BMKG Sintang Prediksi Hujan Hingga 18 September

Sintang

Editor Tajil Atifin Dibaca : 999

BMKG Sintang Prediksi Hujan Hingga 18 September
ilustrasi
SINTANG, SP - Pihak Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas III Bandara Susilo memprediksi hujan dengan intensitas sedang dan lebat kan mengguyur wilayah Kabupaten Sintang di pekan kedua, mulai 12-18 September 2017.

Prakirawan Stasiun BMKG Kelas III Susilo Sintang, Bhilda Maulida saat ditemui Suara Pemred, Rabu (13/9) siang, menerangkan berdasarkan pantauan citra satelit, bahwa secara umum pada tanggal 12-18 September kondisi langit cukup berawan namun hujan dipastikan akan turun pada sore hingga malam hari.

“Sejak tanggal 12 September kemarin, siang seperti ini berawan dan hujan ringan. Namun, mulai sore sampai malam berpotensi hujan sedang hingga deras yang disertai guntur dan kilat,” ujarnya.

Bhilda menjelaskan curah hujan ringan berada di rentang 0,1-5,0 milimeter (mm) per jam atau 5-20 mm per hari. Sedangkan curah hujan sedang berkisar antara 5-10 mm perjam atau 20-50 mm per hari. “Kalau curah hujan lebat itu sekitar 10-20 mm per jam atau 50-100 mm per hari.

Ada lagi  curah hujan sangat lebat itu lebih dari 20 mm per jam atau lebih dari 100 mm per hari hujan sangat lebat,” terangnya.

Kondisi cuaca ini, kata Bhilda akibat dipengaruhi adanya belokan angin pada ketinggian 3.000 feet di sekitar wilayah Kalimantan Barat, terutama di pesisir. Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan hujan.

“Kecepatan angin sedang sekitar 3-15 Knot mulai 12-14 September 2017. Ada potensi mencapai 15 knot, namun case seperti itu jarang terjadi,” katanya.

Meski informasi prakiraan cuaca telah ada, namun Bhilda menegaskan kemungkinan perubahan cuaca sewaktu-waktu dapat berubah dengan cepat. Ia mencontohkan kasus yang terjadi pada Selasa (12/9) sore kemarin, yang menyebabkan pesawat Kalstar dari Bandara Supadio Pontianak gagal berangkat menuju Bandar Susilo Sintang.  

“Kondisi cuaca kemarin itu, kami perhatikan di citra satelit ada satu sel awan tumbuh di daerah Sintang. Belum sempat selesai dan habis, ada awan daerah lain yang bergerak mengikuti arah angin dan menyatu,” tuturnya.

Keadaan tersebut memicu awan-awan itu terakumulasi menjadi awan comulonimbus. Sehingga, kumpulan awan-awan yang menjadi besar ini berpotensi menghasilkan guntur dan petir. Situasi ini jelas membahayakan penerbangan.

“Kondisi cuaca yang seperti ini selalu kita sampaikan dan koordinasikan dengan pihak Air Traffic Control (ATC) untuk selanjutnya diteruskan ke pilot yang akan berangkat. Dari hasil itu juga pilot menentukan apakah penerbangan dilanjutkan atau tidak,” pungkasnya. (nak/pul)