Kemendag Tekan Serbuan Gula Ilegal di Kabupaten Sanggau, Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1475

Kemendag Tekan Serbuan Gula Ilegal di Kabupaten Sanggau, Kalbar
GULA- Seorang petugas Kemendag sedang mengecek harga gula ke sejumlah toko sembako di Pasar Sentral, Sanggau, Kalbar. (ist)
SANGGAU, SP- Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan pengecekan harga gula pasir di Kabupaten Sanggau termasuk di Entikong.   Kegiatan ini hasil kerjasama dengan Induk Koperasi Kartika (Inkopkar) dalam Operasi Pasar (OP) Gula Murah yang digelar pada Januari- April 2016.    

"Tujuannya adalah menstabilkan harga dan dan menekan serbuan penyelundupan gula impor  di perbatasan RI dan Malaysia," kata Susi Herawati, Kepala Subdit Bahan Pokok dan Barang Strategis Ditjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, Jumat (19/2)


Selama peninjauan, Susi didampingi sejumlah pejabat Dinas Perdagangan Pemprov Kalbar, Dinas Perdagangan Pemkab Sanggau? serta distributor gula. 
Budi, pimpinan CV Agro Abadi, distributor gula menyatakan,

OP Inkopkar ini berpengaruh signifikan terhadap penurunan harga gula di tingkat eceran. Pasalnya, sebelum OP dilaksanakan, harga gula berkisar antara Rp 13.000-Rp 13.500.

Sejak OP digelar, harga tertinggi di tingkat eceran mencapai Rp 12.000 per kilogram.
"Kita sendiri selama Januari-Februari sudah menyalurkan lima ribu ton OP Gula Murah. Kebutuhan konsumsi gula per bulan untuk wilayah Kalbar mencapai enam ribu ton," kata.  

Warga Entikong menyambut baik OP tersebut. Banyak warga  bahkan memborong gula selama OP tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. "Kami senang beli gula melalui operasi pasar, karena harganya lebih murah,"  ungkap Mariam (50), warga Entikong.


Sementara agen gula lainnya yang tak mau disebutkan namanya mengakui, hampir 50 persen gula di Kalbar adalah selundupan yang masuk antara lain dari Entikong dan Jagoi Babang.
Meski penjagaan terus ditingkatkan, namun penyelundup tetap berhasil  menembus perbatasan dengan berbagai modus.

Termasuk bermodus lama, yakni memanfaatkan Kartu Lintas Batas (KLB). Pemegang KLB di perbatasan Entikong saat ini mencapai 16 WNI. Mereka dapat berbelanja kebutuhan pokok di Malaysia maksimal 600 ringgit Malaysia per bulan.


Terpisah, maraknya gula selundupan juga diakui oleh Ketua Umum Induk Koperasi Kartika, Brigjen TNI Felix ?Hutabarat. “Gula selundupan itu merusak tata niaga gula nasional dan merugikan negara karena mereka mengemplang pajak,” ujarnya.

Dalam OP ini, lanjut Felix, Inkopkar dan Kemendag mendistribusikan sekitar 100 ribu ton gula ke sejumlah daerahdi Indonesia di luar Pulau Jawa. Harga yang dipatok tertinggi di kisaran Rp 12 ribu per kilogram.  
"Kalau ada distributor yang menyalahgunakan, segera laporkan. Kita akan tindak tegas dan segera diputuskan kerjasamanya," ancam Felix.

Dari hasil pengecekan harga di sejumlah pasar tradisional, petugas dari Kemendag mengaku puas. OP terbukti mampu menstabilkan harga di pasaran. (sut)