Komoditi Peternakan Sintang Masih Bergantung dari Luar

Sintang

Editor Jindan Dibaca : 421

Komoditi Peternakan Sintang Masih Bergantung dari Luar
Ilustrasi
SINTANG, SP - Kebutuhan komoditi peternakan di Sintang, sebagian besar dipasok dari luar kabupaten. 

Itu karena produktivitas yang belum mampu memenuhi secara penuh. Mulai dari komoditi daging sapi, ayam, serta telur.

"Hampir semua komoditi ternak didatangkan dari luar Sintang, baik itu sapi, kambing, ayam, dan telur," ungkap Kabid Peternakan Dinas Pertaian dan Perkebunan Sintang, Wiryono, Minggu (9/9).

Untuk kebutuhan sapi, dalam sehari dibutuhkan 6-8 ekor. Kebutuhan ini akan meningkat saat hari-hari besar, macam Idul Fitri maupuan Idul Adha. Wiryono mengatakan, 80 persen pasokan sapi di Sintang berasal dari luar kabupaten Sintang, selebihnya produksi lokal. 

"Ada yang mengambil dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pengusaha bilang kalau ambil dari sana biayanya lebih murah. Sapi dari sana ukurannya besar. Beratnya bisa mencapai 400-500 kg," katanya.

Meski produksi sapi lokal belum mampu mencukupi kebutuhan di daerah sendiri, namun pihaknya berupaya agar kebutuhan daging sapi di masyarakat tetap terpenuhi. Monitoring serta koordinasi intens dengan pengusaha terus dilakukan agar ketersediaan daging sapi terpenuhi. 

Adapun telur, lanjut dia, juga masih didominasi dari luar daerah. Hampir 100 persen kebutuhan telur di pasok dari Singkawang. Dalam sehari, kebutuhan telur di Sintang mencapai 15-20 ton. Kebutuhan itu akan melonjak saat hari-hari besar. Sementara produksi lokal hanya mampu memasok kurang lebih 200 kg per hari.

"Populasi ayam lokal kurang lebih 4500 ekor. Produksi telurnya hanya 200an kg per hari. Namun kami pastikan untuk kebutuhan di masyarakat stabil," sebutnya.

Berbeda dengan sapi dan telur, pasokan ayam dan kambing lebih banyak berasal dari produksi lokal. Untuk kebutuhan ayam, lanjut dia, Sintang telah membangun kemitraan yang melibatkan inti dan plasma. Hasilnya, 80 persen kebutuhan ayam di Sintang berasal dari lokal, sementara 20 persen di antaranya dipasok dari luar daerah.

"Per hari, kebutuhan ayam di Sintang mencapai 5000-6000 ekor," katanya.

Sementara itu untuk kebutuhan daging kambing, diakuinya tidak terlalu besar, layaknya kebutuhan daging ayam dan sapi. Dalam sehari saja, kebutuhannya hanya 3-4 ekor. Di beberapa daerah pun, menurutnya sudah mengembangkan ternak kambing, seperti di kecamatan Dedai. Hanya kebanyakan peternak kambing, memproduksi ternak ini untuk kebutuhan aqiqah. 

"Kebutuhan kambing relatif kecil. Peruntukannya lebih banyak untuk kepentingan aqiqah," tuturnya.

Wiryono mengatakan, apabila Sintang telah mampu mencukup kebutuhan komoditi ternaknya sendiri, maka dia meyakini harga-harga komoditi-komoditi tersebut akan jauh lebih murah. 

"Seperti daging sapi. Harga di Sintang ini cukup mahal karena stoknya dari luar," pungkasnya. (iat)