Mencari Pemimpin Sintang

Sintang

Editor elgiants Dibaca : 844

Mencari Pemimpin Sintang
Grafis Bupati Sintang Pilbup
SINTANG, SP – Kabupaten Sintang akan jadi satu di antara tujuh daerah di Kalimantan Barat yang menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020. Sejumlah nama pun mencuat untuk mengisi posisi nomor satu Bumi Senentang.

Nama-nama itu muncul di akar rumput dan perbincangan para elit. Mulai dari petahana Jarot Winarno, hingga pengusaha muda Gulam M Sharon. Wajah politikus lama pun terlihat akan meramaikan kompetisi, di antaranya Jeffray Edward, Suyanto Tanjung, Agrianus, Heri Jamri hingga Wakil Bupati kini, Askiman.

Nama pertama yang menguat tentu petahana Jarot Winarno. Bupati Sintang periode 2015-2020 ini sudah kenyang di birokrasi. Karirnya dimulai sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) saat menjadi dokter di Kecamatan Ketungau Hilir, Sintang tahun 1986. Satu tahun usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sebelum tampil sebagai calon Bupati Sintang 2015-2020, Jarot pernah menjabat wakil Bupati Sintang periode 2005-2010 mendampingi Milton Crosby. Kemudian mencalonkan diri sebagai calon Bupati 2010-2015 berpasangan dengan Kartius, tapi gagal menang. Namun, proses pemilihannya berjalan panjang sampai harus beperkara di Mahkamah Konstitusi.

Hingga akhirnya maju kembali pada Pilkada 2015 berpasangan dengan Askiman dan menang dengan 41,70 persen suara.
Wakilnya kini, Askiman pun diisukan akan ikut bertarung memperebutkan kursi kepala daerah. Askiman merupakan politisi kawakan. Sempat duduk di kursi parlemen, pengalaman dan namanya cukup mentereng.

Nama lain yang digadang maju adalah Ketua DPRD Sintang, Jeffray Edward. Kader PDI-Perjuangan ini memang duduk kembali di kursi dewan periode mendatang. Namun perolehan suara yang besar tentu jadi modal besar untuk jadi calon bupati.

Selain itu, ada satu nama politisi lawas yang diperkirakan maju. Dia adalah Agrianus, caleg terpilih Pemilu lalu. Agrianus sempat menjabat Camat Ambalau. Bahkan, dia pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Sintang berpasangan dengan Chomain Wahab.

Dua nama kader Hanura pun diprediksi meramaikan bursa pencalonan. Mereka adalah Ketua DPD Hanura Kalbar, Suyanto Tanjung dan Ketua DPC Hanura Sintang, Heri Jamri. Dalam Pileg 2019 lalu, Hanura meraih lima kursi di parlemen Sintang. Modal kuat untuk mengusung calon kepala daerah.

Suyanto Tanjung mengatakan Hanura memang menginginkan calon kepala daerah di Pilkada Serentak tahun 2020 diisi oleh kader partainya. Namun dia sendiri belum berpikir untuk maju.

“Kadernya tidak mesti saya, kan masih banyak yang lain. Sampai saat ini saya belum terpikir ke arah sana (menjadi calon), karena baru menyelesaikan Pileg dan kita saat ini juga menyusun kerja-kerja ke depan untuk membangun masyarakat yang lebih baik lagi,” ujarnya Selasa (11/6).

Apabila masyarakat antusias mendukung Hanura, tentu pihaknya akan berkoordinasi dengan yang lain.

“Kalau niat pribadi saya untuk maju sebagai calon Bupati Sintang, sampai sejauh ini belum ada niat. Kalau kondisi terpaksa sebagai petugas partai, maka perintah partai itu akan saya laksanakan. Cuma saya sendiri tidak berpikir ke arah itu,” jelasnya.

Dia mengakui, sejauh ini sudah beberapa kali berdiskusi dengan ketua partai lain mengenai Pilkada Sintang, melihat potensi di lapangan. Hal pertama yang dipertimbangkan adalah posisi petahana. Baik Bupati maupun Wakil Bupati, apabila kinerja keduanya dinilai masih baik, tidak masalah dipasangkan kembali.

“Kalau sudah baik, kenapa harus diganti lagi. Tentu kita akan melakukan survei dan menanyakan pendapat masyarakat mengenai hal tersebut,” tuturnya.

Terlepas dari hasil survei nanti, apabila ada kader Hanura yang siap dan partai lain bisa diajak koalisi, tidak ada salahnya kader tersebut ikut kompetisi.

“Sintang kita punya lima kursi, dari lima kursi ini ada politisi senior. Kita survei dululah, untuk melihat keinginan masyarakat mengenai Pilkada Sintang ini,” pungkasnya.

Sementara Heri Jamri menyebut kans Hanura untuk mengusung calon Bupati memang tinggi. Mereka punya lima kursi di parlemen, tinggal mencari tiga kursi untuk mencukupkan koalisi.

“Tinggal mencari partai koalisi untuk mencukupi delapan kursi agar dapat ikut bertarung di Pilkada Sintang,” bebernya.
Kader partai pun banyak yang berpotensi. Politikus Hanura jago dalam berpolitik.

“Kalau sudah masuk ke legislatif itu adalah orang jago politik semua. Soal dipilih atau tidaknya itu rakyat yang menilai,” katanya.
Heri sendiri siap maju sebagai Bupati Sintang pada Pilkada Serentak 2020 mendatang sepanjang partai mengizinkan. Sebagaimana instruksi DPD Hanura Kalbar, kader partai diprioritaskan tampil.

“Ini sudah keputusan dari partai. Nah sekarang siapa yang ditugaskan dari partai saya belum tahu itu. Saya sebagai ketua partai, saya siap kapan saja. Tidak ada kata tidak siap kalau namanya politik,” ungkapnya.

Heri Jamri mengatakan tujuannya menjadi wakil rakyat tidak lain untuk kepentingan pembangunan di Kabupaten Sintang.
“Saya menjadi wakil rakyat juga berbuat untuk rakyat kok. Apalagi kalau jadi bupati, kita bisa berbuat lebih banyak lagi untuk kepentingan rakyat dan pembangunan di lima tahun ke depannya,” ungkapnya.

Selain para politisi, nama muda turut muncul. Dia adalah Gulam M Sharon. Seorang pengusaha yang cukup dikenal. Namun ketika dikonfirmasi, dia mengaku belum punya niat maju Pilkada. Sebagai pengusaha, dia menyadari sulitnya masuk dalam sistem politik pragmatis.

"Tidak ada niat mau ke situ, memang tidak ada jiwa ke arah sana. Walaupun saya harus diminta," tuturnya.

Menurutnya, politikus adalah orang luar biasa dan orang terpilih saja yang sanggup mengurus rakyatnya dari pagi sampai pagi. Hanya, dia mengakui pernah ditawari untuk menjadi calon. 

"Pernah ada tawaran. Pak Jarot pernah nanya saya mau ndak? Saya bilang sama beliau, saya tidak punya potensi politik ini, kalau saya punya keinginan politik kemungkinan 2019 ini DPRD saya sudah maju," katanya. 

Namun, dia tidak mau berspekulasi lebih. Bukan tidak mungkin apabila lima atau 10 tahun ke depan niatan itu berubah. Sebab, sebelum ini sempat terlintas pikiran masuk politik pragtis, namun tidak diseriusi. Kini, dia masih ingin jadi pengusaha.

"Kalau saya masuk politik, agak terbatas langkah saya. Apalagi usaha saya belum ada yang benar-benar mengendalikan," pungkasnya.

Ketua DPD Nasdem Sintang, Herry Syamsudin mengatakan lebih mengutamakan kadernya untuk tampil pada Pilkada Serentak 2020 mendatang. Di wilayahnya, ada tujuh kader yang memiliki potensi terbaik untuk jadi Bupati.

“Jarot Winarno dan Askiman adalah kader terbaik Nasdem. Termasuk saya,” katanya.

Dia belum tahu pasti apakah Jarot Winarno kembali maju atau tidak dalam Pilkada Sintang. Pastinya Nasdem akan mengusung satu kader terbaik saja.

“Posisi wakil biasanya dari partai koalisi,” ucapnya.

DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sintang pun lebih mengutamakan kader terbaiknya untuk diusung pada Pilkada Sintang mendatang.

“Kita lihat nanti siapa yang akan maju. Kalau PKB memiliki kader terbaiknya yang mencalonkan diri, mengapa tidak,” ucap Wakil Ketua I DPC PKB Sintang, Chomain Wahab.

Hanya saja, semuanya masih membutuhkan proses yang panjang. Sebab dalam menentukan siapa figur yang layak diusung dalam Pilkada, tidaklah semudah mengembalikan telapak tangan.

“Pastinya butuh proses yang panjang. Karena ini menyangkut pembangunan Sintang lima tahun ke depannya,” tutupnya.
Paham Pemerintahan

Pengamat politik Universitas Tanjungpura Pontianak, Syarif Usmulyadi menilai, secara akademis calon yang layak menjadi pemimpin Kabupaten Sintang harus memahami dan memiliki pengetahuan terkait pemerintahan. 

"Jika calon tersebut tidak memahami terkait dengan pemerintahan, hal tersebut sangat tidak dimungkinkan untuk dijadikan calon," ungkapnya.

Seorang calon Bupati harus memiliki jiwa pemimpin, yang diakui oleh masyarakat. Rekam jejaknya pun harus lurus dan baik. 
"Jika seandainya dia (calon) punya track record pernah korupsi itukan tidak layak dijadikan calon," katanya. 

Selain itu, calon ini juga harus memiliki kemauan untuk membangun daerah dan memajukan masyarakat. Artinya calon tersebut dituntut memahami apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. 

"Karakteristik ini yang harus dimiliki oleh calon-calon ini," tutupnya. (iat/len/sms/bls)