Gawai Dayak di Desa Pakak, Askiman Minta Urang Dayak Lestarikan Budaya

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 191

Gawai Dayak di Desa Pakak, Askiman Minta Urang Dayak Lestarikan Budaya
POTONG OMPONG – Wakil Bupati Sintang, Askiman memotong ompong yang dibuat warga Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang. Kedatangan Askiman di sana memenuhi undangan warga menghadiri acara Gawai Dayak. (Ist)
Hari menjelang sore ketika mobil double gardan yang ditumpangi Wakil Bupati Sintang, Askiman tiba di Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, kemarin. Kedatangan Askiman ke desa ini untuk menghadiri Dawai Dayak.

SP - Perjalanan menuju Desa Pakak bukan perkara gampang. Kondisi jalan poros menuju lokasi desa kondisinya rusak. Kendaraan rombongan beberapa kali terbenam. Alat berat pun diturunkan untuk mengeluarkan mobil.

Sesampai di lokasi, rombongan disambut tarian adat yang dibawakan beberapa tetua kampung. Sejumlah anak dara berpakaian adat setempat ikut menari. Usai memotong ompong di gerbang yang dibuat warga, rombongan menuju ke balai pertemuan dusun.

Bunyi gemerincing manik dan gerunung pada pakaian adat yang dikenakan sejumlah besar warga, disertai tabuhan gong bertalu-talu mengiringi perjalanan rombongan menuju balai dusun.
 
Di sana, Askiman didaulat pemuka adat membuka Tempayan Tuak Pemali. Tuak kemudian diminum dari mangkuk di dalam Petung atau Pekejang. Prosesi minum tuak gawai diiringi lantunan lagu hikayat kuno, bekana oleh beberapa tua-tua kampung.
 
Acara kemudian dilanjutkan meninjau bilik benih semengat padi. Bilik ini berupa rak kayu yang ditutup kain tenun. Di rak-rak ditaruh cupai (sejenis wadah yang dianyam dari rotan) berisi benih yang dimiliki masyarakat.

Benih-benih itu sudah ditaruh sejak sehari sebelumnya dan didoakan menurut tradisi Kaharingan yang berlaku di masyarakat Dayak sub suku Desa. Doa dipanjatkan meminta berkat dari leluhur pada musim tanam selanjutnya.

Saat berdialog dengan masyarakat, Askiman meminta masyarakat desa agar terus melestarikan budaya yang dimiliki.

“Kita harus melestarikan semua yang kita miliki sebagai Urang Dayak. Ini tradisi kita, warisan dari nenek moyang kita,” ujar Askiman.

Askiman berharap ke depannya bisa dibangun Rumah Betang di Desa Pakak untuk menyimpan segala hal yang bersifat budaya, agar bisa dilihat anak cucu dan orang-orang yang berkunjung ke Desa Pakak.

Sementara Ketua Pelaksana Dawai Adat di Desa Pakak, Becak berbagai kegiatan digelar dalam pelaksanaan gawai yang digelar tahun ini.

“Ada acara ‘ngumpan pulang gana’, ada ‘ngamik semengat padi’ juga hiburan rakyat berupa organ tunggal,” ungkap Becak.

Selama pelaksanaan gawai, dikatakan Becak, panitia juga menetapkan aturan. Ini agar pelaksanaan gawai berjalan tertib dan aman.

“Kami menerapkan beberapa sanksi adat terkait pelanggaran terhadap keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat selama kegiatan gawai,” tutupnya. (humas/jee)