Pemkab Sintang Genjot Kualitas Penduduk

Sintang

Editor Syafria Arrahman ST Raja Alam Dibaca : 1000

Pemkab Sintang Genjot Kualitas Penduduk
ilustrasi
SINTANG, SP - Kadisdukcapil Kabupaten Sintang, Syarif M Taufik mengatakan, berdasarkan data per 31 Desember 2016, kualitas penduduk dilihat dari tingkat pendidikan, masih relatif rendah. Kondisi ini jelas mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Sintang.  

Total penduduk Kabupaten Sintang 401.890 jiwa. Sekitar 29,65 persen atau 119.151  jiwa, tidak atau belum bersekolah. Selanjutnya, sekitar 20,65 persen atau 82.974 jiwa tidak atau belum tamat Sekolah Dasar (SD).  

“Untuk penduduk tamat SD itu prosentasenya sekitar 23,57 persen atau 94.717 jiwa. Hanya terpaut 2,92 persen dari angka tidak atau belum tamat SD,” kata Syarif Taufik.  

Taufik menambahkan, prosentase penduduk tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sederajat sebesar 11,81 persen atau 47.455 jiwa. Sementara itu, prosentase tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sederajat sebesar 11,00 persen atau 44.217 jiwa.  

“Jenjang Diploma I/II prosentasenya sekitar 0,62 persen atau 2.494 jiwa. Diploma III sebesar 0,72 persen atau 2.905 jiwa. Diploma IV atau Strata I (S-1) sebesar 1,85 persen atau 7.427 jiwa. Strata II (S-2) sekitar 0,14 persen atau 547 jiwa. Strata III (S-3) itu hanya ada tiga jiwa,” paparnya.  

Data-data di antas, lanjut Taifuk, akan terus diperbaharui setiap harinya. Data-data berdasarkan laporan yang masuk dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).  

“Data terus mengalami perubahan setiap harinya. Terus kami rekapitulasi dan laporkan. Dari data tingkat pendidikan itu memang bisa dilihat tingkat pendidikan penduduk masih rendah,” ujar Taufik.  

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdik) Sintang, Yustinus mengakui problem pendidikan adalah pada banyaknya angka putus sekolah. Rata-rata lama pendidikan siswa adalah berkisar antara 6-7 tahun saja atau setara tamat SD dan kelas 1 SMP.  

“Begitu kenyataannya, dan terus akan kita upayakan pembenahan. Disdikbud tela melakukan pemetaan, agar data angka putus sekolah ini bisa valid terutama yang berkaitan dengan angka partisipasi kasar anak yang tamat sekolah” ujar Yustinus.

Yustinus berharap upaya mengatasi angka putus sekolah tidak dibebankan kepada Dinas Pendidikan saja. Tapi perlu partisipasi semua unsur masyarakat dan pemerintah. Terutama kesadaran dari para orang tua dalam memotivasi semangat anaknya untuk melanjutkan sekolah. (nak/mul)