Senin, 23 September 2019


Jarot Paparkan Konsep Tanam Sawit ke Perusahaan India

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 264
Jarot Paparkan Konsep Tanam Sawit ke Perusahaan India

Ilustrasi. (Net)

SINTANG, SP - Indian Palm Oil Delegation, perusahaan dari India berkunjung ke Sintang untuk mempelajari pengolahan kelapa sawit. Dalam lawatannya ke Sintang belum lama ini, delegasi India dipimpin Atul Chaturvedi yang menjabat CEO South and South East Asia Adani Wilmar. Turut hadir President Godrej Industries, Manajer Direktur Data Oils, Solidaridad Jakarta, Bupati Sintang, Jarot Winarno dan petani sawit di Sintang.

Bupati Sintang, Jarot Winarno dalam acara tersebut menjelaskan, Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit dan India merupakan konsumen terbesar di dunia,

“Rantai pasokan kelapa sawit di Indonesia itu sangat banyak, 58 persen sawit diproduksi dari perusahaan, dan 42 persen dikelola petani sawit mandiri, tentunya ini angka yang sangat besar,” kata Jarot. 

Dalam pertanian sawit, dikatakan Jarot, perlu diperhatikan beberapa hal, pertama tanah yang digunakan tidak boleh mengganggu lahan yang memiliki nilai konservasi tinggi, kawasan hutan tidak boleh dibuka untuk sawit, serta kawasan tangkapan air. Kedua membuka lahan pertanian sawit tidak boleh tebang dan bakar, dan ketiga menggunakan bibit yang baik dan pupuk yang ramah lingkungan seperti pestisida.

Menurut Jarot, di dunia saat ini, kelapa sawit hanya mampu menghasilkan tiga hingga empat ton perbulan, sedangkan targetnya harus menghasilkan enam hingga delapan ton perbulan.

“Dengan program sawit lestari, kita ingin menjadi produktifitas, pada akhirnya kita akan ikut berkontribusi dalam dunia persawitan, dan pembeli dari India datang mereka ingin membeli produk sawit yang terbaik, dan para petani inilah telah menunjukkan hasilnya,” ungkap Jarot.

Sementara delegasi dari India, Atul Chaturvedi melalui mengungkapkan tujuan Indian Palm Oil Delegation berkunjung ke Sintang untuk mempelajari cara mengembangkan sawit yang dilakukan petani sawit di Sintang.

“Kami sangat bangga karena petani disini sangat diprioritaskan, tetapi yang paling penting adalah negara tidak akan berkembang kalau petaninya tidak bisa maju,” kata Atul Chaturvedi. (hms/jee)