Sabtu, 07 Desember 2019


Distanbun Siapkan Benih Lada Bersertifikat

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 919
Distanbun Siapkan Benih Lada Bersertifikat

KEBUN LADA – Kebun lada di Kecamatan Kelam Permai, yang jadi andalan petani di wilayah tersebut. Di perbatasan Sintang, tepatnya di wilayah Ketungau, sejak setahun terakhir tanaman lada petani banyak yang mati mendadak, akibat diserang virus, Pemkab Sinta

SINTANG, SP - Kabid Sapras dan Pengendalian Hama, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Sintang, Endang Gunawan berjanji akan menindaklanjuti keluhan petani lada di perbatasan. Termasuk menyiapkan bibit unggul asli Indonesia.   Endang tidak menampik kabar, bahwa petani lada di perbatasan memperoleh bibit dan pupuk dari negara tetangga, Malaysia. Menurutnya, hal tersebut bisa jadi sebab banyaknya hama yang menyerang tanaman lada petani.  

“Kami curiga, karena serangan hama banyak terjadi di perbatasan. Hal ini bisa disebabkan karena para petani di perbatasan, banyak mengambil benih dan pupuk dari malaysia,” papar Endang.
  Endang mengakui, pihaknya telah menyiapkan sumber benih sendiri. Benih tersebut berasal dari penyemaian Distanbun bersama beberapa petani lada yang ada di Kabupaten Sintang.  

“Benih ini bersertifikat dari pemerintah. Sehingga dijamin bebas dari berbagai penyakit,” tuturnya.
  Menurut Endang, penyebab datangnya jamur yang menyerang lada milik petani di perbatasan, bisa saja disebabkan kurangnya pengetahuan akan budidaya dan sumber benih, maupun sterilisasi lokasi kebun pasca dibuka.  

“Kami akan tingkatkan pelatihan dan sosialisasi. Kasihan juga petani yang sudah bersusah payah menanam lada, namun tidak menghasilkan,” kata Endang.
 

Selama ini, lanjut Endang, Distanbun kesulitan memantau perkembangan petani di perbatasan, karena jarak yang cukup jauh. Ia pun akan mengupayakan penempatan penyuluh pertanian di perbatasan.
  Persoalan penyakit yang menyerang tanaman lada petani di perbatasan, dipandang jadi pekerjaan rumah yang belum usai. Pemkab Sintang terus diharapkan bisa memberi perhatian serius atas masalah tersebut.  

Menurut anggota DPRD Sintang, Heri Jamri yang beberapa waktu lalu menyambangi petani lada di Ketungau Tengah, Hulu, dan Hilir, mengatakan setidaknya ada 23 desa di tiga wilayah tersebut yang masyarakatnya mengantungkan perekonomian pada sektor perkebunan lada.
 

Heri menyebutkan, sempat beredar isu yang mengatakan permasalahan penyakit tanaman yang dihadapi masyarakat, disebabkan oleh bibit yang selama ini didatangkan dari negara tetangga, Malaysia.
 

“Kalau orang bilang karena bibitnya berasal dari Malaysia, saya kira itu masalah lain. Seandainya benar, misalnya ada program membunh petani lada, kenapa pemerintah diam saja,” ujar anggota Legislatif Dapil Ketungau ini.


  Heri menilai, matinya sebagian besar tanaman lada masyarakat perbatasan adalah masalah serius yang harus dicari solusinya bukan dengan beropini saja. Harus ada langkah nyata untuk menyelamatkan para petani ini  

“Tidak boleh main-main, matinya lada petani adalah masalah serius, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. Harus ada solusi terbaik dari Pemkab,” ujar Politisi Hanura ini. (nak/mul)