya adalah Akses. Untuk turis atau wisman, tidak mau mengunjungi destinasi wisata jika jarak tempuhnya lebih dari 3 jam.

"Oleh karenanya ada hal yang perlu dibangun, apakah membangun Tol atau Bandara," ujarnya.

Namun, untuk membangun Tol biayanya sangat mahal jika dibandingkan membangun Bandara. "Selain mudah, biayanya juga lebih murah," ungkapnya.

Untuk membangun Bandara diharapkan ada kemitraan antara pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Ketiga, amenitas atau akomodasi. Disarankan kepada Gubernur dan Wali Kota Singkawang, untuk membuat kawasan ekonomi khusus pariwisata.

"Untuk membuat ini tentu tidak mudah, tapi begitu dapat maka pemerintah akan Full Support membangun infrastruktur dan utilitas dasar," ungkapnya.

Menurutnya, Singkawang boleh mengusulkan itu, minimal luasnya kira-kira 300 hektare. Dengan begitu dapat menarik investor untuk mau berinvestasi di Singkawang.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, bahwa event Cap Go Meh merupakan event kebanggaan masyarakat Singkawang yang harus terus dipertahankan.

"Dengan ramainya orang yang datang ke Singkawang tentunya menjadi peluang karena ini merupakan multiplier effect dari sektro pariwisata," katanya.

Kunjungan pada destinasi pariwisata, hotel, restoran, rumah makan dan pusat kuliner akan menjadi meningkat. "Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh paguyuban multi etnis yang ada di Kota Singkawang, budayawan, seniman yang turut berpartisipasi aktif dalam pagelaran seni budaya Festival Imlek dan Cap Go Meh," ujarnya.

Ini menunjukkan, bahwa kerukunan antar etnis yang sangat harmonis di Kota Singkawang. Hal ini, harus terus dijaga dan dipertahankan.

"Kota Singkawang yang multi etnis ini merupakan cerminan dari Indonesia yang plural, berbeda-beda tetapi tetap satu, itulah Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila," ungkapnya. (rud/jek)

Komentar