Selasa, 15 Oktober 2019


Warga Diminta Tak Bakar Lahan Sembarangan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 54
Warga Diminta Tak Bakar Lahan Sembarangan

MEMADAMKAN - Petugas Manggala Agni Singkawang sedang memadamkan karhutla, beberapa waktu lalu. Diketahui, kondisi udara di Provinsi Kalbar saat ini sudah tidak enak, karena kabut asap semakin pekat. Ist

SINGKAWANG, SP - Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan, meminta kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Singkawang untuk bisa menyosialisasikan ke masyarakatnya agar tidak melakukan pembakaran sembarangan terutama di lahan-lahan yang kering. 

"Hal itu saya tegaskan, mengingat kondisi udara, khususnya di Provinsi Kalbar saat ini sudah tidak enak, karena banyak kabut asap yang cukup pekat," kata Ria Norsan, saat memberikan sambutan pada acara pelantikan 30 anggota DPRD Singkawang masa jabatan 2019-2024, Senin (16/9) lalu.   

Menurutnya, kondisi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk di Kota Pontianak dan sekitarnya, bahkan di Kota Singkawang, sudah mencapai titik merah. 

"Bahkan untuk Pontianak sendiri, kondisi udara sudah mencapai titik hitam. Yang artinya, titik paling pekat dan berbahaya untuk saluran pernapasan," ujarnya. 

Jadi, kata dia, tolong sampaikan ke masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sembarangan, yang nanti apinya bisa semakin membesar dan meluas. 

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, meminta kesadaran kepada masyarakat setempat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, apalagi di lahan yang kering. 

"Hal itu saya ingatkan, karena kondisi udara di Singkawang saat ini sudah dalam kategori tidak sehat, karena sudah diselimuti kabut asap yang cukup pekat," katanya. 

Menurutnya, cuaca panas sekarang ini sangat mudah sekali menimbulkan kebakaran.

"Artinya, sedikit saja ada percikan api, maka hal tersebut bisa menimbulkan kebakaran," ujarnya. 

Untuk itu, dia meminta kepada masyarakatnya untuk waspada dan berhati-hati. 

"Bagi yang merokok, jangan membuang puntung rokok sembarangan. Apalagi dibuang ke lahan yang kering, karena hal tersebut dapat menimbulkan potensi kebakaran," pintanya. 

Dia menambahkan, guna menghindari penyakit  Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada anak-anak, dirinya sudah mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan siswa, mulai dari tingkat RA/TK, SD/MI, dan SMP/MTs se-Kota Singkawang. 

Libur tersebut diberlakukan selama tiga hari, mulai dari tanggal 16-18 September 2019. Dan masuk kembali pada 19 September.

"Namun, apabila kabut asap masih pekat, bukan tidak memungkinkan libur siswa akan diperpanjang sampai kondisi udara kembali normal," ungkapnya. (rud/lha)

Tingkat Hunian Hotel Menurun

Kabut asap pekat yang menyelimuti Kota Singkawang bukan hanya memberikan dampak buruk bagi kesehatan, tapi juga berpengaruh pada tingkat hunian di sejumlah hotel yang ada di Singkawang. 

Ketua PHRI Singkawang, Mulyadi Qamal mengatakan, sejak terjadi kabut asap, tingkat hunian hotel yang ada di kota setempat sangat berkurang.  

"Secara persentase, penurunan tingkat hunian hotel ada sekitar 30 persen dalam dua pekan ini," ujarnya. 

Menurutnya, pada hari Sabtu dan Minggu cukup ramai pengunjung yang datang ke Singkawang. Namun, sejak terjadi kabut asap hari-hari libur tersebut sepertinya tidak berpengaruh terhadap Singkawang. 

Ditambah lagi dengan adanya pemberlakuan siswa diliburkan karena kabut asap. Tentu hal tersebut justru akan membuat kekhawatiran masyarakat luar untuk datang ke Singkawang. 

Ia menilai, bencana kabut asap yang terjadi sekarang ini sangat luar biasa. Pemerintah bukannya tidak berbuat untuk menanggulangi, hanya saja untuk ke depannya jika ia boleh menyarankan, sebaiknya pemerintah lebih fokus pada pencegahan karhutla. (rud/lha)