q Suara Pemred − Pria Asal Bengkayang Ini Bikin Kompor Brokit

Pria Asal Bengkayang Ini Bikin Kompor Brokit

Bengkayang

Editor Jindan Dibaca : 948

Pria Asal Bengkayang Ini Bikin Kompor Brokit
Gustian dan Kompor Brokitnya
BENGKAYANG,SP -  Kompor Brokit belakangan ini menjadi tren baru di kalangan masyarakat di Kabupaten Bengkayang khususnya untuk warga perbatasan. 

Kompor Brokit adalah  sebuah kompor berbahan bakar Brondol Kering Sawit.

Gustian Andiwinata, warga Seluas, Kec. Seluas Kab. Bengkayang salah satu orang yang telah menemukan cara lain pengganti kompor gas, yang  selama ini semakin sulit ditemukan dan harga yang mahal.

Kompor yang ia buat ini diperuntukan bagi warga kurang mampu, yang berada jauh dari pusat kota. Seperti petani dan buruh yang  tinggal di perkebunan sawit .

"Awalnya terjadi dibuatnya Kompor BROKIT karna saya melihat saat ini, warga Kampung khususnya di wilayah yang warganya berkebun sawit dan juga petani dan buruh perkebunan sawit jauh dari pusat kota. Warga mengalami keterpurukan  ekonomi sementara harga gas bukan hanya mahal tapi juga susah didapat," ucapnya.

Selain dari itu, Gustian melihat banyaknya brondol kering kepala sawit yang tidak mungkin lagi untuk dijual ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit), karena sudah busuk hitam dan kering. Ia mencoba menjemur kembali brondol-brondol itu sebagai pengganti kayu bakar yang digunakan tungku bakar.

"Saya mencoba brondol yang kering sebagai kayu api, eh... Ternyata bisa menghasilkan api, sama seperti kayu bakar. Karena itu, mulai saya berpikir bagaimana buat kompor aja dengan bahan bakar Brokit," ceritanya. 

Gustian mulai mendesain Kompor Brokit dan dari desain itu ia mendatangi tempat pembuat barang-barang kebutuhan rumah tangga berbahan Seng/ zeng untuk membuat kompor.

"Dari seng tersebut ternyata bisa dibuat untuk sebuah kompor," katanya. 

Lebih jauh kata Gustian, kompor yang ia desain tersebut pertama kali dicoba untuk memasak air dan sayur. Hasilnya sama dengan kompor umumnya. Untuk membesar dan mengecilkan api hampir sama dengan kayu bakar yaitu menambah dan mengurangi Brokitnya.

"Untuk menambah Brokit gampang tinggal tambah pada tempat api dihidupkan dan untuk mengecilkan cukup jepit dengan penjepit yang sudah disiapkan dan buanglah pada bagian bawah yang sudah diberi air dari awal," tuturnya.

Kompor Brokit tersebut sangat membatu warga yang kurang mampu dan tinggal di sekitar perkebunan sawit atau petani sawit. 

Gustian menyampaikan agar untuk kedepan warga boleh tanam 5 atau 10 pokok sawit saja di sekitar perkarangan rumah  untuk bahan bakar alternatif pengganti gas dan kayu.

"Kompor Brokit ni sudah banyak dipesan oleh konsumen karena berbahan bakar murah juga harga kompor hanya Rp. 200.000/buah, dan  untuk setiap pembeli Kompor BROKIT selalu dilengkapi dengan bonus Brokit 2 kg yang sudah siap pakai," tutupnya. (nar)