Ikan Kaleng Mengandung Cacing Beredar di Sintang, Diminta Tidak Memperjualbelikan

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 249

Ikan Kaleng Mengandung Cacing Beredar di Sintang, Diminta Tidak Memperjualbelikan
SIDAK - Disperindagkop dan UKM Sintang melakukan sidak kesjumlah toko di pasar Sintang. Produk ikan makarel kemasan kaleng mengandung cacing masih ditemukan beredar. (SP/Tantra)
Kepala Disperindagkop dan UKM Sintang, Sudirman
“Kami sudah mengimbau semua toko, untuk tidak menjualnya lagi,”

SINTANG, SP – Meski Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan  Republik Indonesia (BPOM) telah mengintruksikan kepada semua produsen ikan makarel kemasan  kaleng, yang ditemukan mengandung  cacing, menarik semua produksinya dari pasaran. Di Sintang, ikan makarel kemasan kaleng ini ternyata masih beredar.

Hal ini terungkap saat Dinas Perindusrtian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) dan UKM Kabupaten Sintang melakukan Inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah pasar dan swalayan di Kabupaten Sintang, Rabu (4/4).

Kepala Disperindagkop dan UKM Kabupaten Sintang, Sudirman mengatakan, pihaknya sudah melakukan sidak ke sejumlah pasar dan swalayan di Sintang, untuk memantau peredaran ikan makarelkemasan kaleng yang disinyalir mengandung cacing.

" Hasil dari sidak itu, kami menemukan sejumlah merek dari ikan makarel kemasan kaleng masih dijual di toko-toko,” kata Sudirman.

Sudirman menjelaskan, pada sidak itu, pihaknya menyisir sejumlah toko modern dan toko tradisional serta agen sembako di Pasar Sungai Durian dan Pasar Tanjungpuri.  Hasilnya hampir semua  toko menjual ikan makarel kaleng yang mengandung cacing tersebut. Ikan makarel kemasan kaleng, yang paling banyak ditemukan ialah merek Botan, ABC dan Gaga. Dari hasil temuan itu pihaknya meminta kepada pihak toko untuk tidak memperjualbelikannya lagi.

“Kami sudah mengimbau semua toko, untuk tidak menjualnya lagi,” tegasnya.

Dikatakannya, lantaran fungsi pengawasan peredaran barang ini merupakan kewenangan dari Pemprov Kalbar. Maka, ia pun meminta Pemprov Kalbar untuk turut mengawasi peredaran ikan makarel kemasan kaleng yang mengandung cacing ini.

Anton, anggota DPRD Sintang, Kusnadi mengharapkan,  pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan Pemprov dan Pempus untuk meminta kejelasan mengenai ikan kalengan ini, sehingga tak menimbulkan kekhawatiran berlebihan dimasyarakat.

“Sebisa mungkin segera diperjelas, bahaya atau tidak ikan tersebut dikomsumsi. Merek ikan makarel kalengan apa saja yang bisa maupun tidak dapat dikomsumsi,” tuturnya.

Mengenai peredaran ikan kalengan tersebut, legislatif  dapil Sepauk ini juga mengimbau, agar distributor tidak lagi menyalurkan ikan makarel kalengan mengandung cacing ke daerah pedalaman.

“Warga di daerah pedalaman mungkin akan telat mendapatkan informasi ini, saya minta distributor tidak menyalurkan ke pedalaman sampai ada legal formal yang benar-benar jelas,” pintanya.
 
Produsen Harus Disanksi 

Anggota DPRD Kabupaten Sintang lainnya, Anton mendesak BPOM RI serius menangani kasus ikan makarel kemasan  kaleng mengandung cacing ini. BPOM RI harus memberikan sanksi kepada produsen.

“Jangan hanya diminta menarik semua produknya saja. Tapi berikan sanksi hukum yang tegas, agar ada efek jera bagi produsen,” desaknya.

Ia berharap, BPOM RI benar-benar memberikan perlindungan pada konsumen dari makanan dan obat-obatan terlarang. BPOM harus selalu mengecek produk produk makanan dan obat-obatan yang beredar. 

“Harus selalu dicek. Bahkan pantau proses produksinya hingga ke pabrik. Awasi dengan ketat agar konsumen terlindungi,” pintanya. (tan/jek)