Kamis, 19 September 2019


PGD VI Kabupaten Sintang (Bagian 2, Selesai), Mempersatukan Semua Etnis Lewat Budaya

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 313
PGD VI Kabupaten Sintang (Bagian 2, Selesai), Mempersatukan Semua Etnis Lewat Budaya

GAWAI DAYAK – Bupati Sintang, Jarot Winarno secara resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) VI Kabupaten Sintang, Senin (16/7). PGD ini disebutkan sebagai momentum pemersatu semua etnis di Sintang. (Ist)

Pekan Gawai Dayak (PGD) VI Kabupaten Sintang, dibuka Senin (17/7) di GOR Baning Sintang. Kegiatan yang diresmikan langsung oleh Bupati Sintang, Jarot Winarno, dianggap sangat relevan dengan kondisi masyarakat Kalimantan Barat yang sangat majemuk.   

SP - Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, Jefray Edward dalam kesempatan tersebut menyebutkan, keberadaan suku bangsa tidak hanya harus diterima namun juga harus dipelihara sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. 

“Sesuai dengan semboyan bangsa kita Bhineka Tunggal Ika yang memang harus kita pertahankan selama-lamanya,“ katanya, kemarin.

Jefray yang juga Ketua DPRD Sintang ini mengatakan, hingga saat ini ia dan masyarakat Dayak Sintang masih sangat merindukan pelaksanaan gawai Dayak di rumah adat atau rumah panjang. 

“Sebagai Ketua DPRD Sintang, saya siap mengesahkan pengganggaran untuk penyelesaian pembanguan rumah panjang atau rumah adat di Sintang. Pak Bupati dan wakil bupati silahkan menganggarkannya,”ujarnya.

Panitia PGD VI, Yosef Sugianto dalam laporannya menjelaskan, kegiatan Gawai Dayak  akan dilaksanakan hingga tanggal 20 Juli mendatang. Setidaknya ada 16 jenis kegiatan yang akan dirangkai dalam sepekan pelaksanaannya.

Di antaranya pemilihan Bujang dan Dara Gawai, lomba menyanyikan lagu Dayak untuk beberapa kategori peserta, lomba menyumpit, lomba menumbuk padi sampai lomba menangkap babi. 

Pembukaan Gawai Dayak ditandai dengan ritual menyuling tuak pemali yang dilakukan oleh Bupati Sintang. Diikuti oleh sejumlah pimpinan Forkopimda. Hadir pula, Bupati Melawi, Panji, Duta Besar Kamboja dan sejumlah mitra kerja Pemkab Sintang dari unsur Non Goverment Organization (NGO). 

Setelah dilakukan ritual nyuling tuak pemali, dilanjutkan dengan tradisi besasu. Ritual pembukaan Gawai Dayak tahun ini, dilakukan  sesuai adat sub suku Dayak Seberuang. 

“Tahun ini ritual pembukaan memang menggunakan adat sub suku Dayak Seberuang. Tahun lalu kita menggelar dengan ritual sub suka Dayak Desah. Untuk tahun depan, nanti akan ditentukan lagi oleh panitia tahun depan,” jelas Yustinus, Panitia Gawai Dayak.
 
Tokoh masyarakat adat, Leonardus Mitjang ditemui di arena kegiatan, turut pula memberikan pesan kepada generasi penerus Dayak di Sintang. Dia mengomentari pertunjukan tari dari muda mudi Seberung yang bertajuk “Penyalah”. 

Tarian ini menggambarkan pengaruh perkembangan teknologi, khususnya HP yang memberikan pengaruh yang luar biasa. Mitjang mengingatkan agar masyarakat Dayak yang menggunakan handphone bisa lebih tahu diri. 

“Harus lebih tahu diri. Mengambil yang bermanfaat dan jangan meniru yang tidak baik. Karena semua orang sekarang bisa membuka apa saja dan mengetahui apa saja,” ujarnya.

Mitjang juga mengingatkan bahwa pelaksanaan Gawai Dayak juga hendaknya tidak memunculkan perbedaan, namun perbedaan yang ada harus mendorong persatuan. 

“Karena ini sesuai dengan yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa ini, yaitu Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya. 

Susan (25), gadis Dayak mengaku bagian dari sub suku Dayak Seberuang mengatakan bahwa Gawai Dayak baginya memiliki arti yang sangat penting. 

“Bagi saya, gawai ini merupakan ajang untuk menunjukkan identitas dan budaya Dayak. Di gawai ini juga, kita para anak muda ini seperti diberi pesan untuk terus melestarikan adat Dayak,” ujarnya. (endang/and)