Bupati Optimis Sintang Aman

Sintang

Editor elgiants Dibaca : 43

Bupati Optimis Sintang Aman
HASIL PILPRES - Bupati Sintang, Jarot Winarno saat memimpin upacara peringatan Harjad Kota Sintang belum lama ini. Mneyikapi kondisi terkini pasca penetapan hasil Pilpres Jarot, mengaku optimis Sintang dalam keadaan aman.
SINTANG - Penetapan hasil Pemilu Presiden oleh KPU RI sudah dilakukan meskipun ada penolakan dari berbagai pihak atas hasil tersebut. di Jakarta misalnya, hingga kini masih terjadi aksi massa di Kantor KPU dan Bawaslu. Hal yang sama juga terjadi di Kota Pontianak, sejumlah massa yang diduga kecewa dengan penetapan hasil Pemilu tampak melakukan aksi pada Rabu (22/5) dinihari.

Sejumlah ban tampak di bakar di sekitar jalan daerah Tanjung Raya Dua Pontianak hingga menuju jembatan Kapuas satu atau tol satu, selain itu satu unit bangunan pos polisi yang berada tidak jauh dari jembatan juga dibakar massa.

Untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan yang mengganggu Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) saat pengumuman hasil Pilpres, Kapolri memang menetapkan siaga satu di seluruh daerah yang ada di wilayah Indonesia.

Bupati Sintang, Jarot Winarno yakin dan optimis bahwa situasi di Kabupaten Sintang akan tetap kondusif, aman dan damai serta tidak ada pergerakan massa seperti did aerah lain terutama Jakarta.

“Saya yakin masyarakat di Kabupaten Sintang sudah dewasa, mengerti demokrasi yang didalamnya kalah menang itu adalah hal yang biasa,” ujar Jarot, Rabu (22/5).

Jarot mengapresiasi pihak TNI dan Polri yang sudah mengamankan pelaksanaan pemilu dan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Sintang sehingga pelaksanaan pesta demokrasi ini dapat berjalan dengan baik.

“Penyaluran aspirasi adalah hak namun harus dilakukan dengan cara yang baik. Untuk di Sintang, kami percaya kan hal tersebut kepada pihak keamanan,” ucapnya. 

Sementara itu, Kapolres Sintang, AKBP Adhe Hariadi mengatakan penetapan siaga satu dilakukan di seluruh daerah yang ada di wilayah Indonesia. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam rangka penetapan hasil Pilpres.

“Untuk penetapan siaga satu merupakan perintah dari Kapolri yang dimulai dari masa penetapan hasil Pemilu tahun 2019 pada tanggal 21 Mei lalu hingga usai gugatan ke MK,” ujarnya ketika ditemui di Polres Sintang usai pelaksanaan Sertijab Kasat dan Kapolsek di jajaran hukum Polres Sintang, Rabu (22/5).

Kapolres Sintang menyampaikan bahwa hingga hari ini suasana di Kabupaten Sintang masih kondusif. Dan dari hasil pantauan, pihaknya belum menemukan adanya warga yang bergerak ke Pontianak untuk mengikuti aksi.

“Hasil pantauan kita, tidak ada rombongan yang pergi. Tidak tahu kalau yang berangkat sendiri-sendiri. Kita juga ada mengirimkan sejumlah anggota Polres untuk membantu pengamanan di Jakarta,” terangnya.

Lebih lanjut, Kapolres menyebut ada beberapa hal yang dilakukan pihaknya untuk meminimalisir dan mengantisipasi terjadinya kericuhan di Kabupaten Sintang salah satunya adalah melakukan Cipta Kondisi yang ditingkatkan.

“Anggota dipimpin langsung Kabag Ops melakukan cipta kondisi ke sejumlah THM, jalan dan beberapa tempat lainnya. Kita juga meningkatkan pengamanan di KPU, Bawaslu dan juga gudang logistik,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut Kapolres Sintang, pihaknya juga menggelar doa bersama dengan tujuan meminta perlindungan kepada Tuhan agar anggota TNI, Polri, masyarakat dan bangsa Indonesia selalu dalam lindunganNya.

“Kita lihat situasi berkembang dan memang suasananya agak memanas jadi kita ambil inisiatif untuk menggelar doa bersama agar petugas yang sedang berjuang disama selalu diberikan nikmat sehat dan seluruh warga maupun bangsa Indonesia selalu dalam perlindunganNya,” pungkas Adhe.

Merasa Khawatir

Salah satu warga Sintang, Suryadi mengaku cukup khawatir dengan kondisi terkini, terlebih kata Suryadi ia juga mendengar bahwa di Pontianak telah terjadi aksi massa yang juga sampai membakar pos polisi.

“Agak sawan sih, kita liha di tv itu kan cuma di Jakarta, ternyata di Pontianak juga ada aksi massa sampai mebakar pos polisi,” ungkapnya.

Supriyadi berharap hal tersebut jangan sampai menjalar hingga ke Kabupaten Sintang. Menurutnya Sintang selama ini adalah daerah yang cukup kondusif dengan masyarakat yang beragam namun selalu hidup berdampingan.

“Ya mudah-mudahan masyarakat kita disini selalu bisa menjaga rasa aman di Sintang, lagian untuk apa buat aksi seperti itu. Kita harus percaya pada hukum, ada penegak hukum, kesanalah kita harus mengadu. Lebih baik kerja cari makan buat anak istri dari pada ikut aksi,” katanya.

Suryadi mengaku perbedaan pilihan adalah hal yang semestinya tidak membuat orang harus bermusuhan apalagi kecewa berlebihan. Pemilihan pemimpin kata Suryadi terjadi lima tahun sekali. Kalau tidak suka terhadap seorang pemimpin maka jangan dipilih. Jika orang tersebut menang arti nya masyarakat masih banyak yang lebih percaya kepada pemimpin tersebut.

“Kan itu suara masyarakat, kita tidak bisa memaksa suara kita harus diikuti banyak orang. salah menurut kita belum tentu menurut orang lain, barangkali saja kita yang memang salah tau orang lain yang salah. Pada intinya kita harus bisa menerima dan jangan memaksa kehendak,” tandasnya. (nak)