Sabtu, 21 September 2019


Jarot: Gotong Royong Harus Dijaga

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 99
Jarot: Gotong Royong Harus Dijaga

SERAHKAN - Bupati Sintang, Jarot Winarno menyerahkan bibit tanamanan pada pembukaan BBGRM ke-XVI di Desa Mait Hilir, Kecamatan Sepauk, Kamis (11/7) yang lalu. Jarot berharap masyarakat tetap menjaga semangat gotong royong sebagai modal sosial menjaga pers

SINTANG, SP - Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan bahwa semangat gotong royong harus terus dan mampu dijaga oleh  masyarakat. Karena menurut Jarot, gotong royong adalah modal sosial yang kuat untuk membangun perdamaian dan persatuan ditengah masyarakat itu sendiri.

"Hidup itu harus penuh semangat ya, untuk maju untuk mandiri. Kita itu sangatlah beragam dan kita tetap hidup rukun dan bersatu. Kita sungguh luar biasa. Kita punya Pancasila dan bhineka tunggal Ika yang intisarinya gotong royong," ujar Jarot saat membuka acara pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XVI Tingkat Kabupaten Sintang di Desa Mait Hilir, Kecamatan Sepauk, Kamis (11/7) yang lalu.

Secara simbolis Jarot memukul gong sebanyak 7 kali sebagai tanda dibukanya Bulan Bhakti Gotong Royong  Masyarakat tahun 2019. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan kontak dari OPD dan Forkopimda Kabupaten Sintang. Bupati Sintang juga menyempatkan diri untuk meninjau lokasi pasar desa dan polindes Desa Mait Hilir.

"Semangat ini menjadi tradisi yang harus kita jaga, kita lembagakan. BBGRM ini salah satu bentuk melembagakan tradisi gotong royong yang ada dari tingkat nasional sampai ke desa-desa," kata Jarot.

Ia mengucapkan terima kasih atas antusiasme dan partisipasi masyarakat desa Mait Hilir dan desa sekitarnya. Pembangunan desa itu harus melibatkan lembaga kemasyarakatan desa juga.

"Saya harapkan selesai bulan Bhakti ini sebagian besar masalah desa seperti pelataran sekolah, tempat wudhu masjid akan selesai dengan kita bergotong royong. Sehingga desa ini akan menjadi desa mandiri. Tidak bisa sendiri, ada TNI POLRI yang menalau (baca:membantu) kita," kata bupati Sintang lagi.

"Modal sosial kita membangun  masyarakat kita yang bersatu dan damai itu yang menjadikan kita kuat. Selain kegiatan fisik adakan juga kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat lewat seminar dan penyuluhan," lanjutnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Herkolanus Roni, menjelaskan bahwa pelaksanaan BBGRM merupakan upaya membangkitkan kembali semangat gotong royong di lingkungan masyarakat. Tujuannya menjaga dan melestarikan budaya gotong royong.

"Nilai asah, asih dan asuh di dalam keluarga menjadi dasar kita melakukan gotong royong di lingkungan yang beragam. Kita ingin meningkatkan kemitraan antara masyarakat dan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan," ucapnya.

BBGRM ke-XVI ini dilaksanakan sampai dengan 9 Agustus. Tema kegiatan tahun ini, “Dengan Bulan Bakhti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XVI Kita Dayagunakan Peran Lembaga Kemasyarakatan Desa Sebagai Mitra Pemerintah”.
"Bentuk-bentuk kegiatan ini meliputi kegiatan dalam bidang ekonomi, Sosbud dan lingkungan," tutup Roni.

Turut hadir dalam acara ini sejumlah pimpinan OPD dan instansi vertikal di lingkungan pemerintah Daerah Kabupaten Sintang.
Adapun kegiatan gotong royong yang akan dilaksanakan pada kegiatan BBGRM ini berupa pengecatan rumah ibadah, perbaikan jalan lingkungan, perbaikan drainase/parit, gotong royong kebersihan lingkungan sarana  pendidikan dan kesehatan, rehab WC dan lain sebagainya. (hms/nak)

Mulai Terlupakan Oleh Kemajuan Zaman

Salah satu masyarakat Sepauk, Agus mengaku senang dengan adanya kegiatan BBGRM ini diwilayah Kecamatan Sepauk, khusunya di Desa Mait Hilir yang menjadi pusat kegiatan berskala Kabupaten itu. Menurutnya BBGRM memberikan arti yang sangat penting bagi masyarakat secara luas untuk mampu menjaga semangat gotong royong.

“Sebagaimana kita ketahui dewasa ini, budaya dan semangat gotong royong mulai luntur di tengah masyarakat ini. Ini menurut saya adalah persoalan, nah melalui BBGRM inilah semangat gortong royong itu bisa dihidupkan lagi,” ujar Agus.

Agus berharap agar semangat gotong royong tak hanya berlangsung hanya pada saat diselenggarakan BBGRM saja. Melainkan harus tumbuh didalam diri masyarakat sebagai suatu warisan leluhur yang harus di pertahankan.

“BGRM ini harus jadi pemantik saja, pengingat dan penyadar kepada kita semua bahwa budaya gotong royong tidak boleh kita lupakan, meskipun zaman terus maju tapi sikap kita sebagai masyarakat yang menjujunjung semangat gotong royong tak harus pudar,” harapnya.

Menurut Agus, salah satu kenapa dimasa lalu masyarakat bisa hidup rukun adalah karena semangat gotong royong tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Sementara dewasa ini masyarakat melupakan budaya masa lalu dan hidup masing-masing serta kurang mengedepankan kedekatan sosial.

“Ayo kita tumbuhkan lagi, kita jaga dan kita rawat semangat gotong royong untuk persatuan dan kekompakan,” serunya. (nak)