Angka Kemiskinan di Sintang Meningkat, Faktor Penyebab Terjadinya Stunting

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 424

Angka Kemiskinan di Sintang Meningkat, Faktor Penyebab Terjadinya Stunting
SOSIALISASI - Bupati Sintang, saat memberikan materi pada kegiatan sosialisasi Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG), di Rumah Dinas Wakil Bupati Sintang, kemarin. (SP/Tantra)
Bupati Sintang, Jarot Winarno
"Angka stunting di Kalbar sebesar 44 persen dari total penduduknya. Data ini menggambarkan bagaimana semua pihak harus bisa menangani permasalahan gizi dan pangan pada anak-anak, seperti memberikan asupan gizi yang baik pada 1.000 hari pertama kelahirannya" 

SINTANG, SP - Tingkat kemiskinan di Kabupaten Sintang cenderung naik. Angka kemiskinan dari 10,12 menjadi 10,20 atau sekitar 0,8 persen dari total penduduk di Kabupaten Sintang, ini menjadi salah satu faktor terjadinya stunting di daerah ini. 

Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, perlu ada kerja sama dengan semua pihak untuk terus menekan angka stunting ini dengan program penanganan gizi.

“Masyarakat juga perlu menyadari, bahwa program gizi masyarakat melalui bidang kesehatan secara teoritis hanya berkontribusi sebanyak 30 persen dalam menurunkan angka stunting. Tentu ke depan programnya harus interpenal gizi secara spesifik,” ujar Jarot, pada kegiatana sosialisasi Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) di Rumah Dinas Wakil Bupati Sintang, kemarin. 

Menurut Jarot, kerja sama antara Pemkab Sintang dengan semua pihak, dapat membantu pemerintah mensukseskan aksi daerah pangan dan gizi dengan baik. Dia menegaskan, secara global, komitmen pertama ialah stunting. Faktor penyebab utama stunting ini dari kemiskinan. 

"Angka stunting di Kalbar sebesar 44 persen dari total penduduknya. Data ini menggambarkan bagaimana semua pihak harus bisa menangani permasalahan gizi dan pangan pada anak-anak, seperti memberikan asupan gizi yang baik pada 1.000 hari pertama kelahirannya," terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Harysinto Linoh mengatakan, pihaknya sudah mengkampanyekan stunting sejak tiga tahun yang lalu. Dikatakan Sinto, stunting ini, karena ada ketidaksesuaian antara tinggi badan dengan umur.

"Berdasarkan PSG Nasional, jumlah kasus stunting di Sintang ada 44,1 persen. Jadi dari 100 balita di Sintang, ada 44 yang stunting," singkatnya.

Bangun Komitmen Bersama


KEPALA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sintang, Kartiyus mengatakan, Pemkab Sintang ingin terus membangun komitmen bersama untuk pembangunan pangan dan gizi di Kabupaten Sintang.

Dikatakan Kartiyus, setiap sosialisasi masalah stunting, pihaknya selalu menyampaikan prinsip-prinsip dasar RAD-PG. Kebijakan nasional penanganan stunting di Kabupaten Sintang, kebijakan strategis pangan dan gizi.

"Pada 28 Maret 2018, Kabupaten Sintang dipercaya menjadi pembicara utama pada kegiatan Summit Stunting yang diselenggarakan Bappenas di Hotel Borobudur, Jakarta. Kegiatan itu akan dihadiri 137 kabupaten/kota dari seluruh Indonesia," terangnya.

Dirinya yang mewakili Pemerintah Kabupaten Sintang, akan menyampaikan bahwa komitmen pemimpin daerah dalam pencegahan stunting sangat tinggi.

"Karena program apapun, jika pemimpin tidak komit maka tidak ada sinergitas. Apalagi pencegahan stunting ini melibatkan banyak stakeholder dan juga masyarakat. Sehingga semuanya harus bekerjasama," pungkasnya. (tra/pul)