Senin, 23 September 2019


Petani di Kaki Bukit Kelam Butuh Irigasi untuk Pengairan Sawah

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 732
Petani di Kaki Bukit Kelam Butuh Irigasi untuk Pengairan Sawah

Hamparan sawah di Kaki Bukit Kelam. (Ist)

SINTANG, SP - Desa Merpak, Kecamatan Kelam adalah salah satu desa di kaki Bukit Kelam yang memiliki hamparan sawah cukup luas. Namun, luasnya hamparan sawah itu ternyata belum mampu menghasilkan padi yang maksimal. Penyebabnya, karena sawah di sana merupakan sawah tadah hujan.

“Lahan sawah di desa ini cukup luas yakni mencapai 180 hektar. Hanya kelemahannya banyak. Saluran irigasi kurang. Di sini masih gunakan sawah tadah hujan. Sehingga musim kemarau padi kurang subur," kata Kepala Desa Merpak, Kardius, Minggu (1/7).

Dikatakan Kardius, Desa Merpak sudah ditetapkan sebagai desa agro wisata. Potensi wisata dan pertanian sangat potensial untuk dikembangkan. Di Kelam Permai ada tujuh desa yang punya lahan sawah sangat luas dan ditetapkan sebagai kawasan agro wisata.

“Sebagai besar mata pencarian penduduknya juga memang bertani. Selain tani karet, masyarakat bersawah.  Dalam satu tahun mereka dua kali panen,” ujarnya.

Tahun ini, tujuh desa di Kelam Permai sudah membangun BUMdes bersama. Namanya Kelutap Bersatu. Dengan adanya BUMDes ini, diharapkan masyarakat rajin bersawah. Sehingga produksi padi dapat dijual ke pasar.

Selama ini, hasil sawah hanya untuk memenuhi kebutuhan masing masing keluarga. Kalau BUMDes bersama berjalan, dia yakin banyak masyarakat yang mau jual beras. Karena ada yang menampungnya. Sekarang mereka bingung mau jual kemana.

"Masyarakat di sini ingin  panen setahun 3 kali. Tapi karena sawah tadah hujan jadi sulit. Kami butuh pembangunan irigasi, racun hama dan pupuk," katanya.

Di Kelam, mata air cukup besar tapi karena tidak ada pengaturan, jadi airnya mengalir tidak terarah.

"Airnya tidak  mengarah ke sawah semua. Kalau pengairan bisa diatur hasil bisa lebih tinggi. Mungkin bisa 3 ton per hektar. Sekarang hanya dua ton. Jika tidak ada hujan tanah kering dan padi kurang subur," katanya.

Warga Desa Kelam Sejahtera, Paulus Jon juga mengeluhkan belum adanya irigasi dan sulitnya mendapatkan pupuk dan racun, sehingga membuat sawah mereka tidak maksimal dalam produksi.

"Belum cukup untuk makan setahun hasilnya. Karena banyak hama dan pupuk pun tidak ada," katanya.

Dikatakannya, dia yang memiliki sawah setengah hektar hanya mampu panen paling tinggi 500 kuintal sekali panen.

Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, problem yang dihadapi di daerah saat ini, yaitu permasalahan tingkat produktivitas pertanian swadaya yang masih sangat rendah.

”Kalau dilihat dari target, hasil produksi pertanian secara nasional rata-rata 6 ton per hektar. Sementara hasil produksi pertanian di Kabupaten Sintang masih kurang, yaitu hanya 2 hingga 3 ton per hektar setiap bulannya. Masih jauh dari target,” terang Jarot.

Dikatakan Jarot, dengan hasil pertanian yang masih kurang, sangat diperlukan pengkajian yang serius dari dinas terkait.

“Cari apa penyebabnya, apakah disebabkan kualitas benih atau budidaya lahan. Termasuk tanaman yang kurang sesuai dengan kultur kondisi lahan yang ada di Sintang,” katanya. (tra)