Empat Anak Diduga Jadi Pelaku Pengeroyokan

Singkawang

Editor elgiants Dibaca : 74

Empat Anak Diduga Jadi Pelaku Pengeroyokan
PENGEROYOKAN - Ilustrasi pengeroyokan anak di Singkawang yang menyebabkan korban meninggal dunia. Pengeroyokan berawal dari makian di media sosial.
SINGKAWANG, SP - Polres Singkawang mengamankan empat orang anak lantaran diduga melakukan tindak pidana penganiayaan pengeroyokan secara bersama-sama hingga menyebabkan korban meninggal dunia, Senin (13/5) kemarin.  

Kasat Reskrim Polres Singkawang, AKP Parikhesit mengatakan, diamankannya keempat anak tersebut lantaran diduga melakukan tindak pidana penganiayaan pengeroyokan secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang.

"Kejadian penganiayaan pengeroyokan tersebut terjadi pada hari Minggu (12/5) sekitar pukul 21.15 WIB di Jalan Raya Tanjung Batu dalam (Kopisan), Gang Sukaramai, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan," kata Parikhesit, Selasa (14/5). 

Penyebab kejadian, kata dia, berawal dari korban yang mengatakan fuck kepada salah satu pelaku di Facebook. Kemudian, pelaku tidak terima dan selanjutnya pada hari Minggu (12/5) sekitar pukul 20.00 WIB mendatangi korban bersama tiga orang pelaku lainnya di TKP. 

"Di TKP, terjadilah cekcok mulut antara pelaku dan korban. Kemudian terjadi perkelahian, yang berlanjut dengan pemukulan oleh empat pelaku terhadap korban," ujarnya.

Selanjutnya, orang tua korban membawa korban ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Namun, pihak RSUD Abdul Azis Singkawang menyarankan pihak keluarga agar korban dirujuk ke Pontianak. 

"Saat dalam perjalanan, tepatnya di Mempawah, korban sudah meninggal dunia," ungkapnya.

Akhirnya, korban pun disemayamkan di rumah duka Nirwana, Jalan Burhani Teratai dan akan dikebumikan pada Kamis (16/5). 

"Pihak orang tua/keluarga korban tidak bersedia dilakukan autopsi dan menyerahkan penanganan perkara sepenuhnya kepada Polres Singkawang," jelasnya. 

Saat ini, keempat anak yang diduga sebagai pelaku penganiayaan pengeroyokan sudah diamankan di Mapolres Singkawang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

"Keempat anak ini juga akan dikenakan Pasal 80 ayat 3 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan diancam hukuman penjara maksimal 15 tahun dan atau denda maksimal Rp3 miliar," katanya.  

Pada kesempatan yang sama, Kapolres Singkawang, AKBP Raymond M Masengi, membenarkan telah terjadi kasus pengeroyokan yang menyebabkan korban yang juga merupakan teman pelaku, meninggal dunia. 

"Dari hasil pemeriksaan kita, ada empat orang anak rata-rata masih di bawah umur yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan tersebut," ujarnya. 

Korban meninggal dunia diakibatkan adanya luka parah. Meski sebelumnya sempat dibawa ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Namun, pada saat akan dibawa ke Pontianak, korban meninggal dunia di dalam perjalanan. 

"Saat ini keempat anak yang diduga sebagai pelaku sudah dilakukan pemeriksaan. Mengingat, pelaku dan korban masih anak-anak, sehingga penyidik kita juga memperlakukan mereka secara khusus," ujarnya. 

Yang pasti, pihak kepolisian Polres Singkawang akan tetap berpegang teguh pada aturan selama melakukan proses penyidikan. 

Raymond sangat menyayangkan kejadian ini bisa terjadi di wilayah hukumnya. Karena, selain para pelaku dan korban masih anak-anak, mereka juga sudah putus sekolah. 

"Hanya salah satu dari pelaku saja yang masih sekolah," ungkapnya. 

Untuk itu, kepada seluruh orang tua, ia mengimbau agar menjaga anaknya masing-masing, terutama dalam hal pendidikan. Karena dengan pendidikan, setidaknya dapat menjauhkan anak-anak dari kenakalan remaja bahkan tindak pidana yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak-anak seumur itu. 

"Jangan sampai anak-anak yang harusnya menuntut ilmu menjadi tidak terurus karena ketidakpedulian dari orang tuanya," pesannya. (rud/lha)

Lebih Peduli pada Anak

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, sangat menyayangkan kejadian ini, apalagi pelaku dan korban masih tergolong anak-anak. 

"Kepada pihak kepolisian, di samping melakukan penahanan, tentu juga harus ada pembinaan," katanya. 

Dia pun mengaku kaget, jika pelaku dan korban merupakan anak yang putus sekolah. 

Ke depan, Pemkot Singkawang memastikan tidak ada lagi anak putus sekolah, yang dapat menyebabkan anak-anak menjadi brutal seperti itu. 

Orang tua juga diharapkan untuk lebih peduli dan memperhatikan pergaulan anak-anaknya, termasuk mengawasi anak-anaknya dalam bermedia sosial. 

"Dengan begitu, orang tua dapat menumbuhkan budi pekerti dan bagaimana hidup bersosialisasi yang baik sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian pengeroyokan yang menyebabkan kematian," ujarnya.

Menurutnya, kejadian ini merupakan yang baru terjadi di Kota Singkawang, karena sebelum-sebelumnya memang belum pernah terjadi. 

Dia menegaskan, kejadian seperti ini, harus jadi yang pertama dan terakhir kalinya terjadi di Kota Singkawang. (rud/lha)