Guru Besar Universitas Toulouse Perancis Kunjungi Hutan Adat Pangajid di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1288

Guru Besar  Universitas Toulouse Perancis Kunjungi Hutan Adat Pangajid di Desa Sahan,  Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar
KUNJUNGAN - Guru besar Universitas Toulouse Perancis, Prof Dr Zephirike Mouloungul, saat berada di hutan Adat Pangajid, Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Minggu (7/2). (ist)
BENGKAYANG, SP – Memiliki tumbuh-tumbuhan langka khas Kalbar, seperti Tengkawang, Gaharu, Meranti, Nau, Resak, dan berbagai jenis bunga anggrek, membuat Hutan Adat Pangajid, di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, memiliki daya tarik tersendiri.  

Belum lama ini, Prof Dr Zephirin Mouloungul, guru besar asal Universitas Toulouse, Perancis, didampingi Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof Dr Thamrin Usman DEA, dan Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Dr Ir Gusti Hardianyah, M Sc, QAM, berkunjung ke hutan dengan luas sekitar 200 hektare tersebut.  

Thamrin Usman mengatakan, kunjungan ini merupakan awal dari kepedulian Untan kepada masyarakat yang telah berjuang mempertahankan kawasan hutan.   “Masyarakat Dusun Malayang, telah berjuang mempertahankan kawasan hutannya yang sangat berpotensi secara ekonomi, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.  

Thamrin menuturkan, dulunya pohon Tengkawang ditebang oleh masyarakat untuk digunakan sebagai kayu bakar ataupun bahan mendirikan bangunan.

Maka, saat ini, hal tersebut jangan dilakukan lagi, lantaran selain merupakan pohojn khas Kalbar, Tengkawang juga memiliki nilai ekonomis.   “Mulai hari ini, jangan ditebang lagi. Karena buah pohon Tengkawang, bisa dimanfaatkan menjadi berbagai jenis produk seperti kosmetik, obat-obatan, makanan, mentega dan lain sebaginya,” terang dia.  

Dia juga menjelaskan, kedatangannya bersama peneliti senior dari salah satu Universitas di negeri Menara Eifel ini, tidak lain untuk melihat potensi Tengkawang di kawasan Desa Sahan.   “Prof Dr Zephirin Moulogul telah membuat varian produk dari mentega Tengkawang, yang dibuat masyarakat Desa Sahan menjadi komestik. Nantinya, akan meningkatkan harga buah Tengkawang, sehingga pohon-pohon Tengkawang di Kalbar tidak ditebangi,” katanya.  

Tokoh Adat Desa Sahan, Damianus Nadu mengaku, sangat senang dengan kunjungan para guru besar tersebut. Menurutnya, kunjungajn ini merupakan bukti bahwa kawasan Hutan Adat Pangajid, mendapat perhatian dari berbagai pihak.   “Tidak sia-sia kami mempertahankan kawasan Hutan Adat Pangajid. Hutan ini telah memberi manfaat bagi pengembang ilmu pengetahuan,” ucapnya apresiartif.  

Nadu menjelaskan, walau luasnya tidak seberapa, tapi kawasan Hutan Adat Pangajid mempunyai beranekaragam tumbuhan khas Kalbar, yang diperkirakan ada sekitar 60 jenis pohon. “Pohon yang paling banyak di kawasan hutan ini adalah pohon Tengkawang dan Meranti. Kami melarang keras masyarakat, melakukan penebangan di kawasan Hutan Adat Pangajid,” ujarnya.  

Melihat keberhasilan masyarakat adat Desa Sahan, Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Gusti Hardianyah, tertarik melakukan nota kesepahaman untuk membangun kerjasama dalam mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat adat.  

Bahkan, dirinya tidak segan menawarkan kepada pemuda masyarakat adat Pangajid untuk kuliah di Untan, dengan bantuan beasiswa nantinya.   Zephirin mengapresiasi keberhasilan masyarakat Desa Sahan, dalam menyelamatkan kawasan Hutan Adat Pangajid.   “Saya ucapkan, selamat kepada masyarakat adat Pangajid dalam menyelamatkan kawasan hutannya. Kalian bukan hanya menyelamatkan desa, tapi telah menyelamatkan dunia,” kata Peneliti Utama Bidang Kimia ini.  

Zephirin mengaku, sangat tertarik dengan produk yang dihasilkan oleh masyarakat adat Pangajid, yaitu mentega Tengkawang.   “Saya sebagai ahli kimia, akan meneliti dan mengembangkan produk-produk dari buah Tengkawang untuk kesejahteraan masyarakat dan akan menulis untuk diterbitkan khusus majalah di Perancis,” sebutnya.  

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR), Deman Huri menjelaskan, perjuangan masyarakat ada Pangajid sangat panjang dalam mempertahankan kawasan hutan adatnya.   “Alhamdulillah masyarakat adat Pangajid, hingga saat ini mampu mempertahankan potensi pengembangan kawasan Hutan Adat Pangajid, sebagai pusat pengetahuan,” ujarnya yang juga ikut mendampingi dalam kunjungan tersebut.  

Deman menerangkan, lembaganya bersama masyarakat telah mengembangkan produk turunan minyak Tengkawang, yakni bahan pembuata roti, es krim, dan coklat.   “Nanti setelah uji klinis ke BPOM , kita akan mengembangkan produk-produk secara massal, sehingga masyarakat Desa Sahan bisa mendapatkan nilai ekonomis dari mentega buah Tengkawang,” kata Deman.  

Deman menyebutkan, lembaganya juga telah membuat pusat belajar pengembangan produk dari buah Tengkawang, dimana pusat belajar tersebut akan dilengkapi peralatan yang lebih modern.   “Kalau dulu masyarakat menggunakan alat tradisional. Sekarang masyarakat akan menggunakan alat yang lebih modern, sehingga bisa dengan cepat dan banyak membuat mentega dari buah Tengkawang,” terangnya. (umr)