Sintang Defisit 2.218 Guru

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 840

Sintang Defisit 2.218 Guru
ilustrasi
SINTANG, SP - Kekurangan tenaga pengajar pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), terjadi merata di seluruh daerah, termasuk di Kabupaten Sintang. Namun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sintang, memastikan kekurangan ini, tidak menghambat Kegiatan Belajar Mengajarr (KBM).  

Menurut Sekretaris Dinas (Sekdin) Disdikbud Sintang, Yustinus, kekurangan tenaga pengajar ini, sudah terjadi sejak lama. Sebenarnya, lanjut Yustinus, kekurangan ini adalah masalah serius, sehingga Disdikbud terus berusaha memenuhi tenaga yang proporsional.  

“Ini masalah serius, yang terus kita hadapi. Saat ini berdasarkan data yang ada, tercatat kekurangan guru pada tingkat SD dan SMP mencapai angka 2.218, dari total 4.618 tenaga guru yang dibutuhkan,” kata Yustinus, saat dihubungi Suara Pemred, Minggu (7/5).
 

Yustinus menerangkan, kini hanya tersedia 2.400 guru SD dan SMP yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Untuk kekurangan guru id SD berada pada angka 1.194, dari total yang dibutuhkan sebanyak 2.958 orang tenaga guru. Sedangkan untuk SMP hanya ada 636 orang, dari total kebutuhan ideal 1.660 orang tenaga guru.  

“Memang semuanya jauh dari kata ideal. SD dari total idealnya 2.958 orang adanya hanya 1.194. Artinya kita kekurangan sebanyak 1.024 orang tenaga guru. Sementara untuk tingkat SMP saat ini hanya ada 636 orang tenaga guru dari total kebutuhan ideal 1.660 orang. Artinya kita kekurangan 1.024 orang guru,” beber Yustinus.  

Kondisi kekurangan guru ini dikatakan Yustinus masih dihitung secara umum. Artinya belum dikalkulasikan dengan berbagai kemungkinan seperti mutasi serta ada yang akan memasuki masa pensiun yang selalu ada setiap tahunnya.  

“Pada 2017, ada 54 orang guru yang akan memasuki masa purna tugas (pensiun). Keadaan ini semakin mempersulit penyebaran tenaga pendidik dan guru di Sintang,” paparnya.  

Meski kekurangan guru yang cukup signifikan, Disdikbud Sintang menjamin tidak akan kekurangan jam belajar. Apalagi ada guru honorer yang biasanya direkrut oleh setiap sekolah untuk membantu kekurangan tenaga pengajar.  

“Kalau kekurangan jam belajar kita jamin itu tidak akan terjadi didaerah-daerah karena ada guru honorer yang membantu “ ujar Ysutinus.  

Memang kadang guru-guru yang mengajar didaerah harus mampu mengajar lebih dari satu mata pelajaran dikarenakan pemasalahan defisit guru. Meski dinilai tidak profesional karena ada yang mengajar diluar bidang akademisnya namun Yustinus yakin itu adalah salah satu solusi terbaik hingga saat ini.  

“Saya juga pernah mengajar seperti itu. Karena tuntutan kebutuhan, ya harus tetap dilakukan sebagi bentuk pengabdian. Selain itu, mengajarkan juga ada standar kompetensi yang dipakai sebagai rujukan,” pungkasnya. (nak/mul)