Polda Kalbar Resmi Tipe A

Regional

Editor sutan Dibaca : 1000

Polda Kalbar Resmi Tipe A
GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)
PONTIANAK, SP- Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian menginstruksikan Kapolda Kalbar, Inspektur Jenderal (Irjen) Musyafak memprioritaskan penanganan peredaran narkoba lintas negara dan aksi terorisme global.  
"Karena berbatasan langsung dengan negara lain, maka Kalimantan Barat harus memiliki langkah aplikatif untuk memberantas penyelundupan. Polda Kalbar mesti mampu menjamin supaya kegiatan perekonomian di perbatasan berlangsung legal, agar ada pemasukan bagi negara," tegas Tito di Landasan Udara Supadio, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Minggu (21/8/2016).  

Hal ini ditegaskan Tito dalam perjalanan transit menuju Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kedatangan mantan Kapolda Metro Jaya ini disambut Kapolda Irjen Musyafak, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Andika Perkasa, Komandan Lanud Supadio Marsekal Pertama TNI Tatang Herliyansah, Kasdam XII/Tanjungpura Brigjen TNI Ahmad Supriyadi, Wakil Kapolda Kalbar Brigjen Joko Irianto.  

Dalam menyambut kedatangan Tito, tidak satupun pejabat dari Pemprov Kalbar, Pemkab KKR, dan Pemerintah Kota Pontianak yang hadir.   Penegasan Tito ini terkait dengan kenaikan status Polda Kalbar menjadi tipe A yang bakal diresmikan Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Mabes Polri, Komisaris Jenderal Dwi Priyatno di Pontianak, Senin (22/8) hari ini.    

Menurut Tito, praktik penyelundupan di berbagai aspek sepanjang perbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, sangat merugikan negara karena lolosnya pendapatan pemerintah dari pajak impor sehingga mesti dicegah.   Guna mencegah penyelundupan, tegas Tito, polda yang wilayah kerjanya berbatasan langsung dengan negara lain, semua statusnya dinaikkan.

 Ini agar pengerahan personil pengamanan bisa lebih diperbanyak.   “Kalau penyelundupan bisa diatasi, pajak barang impor menjadi naik, dan negara mampu membiayai pembangunan. Polri harus bahu-membahu dengan Tentara Nasional Indonesia bersama otoritas berwenang lainnya dalam pemberantasan penyelundupan,” kata Tito.  

Sementara itu, Musyafak menyatakan siap menjalankan perintah Kapolri. Pihaknya pun siap menjalin kerjasama dengan TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut,  dan Angkatan Udara.
 

Dalam mencegah penyelundupan, lanjut Musyafak,  pihaknya secara bertahap akan menambah personil, dari sebelumnya 11 ribu menjadi 20 ribu. Angka ini merupakan kebutuhan minimal untuk sebuah polda tipe A.
  “Tahun 2017 diharapkan direalisasikan pembangunan dua polres baru, yakni di Kabupaten Kayong Utara,  dan Kabupaten Kubu Raya. Bupati Kayong Utara dan Bupati Kubu Raya sudah menjanjikan lahan melalui hibah,” ujar Musyafak.  

Selain mencengah penyelundupan, menurut Musyafak, ada dua hal yang dijadikan prioritas penanganan di Kalbar, yakni peredaran narkoba lintas negara,  dan aksi terorisme global.
 

Musyafak menilai, peredaran narkoba dan terorisme lintas negara, merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat luar biasa sehingga harus diberantas hingga ke akar-akarnya.   Narkoba diakuinya memiliki daya rusak sangat serius bagi generasi penerus. Begitu pula dengan terorisme yang membuat masyarakat menjadi serba takut beraktifitas.  

Karena itu Polda Kalbar harus bekerjasama dengan instansi pemerintah lainnnya, seperti TNI dan Pemprov Kalbar yang tergabung dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).  

“Khusus pencengahan peredaran narkoba lintas negara, Polda Kalbar terus berkoordinasi dengan Polis Diraja Malaysia (PDRM). Sebab dalam kasus peredaran narkoba, Sarawak sering dijadikan pintu masuk untuk diedarkan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya.  

Kaitannya itu Musyafak menginstruksikan supaya pengamanan untuk mengatasi narkoba dan terorisme di wilayah perbatasan diperketat. Hanya saja, pengamanan itu diharapkan jangan sampai menimbulkan rasa takut di kalangan warga.   “Namun, polisi diinstruksikan tidak kaku. Harus humanis, namun tegas dalam menegakkan hukum terkait pengawasan peredaran barang ilegal, terutama berbagai jenis narkoba dan aktifitas teorisme,” kata Musyafak.  

  Musyafak secara khusus telah menginstruksikan Kapolres Sambas, Kapolres Bengkayang, Kapolres Sanggau, Kapolres Sintang, dan Kapolres Kapuas Hulu guna meningkatkan kewaspadaan penuh. Ini karena wilayah-wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Sarawak.  

Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, dan Desa Aruk, Kecamatan Sajingan, Kabupaten Sambas, terkenal rawan penyelundupan narkowa. Tiga kawasan lain, Jagoi Babang, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang; Desa Jasa, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang; Desa Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.  

Pada 3 Mei 2016, Liaison Officer (LO) Malaysia Police di Pontianak, Muhammad Ibrahim mengakui, pihaknya sangat merisaukan peredaran narkoba di Sarawak dan Negara Bagian Sabah.

Menurutnya, peredaran narkoba lintas negara, sudah sangat meresahkan, baik di Indonesia maupun di Malaysia, karena pelakunya melibatkan warga kedua negara.
  Ibrahim menegaskan, Pemerintah Malaysia sangat keras dalam menertibkan peredaran narkoba.

Hanya terbukti memiliki lima gram narkoba saja, pelaku diancam hukuman mati.   Kendati payung hukumnya sangat keras, menurut Ibrahim, peredaran narkoba lintas negara tetap saja terjadi. Sepanjang 2015, ada 6.600 warga Indonesia terlibat peredaran narkoba di wilayah hukum Malaysia.  

“Periode Januari – April 2016 saja, ada 2.200 warga Indonesia terlibat jaringan narkoba di seluruh wilayah Federasi Malaysia,” ungkap Ibrahim.  

Sarawak merupakan salah satu pintu masuk transit narkoba sebelum dikirim ke luar. Sebagian besar narkoba yang masuk melalui jalur laut ini berasal dari sejumlah negara tetangga, khususnya Asia Tenggara.   Salah satu contoh, terungkapnya pengiriman 5,15 kilogram sabu dari Sarawak lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Sanggau, Minggu, 1 Mei 2016.  
Pelakunya melibatkan warga negara Indonesia dan Malaysia. Otoritas berwenang di Indonesia kemudian menangkap dua warga Malaysia, yakni sopir bus berinisial JBS dan sopir cadangan MRA.   Ditangkap pula tiga warga Indonesia, FDS sebagai sopir cadangan, pemesan sabu berinisial KS, dan Ms sebagai kurir di Terminal Internasional Sungai Ambawang. (ang/yod/aju/pat/hd/sut)