Guru SD di Jungai Curhat Empat Tahun Tanpa Tenaga Medis

Sintang

Editor Hendra Cipta Dibaca : 662

Guru SD di Jungai Curhat Empat Tahun Tanpa Tenaga Medis
Ilustrasi pendidikan di perbatasan Sintang.
Di dalam jiwa yang kuat, terdapat tubuh yang sehat. Tapi slogan itu tidak untuk warga Desa Kepala Jungai, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang. Melalui curahan hati (Curhat), Yustinus Mikael Batur menulis, desa terpencil dan jauh dari pengawasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ini, sudah empat tahun sama sekali tidak ada petugas medis yang mengabdi melayani kesehatan masyarakat.

“Dulu memang pernah ada petugas kesehatan di desa kami. Kalaupun petugas pindah tugas, tetap ada penggantinya. Tapi sejak 2014 sampai sekarang, malah tidak ada penggantinya," tutur Yustinus melalui surat kepada Suara Pemred, kemarin.

Yustinus adalah guru Sekolah Dasar di Desa Kepal Jungai. Di desa ini, ia telah mengabdi selama empat tahun menjadi tenaga pendidik. Hanya saja, selama itu pula, Yustinus mengaku di desanya, meski telah memiliki gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) maupun Polindes, tetapi di dalam gedung tersebut tidak ada petugas medis.

“Barangkali pemerintah kita menempatkan tenaga medis di desa kami,” tulisnya.

Dalam surat itu, ia menyampaikan gambaran tempat tinggalnya, bagaimana akses menuju desa yang dianggap jauh dari peradaban. Selain tidak ada tenaga medis, di desa ini sama sekali tidak ada sinyal telepon seluler.

Desa Kepala Jungai terletak di Uncak Sungai Melawi, dan masuk wilayah Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang. Bagi masyarakat dari ibukota Sintang dan hendak menuju Desa Kepala Jungai, menempuh perjalanan hingga belasan kilometer. Bila ditempuh berjalan kaki, bisa empat hari.

Selain melalui akses darat, perjalanan juga dilalui dengan speedboat dengan melewati arus deras dan ombak. Tapi, para warga yang ingin bepergian melalui akses sungai, harus pandai-pandai memilih cuaca. Bila ditempuh dengan speedboat, butuh waktu sekitar lima jam.

"Karena kalau musim air pasang, speed tidak mampu lewat. Pun kalau musim kemarau juga susah lewat. Perahu harus ditarik, karena banyak batu besar menghalangi sungai,” bebernya.

Jadilah desa terpencil dan berpenduduk seribuan lebih warganya itu, benar-benar menjalani kehidupan yang terisolir. “Bagi masyarakat yang tidak mampu, jika sakit keras tinggal menunggu ajal,” kata Yustinus.

Kadis Kesehatan Sintang, Harysinto Linoh mengatakan, pihaknya sudah menempatkan satu tenaga kesehatan di Desa Kepala Jungai.

"Namanya Ligorius Erik. Dia staf Puskemas Kemangai, Kecamatan Ambalau untuk bertugas di Desa Kepala Jungai," kata Harysinto.

Harysinto juga meluruskan,  ketidakhadiran petugas medis di Desa Kepala Jungai, lantaran yang bersangkutan merangkap tugas dan diperbantukan di Puskemas Kemangai untuk proses akreditasi.

"Jadi, tenaga medis yang baru ditugaskan ke daerah, tidak serta-merta langsung menetap. Mereka harus dibekali materi dulu dari pihak Puskemas," kata Harysinto.

Ketua Komisi C, DPRD Sintang, Heri Maturida berjanji akan meninjau ke lapangan, untuk mengetahui permasalahan sebenarnya secara langsung, dari petugas medis di desa tersebut. (nana arianto/loh)