Dandim Pimpin Upacara Harkitnas

Sintang

Editor elgiants Dibaca : 67

Dandim Pimpin Upacara Harkitnas
HARKITNAS - Bupati Sintang, Jarot Winarno dan Forkopimda Sintang saat menghadiri Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang berlangsung di Halaman Markas Kodim 1205 Sintang, Senin (20/5)
SINTANG, SP - Komandan Kodim 1205 Sintang Letkol Inf Rachmat Basuki menjadi Inspektur Upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 111 Tahun 2019 di Halaman Markas Kodim 1205 Sintang, Senin (20/5)

Pelaksanaan upacara tersebut minus pelajar karena seluruh pelajar di semua level pendidikan sedang mengikuti ulangan umum kenaikan kelas. Tampak sebagai undangan upacara Bupati Sintang, Forkopimda, Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, perwira di Polres Sintang, Perwira di Kodim 1205 Sintang, dan kepala OPD. 

Sedangkan peserta upacara tampak pasukan dari Polres Sintang, Batalyon 642 Kapuas, Kodim 1205 Sintang, Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja, PNS, dan Mahasiswa.

Komandan Kodim 1205 Sintang Letkol Inf Rachmat Basuki saat membacakan amanat Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menekankan bahwa sebagai bangsa yang besar, Indonesia telah mampu terus menghidupi semangat persatuannya selama berabad-abad. 

“Kuncinya ada pada kekuatan gotong-royong. Karena semangat persatuan dan gotong-royong telah mengakar dan menyebar di seluruh Nusantara. Ini dibuktikan dengan berbagai ungkapan tentang kearifan mengutamakan persatuan yang terdapat di seluruh suku, adat, dan budaya yang ada di Indonesia” ujar Rachmat Basuki dalam kesempatan tersebut.

Semua daerah kata Dandim, menganjurkan seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja secara gotong-royong. Kearifan nenek-moyang tentang gotong royong menurutnya telah dipupuk selama berabad-abad yang dinilai sampai saat ini pun akan senantiasa relevan.

“Bahkan semakin mendesak sebagai sebuah tuntutan zaman yang sarat dengan berbagai perubahan. Kita harus jaga agar suasana selalu kondusif penuh harmoni dan persatuan,” serunya.

Dandim menambahkan peringatan hari kebangkitan nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan ramadan. Dan bagi umat muslim tentunya ini menjadi berkah dan makna tersendiri dimana bulan suci ini menuntun umat untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian termasuk juga penyebaran kebohongan dan fitnah. 

“Hingga pada akhirnya, pada ujung bulan ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita,” imbuhnya.

Dengan semua harapan tersebut, kiranya kata Dandim, sangat relevan apabila peringatan hari kebangkitan nasional, disematkan tema bangkit untuk bersatu dan kita bangkit untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. 

“Saya mengajak agar kita semua sebagai sesama anak bangsa secara sadar memaknai peringatan kali ini dengan memperbarui semangat gotong-royong dan kolaborasi, sebagai warisan kearifan lokal yang akan membawa kita menuju kejayaan di pentas global,” terang Rachmat Basuki.

Sementara Bupati Sintang, Jarot Winarno usai pelaksanaan upacara menyampaikan bahwa masyarakat nusantara diingatkan melalui sumpah palapa yang merupakan sumpahnya patih Gajah Mada untuk menyatukan nusantara. 

“Melalui pidato Bung Karno, kita juga diingatkan tentang pentingnya gotong royong. Kita diajak untuk bangkit dan bersatu,” ujar Jarot.
Perbedaan pilihan dan pendapat menurutnya adalah hal yang biasa dan saat ini proses pemilu sudah hampir selesai. 

“Persatuan dan kesatuan kita jaga dan perkuat. Perselisihan dan perpecahan karena pemilu kita akhiri, apalagi ini bulan suci ramadhan,” pintanya. (nak/hms)

Momentum Melihat Sejarah Masa Lalu

Salah satu mahasiswa asal Kabupaten Sintang, Apriyan menilai bahwa momentum Hari Kebangkitan Nasional harus dijadikan kesempatan untuk menegok sejarah di belakang. Bangsa ini menurut Apriyan pernah digjaya pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

“Kita harus membaca sejarah dengan segala polemik dan persoalannya maupun dengan segala kebesarannya agar kita dapat belajar untuk membawa bangsa ini lebih baik kedepan,” kata mahasiswa yang kuliah disalah satu perguruan tinggi di kota Pontianak ini.

Majapahit pecah dan bubar kata Apriyan lantaran terjadinya perebutan kekuasaan dan perang saudara yang tak berkesudahan sehingga ditengah kondisi tersebut negara dan rakyat menjadi terabaikan akibat para pemimpin lebih mementingkan nafsu untuk berkuasa.

“Hari ini kondisi kita hampir seperti itu, oleh karennya jangan sampai terulang. Baca dan baca lagi sejarah agar kita tak terjerambab dalam hal yang sama,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Apriyan mengajak segenap lapisan masyarakat untuk terus bersatu padu membangun negeri dan terus mengkawal setiap proses yang mengiringinya.

“Kita ini satu, kita hanya bisa besar kalau didalam dada kita tersimpan semangat nasionalisme, persatuan tanpa memandang suku, agama dan golongan. Namun kita sebagai rakyat juga harus tetap mengontrol jalannya pemerintahan di negeri ini,” pungkasnya. (nak)