RSUD Ade M Djoen Sintang Tangani Pasien Kritis Diduga Rabies

Sintang

Editor sutan Dibaca : 1110

RSUD Ade M Djoen Sintang Tangani Pasien Kritis Diduga Rabies
ILUSTRASI (pethealthcare.co.za)
SINTANG, SP - Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade M Djoen Kabupaten Sintang, kembali menangani satu orang pasien yang diduga terinfeksi rabies akibat gigitan anjing.

Pasien tersebut merupakan pasien rujukan dari puskesmas Semitau, Kabupaten Kapuas Hulu. Kondisi pasien kini kritis dan mendapat perawatan di ruang ICU.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade M Djoen Sintang, dr Rosa Trivina saat dikonfirmasi pada Jumat (5/8), membenarkan hal tersebut.

"Berdasarkan gejala, pasien rujukan dari Kapuas Hulu tersebut, diduga terinfeksi rabies. Pasien BA umurnya 50 tahun, warga Kelurahan Tanjung, Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu," katanya.

Dijelaskannya, pasien tersebut mulai dirawat inap di rumah sakit, sejak 31 Juli yang lalu. Awal masuk rumah sakit, pasien tersebut tidak diketahui pernah tergigit anjing, karena pihak dokter yang menanganinya tidak diberitahu.

Hasil diagnosa pertama, pasien mengalami hipertensi. Kemudian pasien diberi obat dan disarankan untuk rawat jalan saja. “Karena kan kalau hipertensi dikasih obat saja, pasein akan berangsur membaik. Awalnya pihak keluarga dan pasien pun tak mengatakan pernah digigit anjing," katanya.

Saat disarankan oleh dokter mengenai rawat jalan tersebut, kemudian keluarga pasien keberatan, karena kondisi pasien melemah, bahkan tak bisa menelan.

"Keluarganya bilang, bisakah dirawat jalan, soalnya pasen ini keadaanya melemah, dan tak bisa menelan. Kemudian setelah ditanya-tanya riwayat sebelumnya, dari situ pasien baru mengaku pernah digigit ajing. Kejadian gigitan itu, terjadi sekitar tanggal 15 Juli yang lalu," katanya.

Setelah mengetahui pasien rujukan itu pernah tergigit anjing, maka pihak rumah sakit  langsung melakukan diagnosa lebih dalam.

Dari ciri-ciri, dan hasil diagnosa sementara, pasien tersebut diduga tertular rabies. Karena orang yang terinveksi rabies akibat gigitan binatang, biasanya mengalami, kesulitan menelan, berliur, demam tinggi, lemah, dan takut air.

“Dan, ciri-ciri itulah yang dialami pasien tersebut. Sudah kita coba teteskan air sedikit di kepalanya, pasien itu terlihat takut. Apalagi riwayatnya, pasien ini memang pernah digigit anjing," katanya.

Untuk penanganan pasien itu sendiri, saat ini pihak rumah sakit sudah memberikan Vaksin Anti Rabies (VAR). "Namun, kondisi pasien masih kritis, dan masih dirawat di ruang ICU," katanya.

Selain pemberian VAR, pasien akan diberikan terapi-terapi oleh dokter yang menanganinya, serta memberikan perawatan yang intensif.

Rosa mengaku, keterbatasan alat memang menjadi kendala dalam melakukan diagnosa dalam penularan rabies terhadap namusia. Sehingg untuk mengetahui pasien tersebut tertular rabies, hanya bisa dilihat melalui ciri-ciri dan riwayat gigitan itu sendiri.

Menurutnya, manusia yang tergigit binatang rabies, memang tidak seketika itu langsung menyerang syaraf manusia. "Ada fasenya. Jadi, akibatnya tidak seketika itu langsung bisa dirasakan," katanya.

Di sepanjang tahun 2016 ini, rosa mengatakan, pihak rumah sakit sudah menangani 32 pasien yang terkena gigitan anjing.

"31 diantaranya adalah warga sintang, dan satunya pasien rujukan dari Kapuas Hulu ini. Kemudian, tiga pasien yang tergigit anjing yang ditangani, telah meninggal dunia," pungkasnya. (abd/lis/sut)

Komentar