Eks Gafatar Tinggalkan Kabupaten Sanggau, Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1682

Eks Gafatar Tinggalkan  Kabupaten Sanggau, Kalbar
EVAKUASI GAFATAR - Camat Tayan Hulu didampingi Kapolsek dan Danramil sesaat sebelum mengantar 46 warga eks Gafatar ke Bekangdam XII Tanjungpura, Pontianak, Kamis (21/1). Setelah ditampung di Bekangdam, nantinya mereka akan segera dibawa pulang ke tempat a
SANGGAU, SP – Pasca diungsikan di Kantor Camat Tayan hulu, 46 warga dari 11 KK eks  anggota  Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar)  asal Desa Binjai Simpang Tanjung, Kecamatan Tayan Hulu,  akhirnya keluar dari Kabupaten Sanggau.

Sejak  Kamis (21/1) sekitar pukul 23.00 WIB, rombongan mereka  bertolak dari Sanggau menuju  Bekangdam XII/Tanjungpura, Kabupaten Kubu Raya. “Sampai di Bekangdam XII/Tanjungpura pada hari Jumat sekitar pukul 02.30 WIB dini hari. Kami bersama Kapolsek dan Danramil Tayan Hulu terus mendampingi mereka,” kata Camat Tayan Hulu, Anselmus, Jumat (22/1).

Para eks Gafatar ini dikawal  ketat aparat sampai di tempat tujuan. “Setelah  kita selesaikan pendaftaran  dan urus semuanya,  baru kita pulang. Tapi sebelumnya,  kita pastikan jumlahnya sama saat kita antar, termasuk barang-barang yang dimiliki,” jelasnya.

Sedangkan masalah teknis pemulangan para eks Gafatar ke kampung halamannya, menurut Anselmus,  ditangani pihak BNPB dan Bekangdam XII/Tanjungpura.
“Mereka datang dari sore, ramai. Takut juga nanti pas mengamankan,  ada massa dari belakang lalu ada yang terbunuh. Bisa kacau nanti. Makanya kita cepat minta bantuan untuk digeser, dan sore itu juga kita dapat perintah geser kita langsung geser,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, warga eks Gafatar di Dusun Simpang Tanjung dan Dusun Tanjung, Desa Binjai, Kecamatan Tayan Hulu berada di daerah tersebut dalam beberapa bulan terakhir ini. Para tokoh agama menolak keberadaannya. Mereka diminta untuk direlokasikan.


Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go mengatakan, mereka harus direlokasi. Ini sesuai hasil kesepatakan sekaligus mengantisipasi aksi-aksi massa yang secara tegas menolak dan bereaksi berlebihan.
Untuk mengamankan dan mempermudah proses relokasi, satu pleton pasukan Polri dibantu TNI mengamankan dan membantu mereka, Rabu (20/1) sore.

Anselmus waktu itu menyebutkan tidak masalah dengan para eks Gafatar yang bermukim di wilayahnya. Belakangan, warga terutama di dua dusun menolak secara tegas.  Secara kemanusian, Ansalmus mengaku sedih menghadapi persoalan ini. Sebab,  siapa pun yang tinggal dan berada di wilayahnya,  wajib dilindungi. (pul/and)