Sabtu, 19 Oktober 2019


Siapkan Generasi Emas di Sintang

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 73
Siapkan Generasi Emas di Sintang

PENDIDIKAN. Akses pendidikan dasar di daerah pedalaman hingga saat ini masih menjadi tantangan yang belum terpecahkan. Akses pendidikan dasar di daerah pedalaman.

SINTANG, SP - Akses pendidikan dasar di daerah pedalaman hingga saat ini masih menjadi tantangan yang belum terpecahkan. Pemerintah masih mencari formula untuk membuat pemerataan pendidikan bagi anak-anak di daerah-daerah terpencil.

Tak terkecuali, Kabupaten Sintang yang memiliki luas wilayah ketiga terbesar di Provinsi Kalimantan Barat setelah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu. Hampir menyamai luas Jawa Barat, luas wilayah Kabupaten Sintang yaitu 21.635 km dan terbagi ke dalam 14 Kecamatan dan 391 desa.

Menurut Bupati Sintang Jarot Winarno, yang paling sulit dalam pembangunan berkelanjutan adalah menyeimbangkan antara konservasi, dengan menjaga lingkungan hidup, dengan pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Hal itu karena dalam pembangunan suatu daerah, apalagi Kabupaten Sintang dengan kondisi banyaknya perbukitan dan hutan, perlu adanya perencanaan yang matang.

"Kita membangun ini bukan hanya untuk generasi sekarang saja, tapi juga yang akan datang. Dan paling penting, kita bangun, jadi yang kita usahakan ini tidak boleh mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka," ujar Jarot seperti dikutip dari detik.com, belum lama ini.

Dalam konsep pembangunan berkelanjutan ini, lanjut Jarot, Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dengan menyiapkan anak-anak di Kabupaten Sintang yang mampu melewati zaman sehingga sampai menuju generasi emas 2045, menjadi tantangannya.

"Kenapa, Sintang ini seluas Jawa Barat, kami ini punya 391 desa. Nah, bagaimana ide tentang open defecation free (bebas buang air sembarangan) itu sampai bisa di ujung-ujung kampung. Bagaimana ide tentang namanya program Kinerja dan Akuntabilitas (Kiat) Guru, kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui guru-guru di daerah-daerah yang sangat tertinggal itu bisa berjalan dengan baik. Itu problem buat kita," ujarnya.

Menurut Jarot, perlu adanya peranan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah desa, masyarakat desa dan dana desa untuk membangun dari pinggiran. Dan yang paling penting, penggunaan dana desa memang saat ini akan beralih dari pengembangan infrastruktur ke pemberdayaan masyarakat.

Ada titik-titik kritis yang terus diingatkan Jarot kepada para kepala desa, salah satunya di bidang kesehatan. Menurut Jarot, Sintang merupakan kabupaten prioritas penanggulangan stunting. Dengan memperbaiki sanitasi, seperti air bersih, buang air tidak sembarangan, dan penataan perumahan kumuhnya, maka akan mengurangi 42 persen angka stunting di Kabupaten Sintang.

"Bayangkan di desa yang jauh sekali, saya pernah mendeklarasikan open defecation free itu di desa yang jaraknya 296 km dari Sintang ini, lewat jalan darat, nyeberang sungai, disambung pake speed boat khusus. Mereka deklarasikan dan memang benar ada," ujarnya

"Demikian juga di bidang pendidikan, banyak sekali pemberdayaan masyarakat, dengan menggunakan dana desa, direncanakan oleh masyarakat desa, didampingi oleh pendamping desa, dan mereka bisa desain suatu kegiatan yang bisa meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dari anak-anak kita," tambahnya.

Menurut Jarot, pendidikan di Sintang masih menghadapi dua kendala utama. Pertama akses, karena SD yang ada di desa, dan desa tersebut memiliki 2-4 dusun yang jarak antar desa dengan dusun tersebut sangat jauh. Bahkan bisa dilalui hingga berjam-jam, atau melewati sungai dan jalanan berlumpur.

"Nah, sehingga kontribusi dari dana desa dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi mereka sendiri itu sangat penting, salah satu contoh terbaik itu adalah yang di Desa Benua Kencana. Itu ada rumah singgah, rumah itu diperlukan untuk memotong akses tadi," ujarnya.

"Jadi problem di Sintang, dalam konteks Indeks Pembangunan Manusia itu umur harapan hidup sudah bagus, income per kapita juga sudah bagus, tapi rata-rata lama sekolah yang masih rendah. Sintang ini rata-ratanya baru 6,9 tahun," jelasnya. (tik)

Program Satu Desa Satu Sarjana

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Sintang, Herkolanus Roni menambahkan, pihaknya berencana membuat program satu desa satu sarjana. Dibantu dengan sumber dana desa, kegiatan ini diharapkan bermanfaat untuk menciptakan SDM unggul di setiap desa.

"Tahun 2020 kita merencanakan sebuah program satu desa satu sarjana yang dibantu dengan peranan dana desa. Caranya adalah pemerintah desa menyeleksi anak-anak yang memiliki potensi untuk melanjutkan pendidikan hingga sarjana yang dibiayai oleh dana desa. Setelah ia lulus sarjana, diharapkan ia kembali ke desa tersebut untuk membangun desanya," ujarnya

"Sehingga jika satu desa bisa melahirkan satu sarjana, ada 391 desa, berarti 4 tahun kemudian dengan dana desa, itu mampu melahirkan 391 sarjana. Kita optimis bahwa pemerintah desa akan menyambut baik program ini dalam upaya kita menciptakan Indonesia unggul," tambahnya. (tik)