Kamis, 19 September 2019


Stok BBM di SPBU Sering Kosong

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 206
Stok BBM di SPBU Sering Kosong

ANTRE BBM. Warga Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang saat mengantre BBM di SPBU. Warga mengeluh sering kosongnya stok BBM di SPBU di daerah tersebut. Ist

PONTIANAK, SP - Warga Desa Mau, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang mengeluhkan sering kosongnya stok BBM di SPBU Melawi Jaya Abadi di daerah tersebut. Hal itu diutarakan oleh Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Suyanto Tanjung setelah dirinya menerima aspirasi dan informasi itu secara lansung dari masyarakat di sana. 

"Warga sudah resah, karena SPBU di sana datang minyak dua tengki. Buat masyarakat umum hanya beberapa saja, kebanyakan diambil oleh pengantri atau pengecer minyak," jelas dia kepada Suara Pemred, Kamis (22/8).

Oleh karena itu Tanjung mendorong Pertamina dan pihak terkait untuk segera menyelesaikan persoalan yang menjadi keluhan masyarakat tersebut. 

Sebenarnya minyak dua tengki yang datang ke SPBU itu cukup untuk kebutuhan masyarakat disana. Hanya saja masyarakat merasa kecewa, karena petugas SPBU cenderung mengutamakan penjual minyak ecer . Apalagi dalam satu hari pengecer yang sama bisa datang berkali-kali. 

Dari laporan yang dirinya terima diduga adanya kerjasama antara oknum petugas SPBU dan penjual minyak ecer tersebut. Pasalnya pengecer membeli minyak di SPBU tersebut lebih mahal daripada ketika masyarakat membeli.

Dimana misalnya untuk masyarakat umum harganyakan 6.450, sedangkan buat untuk pengecer itu 7.450 rupiah, ada selisih seribu. Sehingga minyak datang sehari langsung habis, karena banyak diberikan kepada masyarakat yang menjual minyak ecer daripada kepada masyarakat umum. 

"Jadi di sana minyak datang sehari langsung habis, besoknya anak-anak sekolah mau isi tidak ada lagi. Jangankan untuk besok sore saja sudah habis, karena diduga ada kerjasama antara oknum di SPBU itu dengan pengantri. karenakan dilebihkan seribu terus. Jadi keluhan masyarakat ndak mampu kayak begini, dulu ndak ada SPBU harga minyak tidak semahal ini. kok datang SPBU lebih mahal lagi," ujarnya.

Bahkan harga yang diberikan oleh pengecer bisa jauh diatas harga SPBU. Khususnya ketika kondisi cuaca tidak baik, SPBU bisa saja dalam satu hari tidak kedatangan stok. sehingga beberapa hari masyarakat tidak bisa merasakan minyak dari SPBU.

Menurut Tanjung seyognya kehadiran SPBU bisa merealisasikan BBM satu harga, dimana rakyat kecil bisa menerima dan merasakan BBM Bersubsidi seperti masyarakat di Kota.

"Tapi yang dapat malah rakyat besar, bukan malah rakyat kecil. Itu yang membuat masyarakat resah kecewa tapi mereka tidak tau mau melaporkan kemana. Pertamina harus melakukan pengawasan yang baik, kita sebagai wakil rakyat sudah melihat kondisi seperti ini. kita lihat apa reaksi dari Pertamina," ujarnya.

"Kalau memang ada pelanggaran, sanksinya cabut saja ijin SPBU tidak jelas. kita harapkan pertamina bisa bergerak cepat," tegas Tanjung. (iat)

Akan Tindak Lanjuti

Sales Executive Retail VII Kalimantan, Gilang Hisyam Hasyemi mengatakan akan menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut. Karena selama ini kata dia pihaknya juga aktif mengawasi penjualan BBM SPBU di daerah. 

"Kita akan selidiki lagi, kalau memang akhirnya kita temukan hal yang dilaporkan oleh masyarakat, pasti akan kita tindak," jelasnya. 


Sejauh ini kata dia penyaluran di SPBU Melawi Jaya Abadi sudah sesuai dengan prosedur dan tata cara peraturan yang ditetapkan oleh pihak Pertamina. Bahkan dari pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh pihaknya SPBU tersebut terbilang taat mengikuti prosedur dan pemberkasan lengkap.

Terkait adanya antrian pengecer, dia akan memastikan hal tersebut terlebih dahulu. Karena kata dia tidak semua pengantri itu ilegal, karena saat ini sudah ada yang disebut sub penyalur. 

Dia menjelaskan bahwa saat ini ada kios-kios yang mempunyai surat rekomendasi atau SKPD dari Camat setempat maupun Pemda terkait. Sehingga ketika pengantri mempunyai surat rekomendasi tersebut bisa dikategorikan pengecer/pemilik kios yang legal menerima minyak dari SPBU.

"Kalau tidak ada surat itu baru ilegal. Perlu diketahui apabila sudah ada rekomendasi tersebut, SPBU harus memberikan kepada mereka, karena mereka itu pemerintah daerah yang punya kebijakan. yang tidak boleh itu yang tidak dapat surat rekomendasi. Kemudian yang mendapatkan rekomendasi itu harus menjual satu harga. Jadi alasan biasa kenapa SPBU lebih prepare menjual kepada pengecer legal ini karena itu untuk masyarakat umum juga," 

Yang pasti kata dia pihaknya tidak menutup mata dengan laporan-laporan masyarakat. Bahkan pihaknya juga membuka pengaduan bagi masyarakat berkaitan dengan penjualan BBM di SPBU daerah.

"Kalau sudah ada informasi seperti ini, kita akan melakukan sidak dalam jangka waktu tertentu. Kemudian kalau sudah kita dapat data dilapangan, kita akan coba klarifikasi kepada yang bersangkutan. Setelah dari hasil lapangan dan kajian yang kita temukan adanya kenjagalan atau bentuk penjualan yang tidak disiplin sesuai dengan aturan, pasti akan kita saksi," tegasnya.

Namun dia juga menyatakan akan terlebih dahulu mengkaji persoalan seperti apa dengan langsung meninjau dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. 

Kemudian kata dia akhir-akhir ini memang sering adanya pengantrian panjang di SPBU. Karena kondisi sungai sebagai sarana untuk menyalurkan BBM ke Sintang sedang surut. 

"Biasa karena kondisi cuaca juga. Tapi sekarang sudah agak pulih. Kita berharap penyaluran BBM didaerah bisa sesuai dengan harapan masyarakat," pungkasnya. (iat)