Sao Mamasa dan Romantisme Masa Kecil Claudia

Sosok

Editor K Balasa Dibaca : 260

Sao Mamasa dan Romantisme Masa Kecil Claudia
Claudia Liberani Randungan.
Claudia menghabiskan masa kecilnya di Nanga Sungai, Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Listrik hanya ada malam hari, sedang kakaknya tinggal di asrama, pusat kecamatan untuk melanjutkan pendidikan. Hanya ada teman dan buku di masa kecilnya.

Sempat pindah ke Pontianak untuk mencecap bangku kuliah, pengalamannya berliterasi di kota buat gadis 22 tahun merasa berutang. Belimbis tak jauh berubah. Anak-anak masih tak punya akses pada buku. Tidak seperti dirinya dulu.

"Aku ingin berbagi kesenangan dengan adik-adik. Dulu waktu aku kecil, aku merasakan gimana susahnya dapat buku. Punya bacaan itu kayak privielege yang nggak semua orang bisa dapatkan,” cerita perempuan bersama lengkap Claudia Liberani Randungan ini.

Buku seperti keistimewaan. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura itu lebih beruntung karena keluarganya menyediakan buku-buku. Buku-buku itu mesti beli di Putussibau, yang dulu harus ditempuh lewat sungai. Satu hari satu malam jaraknya. Buku baru didapat sebulan sekali.

"Aku banyak membaca kehidupan di luar lingkunganku, jadi begitu keluar komunitas, aku nggak begitu kaget dan minder. Teman-temanku cenderung minder sampai nggak bisa mengembangkan kemampuan diri mereka. Begitulah,” kisahnya.

Dia tak ingin ada jarak antara Belimbis dan dunia. Dia tak ingin adik-adiknya di Nanga Sungai merasa hal serupa. Terlebih, sampai dia dewasa, akses informasi tak banyak berubah. Semua serba terbatas.

"Kalau ada buku mereka punya akses informasi untuk kehidupan di luar wilayah mereka, mereka nggak perlu jadi orang kota, untuk tahu bagaimana cara hidup orang kota. Nggak perlu jadi saintis untuk bisa mempelajari sains dan mengetahui isi semesta, karena mereka bisa membacanya.”

Merasa tak akan seperti sekarang tanpa buku di masa kecilnya, Claudia mendirikan Sao Mamasa. Dalam bahasa Dayak Tamambaloh, sao berarti rumah, sedang mamasa artinya membaca. Jadilah Sao Mamasa pertama di Belimbis, Desa Pulau Manak, Desember 2018 lalu.

Sejatinya, minat baca anak pedalaman, khususnya Embaloh Hulu tak rendah. Buktinya, Sao Mamasa selalu ramai. Mereka antusias. Bisa jadi karena hiburan yang terbatas. Bisa juga karena banyak hal-hal baru yang ditemukan di tiap lembaran yang dibuka.

"Ada buku mereka senang, ini aja tiap aku pulang, mereka minta buku baru,” katanya.

Lantaran tak selalu ada di Kapuas Hulu, ibunya, Lidwina Maria Neneng Son, ikut membantu. Mereka jadi satu tim. Claudia memetakan kebutuhan bacaan anak-anak dan berusaha menyediakan, sedang sang ibu yang mengawasi buku-buku itu dengan sistem peminjaman yang sudah ditentukan bersama.

Sao Mamasa tidak satu arah. Anak-anak yang ingin pinjam buku, menulis sendiri tanggal, nama, judul buku dan alamat peminjam. Interaksi antarpengunjung tercipta. Biasanya mereka saling ajar menulis.

Tak jarang, sang ibu turun tangan. Maklum, tak semua anak sekolah dasar lancar merangkai huruf.

Hal sederhana agar mereka terbiasa menulis. Sesuatu yang jarang di kota, saat orang lebih sering menekan ponsel dibanding memegang pulpen.

Antusiasme itu buatnya bersemangat. Akhir Februari lalu, Sao Mamasa dibuka di Nanga Sungai, Desa Saujung Giling Manik, Embaloh Hulu. Jaraknya sekitar 30 menit dari Belimbis.

"Orang tua mereka pun responnya bagus, malah kadang ekspektasi mereka buat akungehek duluan, soalnya mereka berharap banyak sama gerakan ini, sementara aku masih seret,” ujarnya sambil tertawa.

Buku-buku di Sao Mamasa tidak sembarang. Semua dikurasi, sesuai kebutuhan anak. Paling dominan, berisi buku cerita anak, dongeng, cerita rakyat, ensiklopedia, majalah anak, buku-buku sains, dan buku-buku aktivitas anak.

Sebagian buku dibeli sendiri. Sebagian lainnya bantuan mereka yang membantu. Tapi tetap, semua diseleksi.

Selain baca dan pinjam buku, tak jarang anak-anak diajak mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Ketika ada rekan Claudia yang berkunjung, biasanya dibuka kelas sesuai kemampuan mereka yang datang. Seperti belajar buat pembatas buku, menggambar, dan bahasa Inggris.

Aktivitas anak-anak di rumah baca itu terangkum di Instagram @saomamasa dan fanspage Facebook, Sao Mamasa. Tak jarang, rekomendasi buku anak dan informasi literasi Kalbar juga turut dibagikan di media sosial tersebut.

"Gerakan literasi yang aku buat di Sao Mamasa itu bukan kerja jangka panjang. Ini kerja seumur hidup. Aku dengan sadar pengen mengaktualisasikan diriku agar bisa bermanfaat untuk komunitasku,” sebutnya.

Claudia ingin membangun peradaban. Membuat anak-anak pedalaman yang punya perspektif kemanusiaan dan lingkungan yang lebih bijak. Mengingat, Embaloh Hulu adalah wilayah konservasi.

"Untuk mewujudkan ini nggak mudah. Perlu waktu lama, dan ketabahan,” tutupnya. (kristiawan balasa)