Sabtu, 19 Oktober 2019


Sintang Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 82
Sintang Tetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla

RAPAT - Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, M.Med.PH usai memimpin rapat terkait penetapan status tanggap darurat karhutla Kabupaten Sintang di ruang kerja Bupati Sintang, Kamis (19/9).

SINTANG, SP – Pemerintah Kabupaten Sintang telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 15 hari ke depan, dimulai pada 19 September sampai dengan 3 Oktober 2019.

Penetapan tersebut disampaikan Bupati Sintang dr. H. Jarot Winarno, M.Med.PH saat memimpin rapat terkait penetapan status tanggap darurat karhutla Kabupaten Sintang di ruang kerja Bupati Sintang, Kamis (19/9).

Adapun dasar pertimbangan penetapan status tanggap darurat karhutla, yaitu pertama, hasil Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kategori sangat tidak sehat mulai tanggal 7 September sampai dengan 18 Desember 2019. Kedua, jumlah titik api (hotspot) masih cukup banyak dan berkelanjutan. 

Ketiga, jumlah keluhan kesehatan akibat asap meningkat, dan keempat guna meningkatkan efektifitas pencegahan dan meminimalisir dampak bencana kabut asap Karhutla.

Waktu penetapan status tanggap darurat Karhutla Kabupaten Sintang selama 15 hari ke depan, dimulai pada 19 September 2019 sampai dengan 3 Oktober 2019.

Jarot mengatakan bahwa rapat yang diadakan pada hari ini adalah awal persiapan menjelang pertemuan dengan seluruh kepala desa. 

“Seluruh kepala desa kita undang turun semuanya untuk mengetahui permasalahan di desa untuk kita support, sama-sama kita seluruh pihak untuk memadamkan api yang ada,” ungkapnya.

Menurut Jarot, pemerintah kabupaten juga menjalankan Peraturan Gubernur tentang pemberian sanksi kepada korporasi yang di dalam wilayah konsesinya ada titik api. 

“Kalau ditemukan area terbakar di dalam konsesi, kalau karena kelalaian, kita suspend (dihentikan sementara) selama tiga tahun tidak boleh mengelola area yang terbakar tadi. Kalau diakibatkan kesengajaan itu lima tahun” ungkap Jarot. 

“Sanksi tersebut sesuai dengan Peraturan Gubenur, namun untuk sanksi hukum diserahkan kepada pihak penyidik,” imbuhnya.

Menurut Jarot, saat ini kendala untuk memadamkan api adalah susahnya mencari sumber air karena akses jalan yang sulit dilalui dan sarana prasarana yang terbatas.

“Karena aksesnya susah, kita hanya bisa jalan kaki atau menggunakan motor tertatih-tatih akibatnya kita tidak bisa membawa perlengkapan yang full,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Jarot juga mengungkapkan bahwa kabut asap yang terjadi di Kabupaten Sintang ini berdampak sangat besar pada sektor perekonomian di Sintang.

“Ada biasanya 15-20 sektor akan berdampak. Sektor ekonomi, pertama adalah putusnya penerbangan, itu kan sangat berpengaruh. Yang kedua tebalnya asap perjalanan dari Pontianak menuju Sintang itu juga akan mempengaruhi kelajuan dan sebagainya, ditambah lagi kekeringan panjang dan putusnya BBM, ini kan memperlambat transportasi orang dan barang,” ungkapnya.

Jarot pun mengimbau kepada masyarakat agar masyarakat mengurangi aktifitas di luar ruangan dan jangan membakar sampah berhubung kabut asap yang masih tebal.

Diketahui selama bulan September 2019, hotspot tertinggi berada di daerah Serawai yaitu sebanyak 426 titik, disusul Ambalau sebanyak 336 titik, Kayan Hulu sebanyak 177 titik dan Ketungau Hulu sebanyak 163 titik.

Aktifitas penerbangan di Bandara Tebelian Sintang masih terganggu akibat asap yang masih menyelimuti kabupaten tersebut. Beberapa penerbangan dibatalkan sejak beberapa hari yang lalu hingga hari ini. 

Menurut pihak BMKG yang hadir pada rapat tersebut, jarak pandang juga terpantau masih rendah yaitu sekitar 400 meter saja dan untuk kecepatan angin juga masih terpantau rendah yaitu hanya 5 knot atau sekitar 10 km/jam. 

Sementara, hujan dengan intensitas sedang dan tinggi diperkirakan akan terjadi di beberapa daerah di Kabupaten Sintang di atas tanggal 20 September 2019, namun hujan tersebut akan mengakibatkan angin kencang misalnya puting beliung. Walaupun hujan, beberapa daerah di Kabupaten Sintang diperkirakan masih akan mengalami kekeringan. (hms)