Rabu, 18 September 2019


Sintang Antisipasi Bahaya Karhutla

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 480
Sintang Antisipasi Bahaya Karhutla

SOSIALISASI - Imbauan dari pihak kepolisian tentang bahayanya membakar hutan dan lahan. Kepolisian Sintang terus meningkatkan sosialisasi antisipasi Karhutla tersebut, agar di Sintang tak lagi ditemukan Karhutla. (SP/Tantra)

Polisi Tingkatkan Sosialisasi


Kapolres Sintang, AKBP Sudarmin 
"Kita diperintahkan langsung oleh Bapak Jokowi agar di masing-masing daerahnya, jangan sampai terjadi Karhutla. Apalagi Sintang termasuk daerah yang rawan Karhutla"

SINTANG, SP -  Mendekati Iklim kemarau, jajaran Polres Sintang mulai meningkatkan sosialiasi, pengecekan embung (kanal air) dan aktifkan Pasukan Peleton Desa (Tonsa).      

Kapolres Sintang, AKBP Sudarmin mengatakan, beberapa waktu lalu ia bersama Bupati Sintang dan Dandim 1205/Stg diundang langsung ke Istana Presiden untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Kita diperintahkan langsung oleh Bapak Jokowi agar di masing-masing daerahnya, jangan sampai terjadi Karhutla. Apalagi Sintang termasuk daerah yang rawan Karhutla," ujar Kapolres, Minggu (18/2).

Dikatakan Kapolres, bahwa Senin (19/2) pukul 07.00 WIB, para Kapolsek jajaran Polres Sintang akan mengikuti rakor di Aula Makodam XII/TPR Pontianak tentang masalah Karhutla. Tentu itu salah satu bagian untuk mengantisipasi Karhutla.

"Sejak beberapa hari terakhir ini cuaca di Sintang sudah mulai panas dan tidak ada turun hujan. Karena itu, saya mengimbau para perusahaan dan masyarakat agar peduli  dengan cara mengantisipasi karhutla secara bersinergi," terangnya. 

Kapolres mengatakan, bahwa memang di tahun 2017 lalu, di Kabupaten Sintang masih terdapat beberapa titik api. Ia berharap, disepanjang tahun 2018 ini sudah tidak ada lagi ditemukan titik api. 

"Kalaupun ada titik api, kita mulai dari pleton desa, yaitu pleton siaga api yang kita buat bersama Kodim. Saya harap Pleton desa ini betul-betul kita manfaatkan untuk sosialisasi patroli daerah rawan Karhutla," jelasnya. 

Dikatakan Kapolres, bahwa jika ditemukan ada masyarakat atau sekelompok orang yang sengaja melakukan pembakaran hutan, pihaknya akan bertindak tegas dan menjatuhkan sanksi pidana. 

"Sanksi Pidana kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan sudah cukup jelas, untuk itu diharapkan semua pihak agar menyikapinya dengan serius, dan jangan coba-coba untuk melakukan pembakaran," tegas Sudarmin.

Sementara itu, Bupati Sintang, Jarot Winarno mengimbau masyarakat tidak lagi membakar ladang. Dia menyarankan agar masyarakat memaksimalkan potensi pembersihan lahan lainnya, misalnya dengan cara ditebas dan disemprot.  

“Jangan lagi bakar ladang. Cari cara lain, misalnya dengan mengolah kebun, tanam sahang, yang ada sawah tanam padi. Tanpa harus membakar lahan,” kata Jarot.   

Untuk mencegah kebakaran lahan, Jarot juga berpesan pada aparat desa, agar membuat embung. Selain berfungsi untuk cadangan air saat musim kemarau dan irigasi sawah, embung juga dapat menjadi sumber air ketika terjadi peristiwa Karhutla. 

"Ada 34 desa yang ditetapkan rawan Karhutla di Kabupaten Sintang. Pemkab Sintang, kepolisian, TNI dan lainnya siap mengantisipasi terjadinya Karhutla di desa-desa tersebut. Andaikan desa binaannya dari perusahaan perkebunan, kita minta pihak perkebunan untuk membuat desa siaga api di 34 desa ini,” pinta Jarot.

Siapkan Langkah Penanganan


SEKRETARIS Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang, Kusba mengatakan, pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah untuk penanganan Karhutla.

"Sebagaimana komitmen Pemkab Sintang, yang telah menyatakan siapa antisipasi Karhutla sejak awal tahun. Maka dari itu kita pasti telah siapkan langkah-langkah untuk itu," ujarnya.

Masyarakat dikatakan Kusba, juga diminta segera memberikan laporan jika terjadi kebakaran lahan pada aparat di tingkat desa, kecamatan agar segera ditangani.

"Petugas kami di sini selalu berkoordinasi Manggala Agni, Basarnas, Dinas Lingkungan Hidup, TNI, dan Polri. Sehingga dalam penanganannya ini kita terpadu dan menyeluruh agar hasilnya maksimal," pungkasnya. (tra/pul)