PGRI Pertanyakan Proses Hukum Pemukulan Guru

Sintang

Editor elgiants Dibaca : 82

PGRI Pertanyakan Proses Hukum Pemukulan Guru
DATANGI - Puluhan PGRI Sintang datangi Polsek Tebelian. Mereka mempertanyakan proses hukum warga yang memukul satu di antara guru SMP Negeri 1 Tebelian, Sintang. SENENTANGNEWS.COM
SINTANG, SP - Puluhan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sintang mendatangi Kepolisian Sektor (Polsek) Tebelian, kemarin.   Ketua PGRI Kabupaten Sintang, Usman Adi mengungkapkan, kedatangan puluhan PGRI Kabupaten Sintang ke Polsek Tebelian untuk mempertanyakan proses hukum salah satu warga yang melakukan pemukulan terhadap S, Guru Penjaskes di SMP Negeri 1 Tebelian, Sintang.

“Kita mau proses hukum berlangsung sesuai dengan hukum yang berlangsung, tidak boleh ada intervensi dari pihak-pihak lain. Intinya, PGRI ingin mengawal kasus ini sesuai dengan aturan,” ujarnya.


Usman pun menyampaikan bahwa pihaknya akan terus menunggu hasil pemeriksaan kesehatan dari pelaku S dan tindakan hukum yang akan diambil oleh pihak Kepolisian.
“Terkait masalah mental tersangka, kita menunggu hasil pemeriksaan kesehatan. Yang jelas, pihak kepolisian sudah berani menjamin bahwa tidak ada tindak kekerasan serupa yang dilakukan lagi oleh tersangka,” ungkapnya.

Sementara itu, korban pemukulan, satu di antara pendidik di sekolah tersebut, S, mengaku baru mengetahui bahwa oknum warga yang melakukan pemukulan tersebut merupakan keluarga satu di antara anak didiknya.
Menurut S, kejadian terjadi pada Selasa (6/3) lalu, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu, dirinya menilai praktek di lab.

Pelaku datang dan menanyakan apakah dirinya benar orang yang dimaksud.
"Belum sempat saya menjawab, pipi kanan saya ditampar, kemudian pipi kiri, kedua pipi saya, dan setelah itu ia meninju pipi saya. Saya emosi. Namun, karena di sana ada siswa, maka saya langsung memeluk pelaku untuk mengajaknya berbicara baik-baik,” paparnya.

Tak sampai di situ, lanjut S, pelaku juga menyeret dirinya ke tengah lapangan dan kembali memukuli dirinya, hingga akhirnya dilerai oleh guru-guru lain.
“Saya tak membalas karena saya mau siswa juga tidak mengikuti hal demikian. Karena saat itu, memang sedang jam belajar,” tuturnya.

Camat Tebelian, Bernard Saragih, mengajak seluruh anggota PGRI untuk bersama-sama mengawasi prosedur hukum yang berlangsung pada kasus pemukulan guru di SMP Negeri 1 Tebelian.
“Tak ditahannya pelaku karena alasan yang bisa kita terima. Jadi, mari kita bersama-sama untuk mengawasi agar semua berjalan sesuai koridor hukum,” ucapnya.

Pejabat Sementara Kanit Reskrim Polsek Tebelian, Bripka Siswo Kusumo mengatakan, pihaknya hanya mengamankan AD selama 1 x 24 jam dan melepaskan kembali pelaku pemukulan.
“Kejadian pagi, sore langsung kita jemput AD yang saat ini statusnya adalah tersangka. Namun karena alasan medis, maka kami lepaskan kembali. Mengenai kesehatan mentalnya, maka kami akan melakukan pemeriksaan melalui pihak yang berkompeten, namun tentunya memakan waktu,” pungkasnya. (sen/lha)

Minta Keterangan Tertulis Soal Gangguan Mental


Kepala SMP Negeri 1 Tebelian, Endang Purwantini, mengharapkan pihak kepolisian terus melakukan proses hukum terkait kasus pemukulan terhadap satu di antara guru yang bertugas di sekolah yang ia pimpin.


“Pemukulan terjadi di lingkungan sekolah pada jam belajar dan di depan peserta didik. Itu yang membuat kami tidak terima dengan hal ini dan meminta kepada pihak kepolisian terus melakukan proses hukum sesuai prosedur yang berlaku,” ujarnya.


Menurut Endang, sebelumnya, dirinya sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti komite sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sintang serta pengurus adat di daerah tersebut, agar bisa menyelesaikan permasalahan ini.
“Memang ada informasi adanya gangguan mental, tapi kami minta itu disertai hitam di atas putih dari pihak yang berkompeten. Jadi, bukan cuma katanya,” tegasnya. (sen/lha)