Kamis, 19 September 2019


Pemkot Temukan Dugaan Kerupuk Mengandung Boraks

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 94
Pemkot Temukan Dugaan Kerupuk Mengandung Boraks

PENGAMBILAN SAMPEL - Pengawasan dan pengambilan sampel berbagai jenis dan produk makanan oleh Pemerintah Kota Singkawang bersama Satgas Pangan Polres Singkawang, di Pasar Tradisional Singkawang.

SINGKAWANG, SP - Pemerintah Kota Singkawang bersama Satgas Pangan Polres Singkawang menemukan bahan makanan berupa kerupuk tempe yang diduga mengandung boraks. 

"Dugaan temuan ini kita temukan pada saat tim keamanan pangan Singkawang melakukan pengawasan sekaligus mengambil sampel bahan makanan yang dipusatkan di pasar tradisional seperti Beringin dan Alianyang, Rabu (15/5) kemarin," kata Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, A Kismed, Kamis (16/5). 

Dari pengawasan itu, tim mengambil sebanyak 40 sampel bahan makanan dari dua pasar tradisional tersebut. 

"Tapi setelah diuji sebanyak 39 sampel bebas dari bahan berbahaya, sedangkan satu sampelnya berupa kerupuk tempe diduga mengandung boraks," ujarnya.

Menurutnya, ada empat parameter yang diuji, antara lain Rhodamin B (warna merah), Methanyl Yellow (warna kuning), Boraks, dan Formalin. 

Mengenai satu temuan ini, akan pihaknya bawa ke BBPOM Pontianak untuk memastikan apakah bahan makanan berupa kerupuk tempe tersebut positif mengandung boraks atau tidak. 
"Karena melalui tes awal memang mencurigakan, tapi untuk pastinya akan kita bawa ke BBPOM Pontianak," ungkapnya. 

Terkait dengan temuan itu, tim sudah melakukan penelusuran ke toko yang menjualnya. Hanya, alamat produsen yang diberikan oleh pedagang yang bersangkutan tidak jelas. Mungkin, pedagang yang bersangkutan merasa ketakutan untuk memberitahukannya. 

"Bahkan nomor izinnya pun sudah kedaluwarsa. Jadi nomor izin yang sudah lama dipakai, sebaiknya harus diperbaharui," pintanya. 

Sehingga, dirinya hanya bisa mengimbau, kepada produsen yang merasa memproduksi kerupuk tempe tersebut agar tidak menggunakan bahan atau zat yang dilarang. 

Kemudian, yang belum memiliki izin atau masa izinnya sudah kedaluwarsa, diminta untuk diperbaharui. Gunakan label pada kemasan yang sudah ditentukan oleh BPOM. 

"Jadi, jangan menggunakan label lama atau yang tidak jelas bahkan alamatnya pun harus jelas," pesannya. 

Mengenai persyaratannya baik itu permohonan izin dan sebagainya, bisa dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan setempat. 

"Kalau memang produsennya ada di Singkawang, silakan datang ke kita, tapi kalau produsennya berada di luar Singkawang, silakan datang ke Dinas Kesehatan yang ada di wilayahnya," imbaunya. 

Mengenai temuan tersebut, apabila BBPOM Pontianak menyatakan positif mengandung boraks, maka pihaknya agak sedikit keras kepada pedagang yang bersangkutan, dalam hal memberikan alamat produsen. 

Ia menilai, dampak kesehatan dari mengonsumsi boraks akan sangat buruk karena akan merusak beberapa organ tubuh seperti hati, ginjal bahkan ada yang bersifat Karsinogenik (memicu kanker). 

"Oleh karena itulah bahan-bahan seperti itu dilarang," katanya. 

Meskipun dampak yang ditumbulkan tidak serta merta usai dikonsumsi, tetapi dampaknya akan timbul dalam jangka waktu yang lama. 

"Kepada masyarakat juga diimbau untuk berhati-hati dalam memilih ataupun mengkonsumsi makanan," ujarnya. 

Pada kesempatan yang sama, Kasi Pengendalian Makanan, Minuman dan Bahan Berbahaya Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Rudy Susanto juga mengimbau baik kepada konsumen, produsen dan pendistribusian agar memperhatikan izin edar. 

"Izin edar yang diterbitkan di Indonesia itu adalah izin yang diterbitkan dari BPOM maupun Dinas Kesehatan," katanya. 

Kalau di BPOM itu berupa kode yang diawali dengan kode MD atau ML untuk makanan luar. Sedangkan untuk makanan dalam (produksi industri rumah tangga) kodenya PIRT yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan. 

Jadi, harapan dia kepada produsen bisa mengurus atau membuat izin yang dimaksud bergantung jenis usahanya. Kemudian bagi masyarakat penjual, hanya menerima atau menyediakan atau menjual produk-produk yang sudah terdaftar. 

"Sedangkan untuk masyarakat pengguna (konsumen), diharapkan selektif terhadap produk yang akan dibeli atau digunakan dengan memperhatikan izin edarnya sudah ada atau belum baik dari BPOM atau Dinas Kesehatan," ujarnya. 

Sebelumnya, BBPOM Pontianak bersama Pemkot Singkawang melakukan pengawasan sekaligus mengambil sampel makanan/takjil yang dijual di Pasar Juadah Kota Singkawang. 

Dari 23 sampel makanan/takjil yang diambil dari beberapa titik Pasar Juadah, seperti di sekitaran Masjid Raya, Kelurahan Sekip Lama dan Kampung Jawa, setelah diuji hasilnya sebanyak 21 sampel dinyatakan memenuhi syarat atau tidak mengandung bahan berbahaya. 

Namun, dua sampel lainnya berupa manisan dicurigai mengandung bahan-bahan terlarang. Terhadap dua temuan itu pula, saat ini sudah dibawa ke Pontianak untuk diuji ke laboratorium BBPOM. (rud/lha)

Masih dalam Pemeriksaan BBPOM

Kepala Disperindagkop dan UKM Singkawang, Muslimin mengatakan, terkait dengan dugaan temuan tersebut saat ini masih dalam pemeriksaan BBPOM Pontianak. 

"Jika memang sudah didapati hasilnya tentu akan diinformasikan kembali oleh BBPOM Pontianak," katanya. 

Terkait dengan makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari, akan terus-menerus pihaknya lakukan pengecekan. 

"Bahkan kita juga sudah menawarkan kepada pimpinan (Wali Kota dan Sekda) bahwa sudah seharusnya untuk dibentuk tim terpadu yang melibatkan Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk rutin melakukan pemantauan," ujarnya. 

Sehingga, pemantauan yang dilakukan tidak hanya dilakukan pada momen-momen tertentu, seperti hari-hari besar keagamaan. (rud/lha)