Penghuni Hutan Wisata Baning Mulai Jarang Terlihat

Sintang

Editor Kiwi Dibaca : 707

Penghuni Hutan Wisata Baning Mulai Jarang Terlihat
BERAYUNAN - Monyet merah atau yang biasa disebut Kelasi sedang berayunan di pohon- pohon di sekitar pinggiran jalan hutan wisata Baning. Keberadaan mereka kini mulai jarang terlihat di lokasi tersebut.
SINTANG, SP - Bagi warga kota Sintang, melihat keberadaan monyet merah atau yang biasa disebut kelasi di sekitar pinggiran jalan hutan wisata Baning memang bukanlah hal mengherankan. Setiap pagi gerombolan monyet ini acapkali bertenger di pepohonan pinggir jalan sekitar rumah warga setempat, seakan tak peduli dengan hiruk piruk arus lalu lintas di sekitarnya.

Namun ada yang berubah sejak sebulan terakhir, hewan yang dalam bahasa latinnya disebut Presbitys Rubicunda ini hampir tak pernah lagi terlihat bergerombol mencari makan di sekitar Jalan Kelam tempat biasa mereka biasa dijumpai asik memetik dan mengunyah daun favoritnya yang tumbuh di sekitar tempat itu.


Menurut Agus, salah satu warga yang kerap melintas di jalan tersebut dirinya memang sudah sebulan tak melihat hewan tersebut sebagaimana biasanya. Padahal dulu kata Agus setiap kali melintas terutama dari pagi hingga siang pasti ada saja melihat gerombolan kelasi ini.

“Sudah hampir sebulanlah kayaknya tak pernah melihat lagi. Sebelumnya gerombolan kelasi ini ada saja kedapatan makan dedaunan di pinggir jalan,” ujarnya kepada Suara Pemred.
Namun hal berbeda didapati Senin (30/10) pagi. Seekor kelasi ditemukan tewas dan diduga kuat mengalamai kesetrum tali kabel listrik tengangan tinggi.

 Hal ini cukup memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya dialami oleh para kelasi ini. Menyikapi hal tersebut, Suara Pemred langsung menemui Kepala Seksi Konservasi  BKSDA Wilayah II Sintang, Bharata Sibarani yang kala itu sedang menyelidiki serta melakukan visum tarhadap bangkai kelasi.

Dari hasil pemeriksaan memang ditemui adanya luka bakar di tubuh sang monyet merah ini, diduga kuat memang mengalami sengatan listrik. Apalagi posisi ditemukannya tepat berada dibawah tiang listrik. Namun sebagai langkah antispasi terhadap kemungkinan hewan tersebut terkena penyakit dan sebagainya, maka diperintahkan untuk melakukan pembakaran terhadap bangkai hewan tersebut.

 Bharata juga menuturkan bahwa hewan-hewan tersebut juga kemungkinan besar mengalami maslah dengan sumber makanan yang mulai menipis di dalam hutan wisata. “Karena kita juga ada menerima laporan warga bahwa kelasi ini menyerang kebun jagung mereka, maka dugaan kita memang mereka mengalami masalah dengan ketersedian sumber makanan,” terangnya.

Kondisi ini jelas dipengaruhi penambahan populasi hewan tersebut dalam setahun terakhir. Menurut Bharata sejak dirinya dipercaya sebagai Kepala Seksi Konservasi  BKSDA Wilayah II Sintang, ia tegas terhadap upaya-upaya perburuan dan pemeliharaan hewan yang dinyatakan dilindungi berdasarkan undang-undang.

“Kalau dibandingkan dengan awal-awal saya di sini dulu, jumlahnya jauh meningkat. Dulunya hanya 5-6 ekor sering menampakan diri, sekarang sudah gerombolan bahkan ada yang mengendong anak-anaknya,” ujar Bharata. Sebagai upaya untuk mengatasi hal tersebut, Bharata berinisiatif untuk untuk meminta bibit buah kepada Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) di Nanga Pinoh untuk ditanam disekitar hutan wisata Baning, supaya kebutuhan akan suplay makanan tetap tersedia.

“Rencanaya dalam dua atau tiga hari saya akan ke sana, Bibit buah yang kita minta nantipun tidak asal, melainkan yang sesuai dengan habitat asli hewan ini,” ungkapnya. Bharata tidak ingin permasalahan kurang tersedianya bahan makanan membuat hewan-hewan tersebut kemudian menyerang kebun warga sehingga menimbulkan konflik. Saat ini yang paling tepat menurut Bharata adalah pisang karena bisa tumbuh dan menghasilkan buah dengan cepat.

“Nanti akan kita tanam sepanjang tepi hutan tempat mereka biasa mencari makan di Jalan Kelam itu,” imbuhnya. Meski selama ini kelasi-kelasi tersebut tidak pernah bermasalah dengan warga di sekitar tepi hutan, namun jika menyerang perkebunan menurut Bharata itu kan menjadi cerita lain.

“Kalau untuk warga sekitar Jalan Kelam itu tidak ada masalah, kesadarannya sudah cukup tinggi, bahkan mereka biasa menyediakn pisang. Tapi kalau menyerang kebun itu bisa berbahaya dan memicu konflik,” pungkasnya. (nak/pul)