Rabu, 11 Desember 2019


Sintang Kabupaten Berkelanjutan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 210
Sintang Kabupaten Berkelanjutan

PANEN MADU - Bupati Sintang Jarot Winarno menyaksikan proses panen madu kelulut di Desa Baning Panjang, belum lama ini.

SINTANG, SP - Bupati Sintang, Jarot Winarno melakukan panen cabai dan melihat langsung proses panen madu kelulut oleh petani Desa Baning Panjang, Kecamatan Kelam Permai, belum lama ini. Dalam kesempatan itu, Jarot mengatakan bahwa Kabupaten Sintang merupakan kabupaten yang berkelanjutan.

“Tentu saya senang hadir di sini, karena Kabupaten Sintang sudah sepakat bahwa kita ini merupakan kabupaten yang berkelanjutan. Jadi tanah yang ada di Kabupaten Sintang ini diatur dengan baik, salah satunya ialah pemanfaatan lahan kosong menjadi lahan pertanian,” katanya.

Jarot juga mengingatkan bahwa jangan ada lagi kegiatan ekonomi ekstraktif yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA). 

“Jangan hanya sawit, karet dan sahang terus yang ditanam, itu namanya ekonomi ekstraktif, ekonomi yang mengeksploitasi sumber daya alam. Kegiatan ekonomi seperti itu harus kita tinggalkan, dan memulai dengan ekonomi kreatif,” ujarnya. 

Jarot mencontohkan, ekonomi kreatif itu seperti apa yang dilakukan oleh petani di desa ini, yakni melakukan penanaman berbagai macam tanaman.

“Ayo kita bergeser ke ekonomi yang kreatif, yang memiliki pembaharuan dan terobosan yang baik, salah satunya seperti di desa ini yakni memiliki perkebunan cabai dengan jenis cabai cakra, kemudian membudidayakan madu kelulut, dan juga ada di desa lain yang menanam teh,” sambungnya.

Dengan adanya kegiatan panen cabai dan budidaya madu kelulut ini, Jarot berharap Desa Baning Panjang menentukan salah satu produk unggulan desa untuk dimasukkan ke dalam Program Pengembangan Ekonomi Masyarakat (P2EMAS).

“Jadi apa yang dilakukan di sini itu, pertama desa harus menentukan apa yang difokuskan produk unggulan desanya. Kalau mau holtikultura, ya semuanya harus holtikultura. Kalau mau cabai, ya cabai. Kalau mau madu kelulut, ya madu kelulut. Tentukan dulu apa produk unggulan desanya melalui musyawarah desa. Kalaulah sudah ditentukan segera lapor kepada Pemkab agar bisa dimasukkan ke dalam program P2EMAS,” tambahnya. 

Karena, lanjut Jarot, jika desa sudah mendapatkan program P2EMAS, maka bisa mendapatkan bantuan. 

“Kalau lah desa kita sudah masuk program P2EMAS, nanti itu ada dananya, bisa diproses. Kalau dulu satu desa itu mendapat jatah sekitar Rp250 juta, bisa berupa barang, bisa juga berupa kegiatan penyuluhan. Dan juga perlu dipikirkan masalah kelompok tani, apa yang diperlukan akan dibantu. Semua ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ucap Jarot. 

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Cakra Mandiri, Hadi Sunoto menceritakan perjalanan pertanian yang dilakukan oleh Kelompok Tani Cakra Mandiri. Pada tahun 2015, dia mengluarkan modal pribadi untuk menanam cabai sebesar Rp50 juta, dengan rincian 10 juta beli tanah, 5 juta pembebasan lahan karet, kemudian beli bibit dan pupuk.

“Alhamdulillah berhasil sampai 2016. Kemudian pada tahun 2016 kami mencoba menanam jeruk sambal hasilnya bisa dipanen,” kata Sunoto.

Sunoto menceritakan, di tahun 2016 dan 2018, pernah mencoba membuat terobosan dengan menananm tanaman baru, tetapi mengalami gagal panen.

“Di tahun 2016 bersamaan dengan penanaman jeruk sambal kita juga menanam sahang dan jahe, namun mengalami gagal panen. Kemudian di tahun 2018, kita mencoba menanam buncis sama timun namun juga gagal,” ujarnya.

Tetapi, sambung Sunoto, di tahun 2017 dan di tahun 2019, pihaknya tetap menanam cabe dan hasilnya bisa dipanen.

“Dengan kegagalan dibeberapa tahun lalu, kami tidak putus asa, kami terus menerus untuk menanam cabai. Pada bulan Juni-Juli 2019 di saat kemarau, kami menanam cabai. Alhamdulillah pada bulan ini bisa dipanen,” sambungnya. 

Sunoto berharap kepada pemerintah agar dapat memperhatikan pertanian di wilayah Desa Baning Panjang.

“Jadi kami di tahun 2020 ada rancangan dan rencana untuk memperluas lapangan pekerjaan, saya mohon agar Pemerintah memberikan bantuan kepada kami dalam bentuk apapun, dan apa yang akan kami ajukan di tahun 2020 agar dapat ditanggapi,” harapnya.

Petani setempat, Abdul Gani, mengatakan, sejak cabai ditanam dan hingga akhirnya dipanen, memakan waktu sekitar lima bulan. 

“Kemudian dari total luas 1,5 hektar lahan cabai, kami tanam 1 hektar itu bisa mencapai 10 ton cabai, dan hasil dari panen cabai tersebut kami jual ke Kota Sintang dan Kota Pontianak,” jelasnya. 

Sementara terkait pembudidayaan madu kelulut di Desa Baning Panjang, saat ini madu tersebut penjualannya sudah sampai ke Pulau Sumatera, Tanggerang, dan Jawa Timur.

“Kami di sini sistem penjualannya itu bukan per kilo, kalau sudah panen kami hitung harga per liter, harga per liternya itu kalau dijual di luar Pulau Kalimantan kami jual Rp600 ribu. Kemudian madu kelulut itu diambil dengan cara disedot, agar tidak terkontaminasi langsung dengan tangan, sehingga madu terjamin kesterilannya,” tukasnya. (hms)