Pola Kemitraan Sawit Dinilai Banyak Rugikan Petani

Sintang

Editor elgiants Dibaca : 280

Pola Kemitraan Sawit Dinilai Banyak Rugikan Petani
Anggota DPRD Sintang, Heri Jamri
SINTANG, SP - Pola kemitraan pembagian kebun sawit melalui plasma di kabupaten Sintang tampaknya belum berpihak kepada petani. Hal tersebut lantaran masih sering timbulnya permasalahan pembagian plasma antara petani dan perusahaan sawit.

Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Heri Jamri menilai pembagian plasma seharusnya bisa meningkatkan taraf hidup petani disekitar kebun. Namun kenyataan dilapangan banyak ditemukan permasalahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

“Kita sering mendengan keluhan petani terkait pembagian plasma dimana pembagian yang diberikan sama sekali tidak berpihak kepada masyarakat petani kebun,”kata Heri Jamri belum lama ini.

Merujuk pada aturan Kementerian Pertanian nomor 98, pembagian kemitraan antara inti dan plasma minimal 80:20 persen. Maka aturan ini kata Heri perlu ditinjau kembali oleh pemerintah sebab hal tersebut lebih banyak merugikan petani.

“Kita minta aturan ini bisa ditinjau kembali oleh pemerintah sehingga masyarakat petani di sekitar kebun bisa sejahtera,” pintanya.

Heri juga mengapresiasi beberapa perusahan di Kabupaten Sintang sudah menjalankan pola kemitraan dengan benar salah satunya PT Liman Grup dimana pembagiannya 60:40 artinya 60 persen milik petani sedangkan 40 persen milik perusahaan.

“Mestinya setiap perusahaan sawit yang berinvestasi di Sintang ini bisa mengikuti pola kemitraan seperti PT Liman Grup, cuma itu tergantung dengan kebijakan Kepala daerah apakah kebijakan ini sudah berpihak kepada masyarakat atau sebaliknya,” seru Heri.

Seharusnya lanjut politisi Hanura ini, jika pemerintah ingin berpihak kepada petani, pemerintah sendiri jangan memberikan ijin apabila hanya ingin minimal 20 persen melainkan diatasnya.

“Ya kalau saya liat minimal 50 persen kalau tidak jangan dikasi ijin,” imbuhnya. 

Sementara itu dari hasil temuan dilapangan antara eksekutif dan legislatif beberapa waktu lagu melalui pansus, pihanya menemukan banyak perkebuna kelapa sawit hanya bangun kebun tetapi untuk dijual (take over).

“Modusnya bukan membangun kebun, tetapi dia (perusahaan) ambil lahan kemudian lahannya dijual kembali,” pungkasnya. (nanak)