Jarot Paparkan Potensi Investasi Sintang, Dubes Kamboja Hadir Kelam Festinvest 2018

Sintang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 469

Jarot Paparkan Potensi Investasi Sintang, Dubes Kamboja Hadir Kelam Festinvest 2018
LOMBA LAYANG-LAYANG – Peserta yang ikut ambil bagian dalam lomba layang-layang dalam pembukaan Kelam Festinvest 2018 di Lapangan Bola Desa Merpak, Kecamatan Kelam Permai. Berbagai tamu undangan dari dalam dan luar negeri hadir di acara ini. (SP/Endang Kus
Bupati Sintang, Jarot Winarno
"Hanya berjarak kurang dari 500 meter dari tempat ini, kita memiliki Hutan Wisata Baning. Sintang juga memiliki taman wisata Bukit Kelam. Kemudian kita memiliki desa budaya"

SINTANG, SP - Salah satu rangkaian kegiatan Kelam Festinvest 2018 yang diselenggarkan pada 14 – 18 Juli adalah Business Forum. Kegiatan ini dihadiri sejumlah narasumber dari skala nasional maupun internasional, Selasa (17/7).

Dari level nasional menghadirkan Broto Probohascaryo dari Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pusat, Agus Suwondo dari Direktur Fasilitasi Promosi Daerah  BKPM RI region Sumatera dan Kalimantan, Mubarik Ahmad dari Lembaga Conservation Strategy Fund (CSF) dan Sadtata N, Kepala BKSDA Kalbar dan dari tingkat internasional secara khusus hadir duta besar Kamboja untuk Indonesia Mr. H.E Nor Nam Bora. 

Bupati Sintang, Jarot Winarno dalam pertemuan memaparkan berbagai potensi di Sintang. Menurutnya Sintang sebagai salah satu paru-parunya dunia, memiliki luasan kurang lebih 21 ribu kilometer persegi. Dari luasan wilayah tersebut, 59 persen di antaranya adalah kawasan hutan. Baik hutan lindung, hutan wisata, hutan produksi maupun hutan tanaman Industri.

“Hanya berjarak kurang dari 500 meter dari tempat ini, kita memiliki Hutan Wisata Baning. Sintang juga memiliki taman wisata Bukit Kelam. Kemudian kita memiliki desa budaya,” bebernya.

Lebih lanjut  Jarot menjelaskan, dari sisa luasan kawasan hutan atau sekitar 41 persen dari luas sintang, sekitar 500 ribu hektare pernah diberikan konsesi untuk pengembangan tanaman kelapa sawit.

Tapi dari luasan konsesi itu, baru 170 ribu hektare saja. Di kawasan non forest banyak kawasan ekosistem yang perlu mendapatkan perhatian khusus, antara lain kawasan gambut dan kawasan sumber air minum. Salah satunya sumber air di kawasan Bukit Saran yang akan dijadikan sumber air minum di Sintang yang jaraknya sekitar 89 kilometer. 

“Di kawasan Taman Nasional Bukit Kelam banyak potensi yang bisa digarap. Sampai hari ini, di sana belum ada hotel atau fasilitas lain. Masih banyak potensi wisata yang begitu besar. Tapi masih ada 49 persen dari seluruh desa di Sintang yang belum dialiri listrik,” jelas Jarot.

Menurutnya Pemkab Sintang pasti memberikan iklim investasi yang bagus bagi siapa saja yang ingin berinvestasi di Sintang.

“Pemerintah Sintang pasti memberikan iklim yang baik untuk Investasi. Silakan, ada empat potensi yang bisa dipilih. Sintang punya keunggulan dan akan memberikan kemudahan. Sastinya Sintang aman dan pasti kita bantu,” yakin Jarot.

Mubariq Ahmad dari lembaga Conservation Strategic Fund (CSF) menjelaskan, Sintang merupakan satu dari 560 kabupaten di Indonesia yang telah berkomitmen menjadi kabupaten lestari atau green kabupaten.

“Komitmen ini adalah komitmen yang sangat luar biasa, dan sejauh ini baru ada 15 kabupaten yang sudah berkomitmen  salah satunya adalah Sintang,”ujarnya. 

Menurut Mubariq, komitmen kabupaten Lestari merupakan sebuah orietasi jangka panjang, oleh karena itu perlu dipastikan pula tentang daya dukung seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, tatanan sosial dan layanan pengelolaan ekosistim.

Daya dukung tersebut menurutnya yang akan mendukung keberlanjutan tidak hanya dari sisi ekonomi. “Namun jika daya dukung tersebut terjaga dan terus lestari bahwa keberlanjutan ekonomi juga akan terdukung dan pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat juga akan tercapai,”ujarnya.

Dubes Kamboja Saran Bikin Kegiatan di Jakarta

Duta besar Kamboja, H.E Nor Nam Bora mengatakan di negaranya, pemerintah selalu mengajak dan mendorong masyarakat untuk menjemput perubahan. Bahkan menurutnya ada masa-masa di mana masyarakat harus rela berkorban untuk perkembangan pembangunan di Kamboja. 

“Di Kamboja ada dilaksanakan Festival Sungai. Kemudian dilaksanakan juga pasar malam. Pada momen pasar malam ini, masyarakat berkesempatan memasarkan berbagai produk baik kuliner maupun kerajinan, yang paling penting kegiatan itu harus mengundang tamu dari luar sebanyak-banyaknya,” jelasnya.

Menurut H.E Nor Nam Bora, pada Festival Sungai hampir semua duta besar dari negara Asean diundang. Dari situ penawaran investasi pariwisata mulai dilakukan. Semua provinsi di Kamboja juga dilibatkan dan hadir dalam festival sungai untuk mempromosikan potensi di wilayahnya. 

Ia menyarankan agar Pemkab Sintang juga membuat kegiatan yang menyesuiakan dengan agenda di Jakarta atau mengadakan kegiatan di sana. Kemudian Sintang juga bisa membuatkan rute pariwisata yang bisa ditawarkan ke pihak luar.

“Dengan demikian mereka akan datang dengan biaya transportasi sendiri, menginap dengan biaya sendiri dan Sintang hanya cukup mempersiapkan menyambut dan memberikan layanan,” sarannya. 

Rangkaian kegiatan Kelam festinvest 2018 diawali dengan kegiatan pembukaan lomba layang-layang yang dilaksanakan di Lapangan Bola Desa Merpak, Kecamatan Kelam Permai yang berada di bawah kaki bukit kelam. Sementara di Kota Sintang yang dipusatkan di salah satu hotel dengan menggelar business forum dan pameran fotografi. (end/jee)