Diare Ancam Warga Sintang

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 456

Diare Ancam Warga Sintang
DIARE - Petugas kesehatan RSUD Sintang, memeriksa Syalom, Balita 1,4 tahun, yang terkena diare. Dalam seminggu terakhir, ia sudah dua kali dirawat. Penyaikt diare, Ispa dan asma, meningkat di Kabupaten Sintang sejak kemarau.
SINTANG, SP -  Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Sintang, jadi ancaman tersendiri. Hal ini tampak pada mulai menjangkitnya beberapa penyakit yang disebabkan peralihan musim yang ekstrem ini.   Salah satu penyakit musiman tersebut adalah diare. Penyakit ini, jadi ancaman warga, terutama balita. Syalom, misalnya. Balitas berusia 1 tahun empat bulan ini, sudah seminggu harus keluar masuk rumah sakit. Pada Selasa (2/8), ia tampak terbaring lemas di bangsal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ade M Joen, Sintang.  

Bocah perempuan ini dibawa ibunya ke RSUD, karena terus muntah dan buang air besar dalam beberapa hari terakhir. Menurut Ratna, ibu dari Syalom, baru seminggu yang keluar, ia keluar  dari RSUD.
  “Namun kali ini, harus kembali dirawat, karena diagnosa penyakit yang sama, yaitu diare,” kata Ratna, saat ditemi Suara Pemred.  

Sebelum Syalom, ujar Ratna, anak adiknya, yang berusia 2 tahun, juga terkena diare. Bahkan, saat di RSUD, Ratna melihat banyak Balita yang keluar masuk ruang perawatan.   “Lebih parah lagi, setelah Syalom keluar dari RSUD seminggu yang lalu, kakaknya, Riana yang berusia 3 tahun juga masuk, dan baru Senin (1/8), keluar dari RSUD,” paparnya.  

Warga Baning Kota Sintang ini menduga, penyakit yang mendera anak-anaknya dipicu air yang ia gunakan, saat mencuci piring di rumah. Ia mengakui, air yang dipakai adalah air hujan dan sungai.   Menurutnya, air yang ia gunakan tampaknya tidak bersih, karena lama tidak turun hujan, sehingga atap rumah kotor. Ia mengira, kemungkin juga ada kotoran tikus dan segala macamnya.  

“Air itu langsung saya tampung untuk mencuci piring. Saya terpaksa melakukan ini, karena tidak ada air lainnya,” ujar Ratna.   Kasi Rekam Medik dan Pelaporan RSUD Ade M Joen Sintang, Yustandi,  menuturkan, berdasarkan catatan yang ada dalam beberapa minggu terakhir, data pasien diare memang meningkat.

“Ada peningkatan sejak awal Juli. Saat ini, kita terus tangani dengan intensif, karena didominasi anak-anak, yang rentang dengan penyakit ini,” tutur Yustandi.   Angka peningkatan tersebut, lanjut Yustandi, lebih dari 100 persen, jika dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Ia berharap, masyarakat bisa mewaspadai terhadap perubahan cuaca yang ekstrem ini. Sejak awal Juli, RSUD telah menangani 24 pasien diare.  

Selain diare, papar Yustandi, penyakit lain yang berada di urutan berikutnya adalah ispa dan asma. Jenis-jenis penyakit ini, terang Yustandi, memang sering meningkat saat datangnya musim kemarau. Faktor air dan makanan yang tidak higienis, serta debu dan asap, menjadi penyebabnya.
 

“Meski masih dalam batas wajar, tapi grafiknya terus naik. Kita harapkan masyarakat waspada. Terapkan pola hidup bersih. Kunci utama jangan lupa cuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh makanan,” pintanya.   Diare, kata Yusnandi sangat mudah menular melalui makanan. Karena itu ia juga berpesan agar para orang tua bisa mengawasi anak-anaknya.  

Bupati Sintang, Jarot Winarno juga mengimbau para petugas di seluruh Puskesmas, waspada dengan bahaya diare saat kemarau menjelang. Petugas diminta untuk mengingatkan warga agar tahu hal-hal apa saja yang jadi penyebab timbulnya penyakit ini.  

“Musim kemarau ini kondisi air kita sangat buruk, karena itu saya minta petugas di setiap Puskesmas untuk mengingatkan warga, tentang tata cara menangkal diare,” kata Jarot.   Jarot meminta petugas kesehatan benar-benar mengawasi dan mengantisipasi penyakit diare sepanjang musim kemarau ini. Menurutnya,m harus zero death rate. Jangan sampai ada kasus kematian karena diare di Sintang.  

“Petugas siapkan infus dalam jumlah yang cukup. Mari kita antisipasi meningkatnya penyakit ini, jangan sampai ada korban,” pungkasnya. (nak/mul)
 

Komentar