BNN Adakan Program Rehabilitasi Pecandu Narkotika

Singkawang

Editor elgiants Dibaca : 102

BNN Adakan Program Rehabilitasi Pecandu Narkotika
RAKOR - BNN Singkawang gelar rakor tingkat kabupaten/kota dengan dinas terkait dalam rangka program rehabilitasi pecandu narkotika atau Tim Asesmen Terpadu (TAT), di Aula Hotel Dangau, Senin (15/4).
SINGKAWANG, SP - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Singkawang menggelar rapat koordinasi tingkat kabupaten/kota dengan dinas terkait dalam rangka program rehabilitasi pecandu narkotika atau Tim Asesmen Terpadu (TAT), di Aula Hotel Dangau, Senin (15/4). 

Kepala BNNK Singkawang, AKBP Chrismas Siswanto mengatakan, dalam program rehabilitasi pecandu narkotika ada dua macam, yakni rawat jalan dan inap. 

"Untuk rawat inap ada enam orang dan rawat jalan ada 27 orang," kata Chrismas. 

Menurutnya, jumlah rehabilitasi pecandu narkotika di Singkawang setiap tahunnya selalu meningkat. 
"Dalam rakor ini ada masukan yang baik dari RSUD Abdul Aziz Singkawang, di mana rumah sakit pemerintah ini telah membuka Klinik Metadon dan sudah ada dokter jiwa," ujarnya.  

Menurutnya, kehadiran Klinik Metadone di RSUD Abdul Aziz Singkawang sangat penting, terutama untuk orang (korban) yang akan melakukan terapi pecandu narkotika. 

"Dan kalau boleh kami juga bisa sharing khusus kepada korban pecandu narkotika dari kalangan tidak mampu yang akan ke dokter jiwa supaya digratiskan," ungkapnya. 

Pemkot Singkawang juga diharapkan bisa menanggung biaya pengantaran para korban yang akan direhabilitasi khususnya untuk korban yang berasal dari kalangan tidak mampu.

Dia juga berpesan kepada masyarakat Singkawang, untuk tidak takut mendatangi Kantor BNN dengan tujuan rehabilitasi.  

"Baik itu rehabilitasi rawat jalan maupun inap karena BNN tidak akan memungut biaya sepersen pun baik itu di Batam, Medan, Lampung, Lido, Ujung Pandang, Samarinda maupun Bali," katanya. 

Pada kesempatan yang sama, Kasat Narkoba Polres Singkawang, IPTU Robert Damanik menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan BNN Singkawang karena melalui kegiatan ini adanya koordinasi antarinstansi terkait dalam hal pemberantasan narkotika di Singkawang. 

"Kita dari Polres Singkawang selalu semangat untuk memberantas peredaran narkotika di Singkawang," ucapnya. 

Pada 2018 kemarin, kata dia, pengungkapan kasus narkotika yang berhasil pihaknya ungkap sebanyak 69 kasus. Sementara pada 2019 dari Januari-April sudah ada 16 kasus. 

"Untuk tersangka ada 25 orang, namun yang belum diserahkan ke Kejaksaan karena masih dalam proses penyidikan dan pemeriksaan tambahan sehingga masih tersisa 15 orang. Dengan rincian, 12 laki-laki dan 3 perempuan," ujarnya. 
Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Polres Singkawang, rata-rata yang ditangkap kebanyakan adalah pengedar. Namun, pada saat dilakukan penangkapan, barang bukti yang didapat dari tersangka sudah banyak yang terjual. 

Sementara Tim Medis Asesmen Terpadu Singkawang, Winda Ruliana mengatakan, berbicara masalah pencegahan perlu diketahui dulu akar permasalahannya mengapa begitu banyak orang di Singkawang menggunakan narkotika. 

"Karena kalau kita tidak tahu akar permasalahannya, maka akan sulit bagi kita untuk meredam penyebarannya," katanya. 

Di sisi lain, dalam pemberantasannya perlu kerja sama semua pihak seperti dukungan sosial dan keluarga. Karena, narkoba merupakan masalah bersama. 

"Apalagi bagi orang yang sudah kecanduan narkotika, tentu sudah punya pengalaman menggunakan dan sudah terekam akan kenikmatan. Sehingga hal itu ada risiko-risiko untuk korban untuk terjerumus kembali. Sehingga untuk menjauhkan itu, perlu lingkungan yang positif dan suportif agar bagaimana dia berdaya," ujarnya. (rud/lha)

Dua Penanganan

Direktur RSUD Abdul Aziz Singkawang, Carlos Dja'afara mengatakan, ada dua penanganan yang pihaknya berikan terhadap pengguna narkoba. 

"Yang pertama, apakah penanganan fisiknya yang perlu tindak lanjut sampai program pengobatan selesai atau tidak ketergantungan lagi dengan narkoba. Kedua, apakah perlu penanganan rawat jalan atau inap," katanya. 

Untuk tahun 2018 kemarin, sebanyak 20 pengguna narkoba yang menjalani rawat jalan di rumah sakit. 

"Namun dengan periodik penanganan, maka di tahun ini semakin menurun, sehingga hanya tinggal tiga pasien saja," tuturnya. (rud/lha)