Danau Sinau Tercemar Kotoran Ayam

Kapuas Hulu

Editor Kiwi Dibaca : 605

Danau Sinau Tercemar Kotoran Ayam
TINJAU PARIT – Petugas Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DLH PRKP) Kabupaten Kapuas Hulu, saat meninjau lokasi parit galian Edi Suhita alias Akok, yang tercemar, Senin (12/6). Dari hasil uji laboratorium, Danau Sinau positif
PUTUSSIBAU, SP – Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DLH PRKP) Kabupaten Kapuas Hulu, meninjau parit di Jalan Putussibau – Bika, Desa Teluk Sindur, yang ditutup warga akibat diduga sebagai penyebab tercemarnya air di Danau Sinau, Senin (12/6).  

Dari hasil uji laboratorium, dipastikan air di Danau Sinau positif tercemar, lantaran mengandung zat kimia berbahaya. Zat ini berasal dari kotoran ayam dan zat pembunuh kuman. Limbah tersebut mengalir ke danau setelah pembukaan parit oleh Edy Suhita alias Akok.  

"Sebelumnya limbah yang dihasilkan masyarakat mengalir ke Sungai Sindur, namun setelah dibuka parit, limbah mengalir ke Danau Sinau, itulah yang menjadi penyebab tercemarnya air danau," kata Sekretaris DLH PRKP Kapuas Hulu, M Suyuti membeberkan hasil temuannya.   Dia menerangkan, akibat kejadian tersebut pihaknya pun telah memanggil pengusaha ternama di Kapuas Hulu, Edy Suhita alias Akok untuk dimintai klarifikasi.   

"Sebelum dibuat parit oleh Akok masyarakat tidak pernah komplain dengan kualitas air di Danau Sinau tersebut,"tegasnya   Kabid Tata Lingkungan DLH PRKP Kapuas Hulu, Johadi mengatakan jika pencemaran air danau tidak segera diatasi sejak dini, dikhawatirkan zat kimia akan mengendap dalam waktu yang lama. Sehingga berpotensi merusak ekosistem biota danau ini.   "Air di danau itu tenang, beda dengan air sungai yang terus menerus mengalir," terangnya.

  Menurutnya, air danau memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat. Dipergunakan untuk Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Selain itu air tersebut juga digunakan untuk budidaya ikan oleh masyarakat setempat.

  "Masyarakat mencari ikan di sana, mereka juga menggunakan air itu untuk dikonsumsi," katanya.

  Sebelum parit ditutup oleh masyarakat, para temenggung, kepala desa, pihak kecamatan dan DLH PRKP Kapuas Hulu telah mengadakan rapat dan bersepakat untuk memberikan kesempatan kepada Akok untuk menutup parit tersebut agar tidak terjadi pencemaran kembali.  

"Namun Akok tidak mengindahkannya sampai akhirnya masyarakat sendiri yang menutup parit itu," ungkapnya.   Dia menegaskan, pencemaran tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup. Berbunyi, barang siapa yang dengan sengaja memasukan barang berbahaya ke media tertentu (danau) akan diancam dengan sanksi denda Rp3 miliar dan kurungan selama tiga tahun.  

"Seharusnya sebelum membuka parit, Akok permisi dulu dengan kepala desa, penyebab tercemarnya air danau dikarenakan parit itu dibuka oleh Akok," tegasnya.  

Sementara itu, Edy Suhita, pengusaha pemilik parit belum memberikan keterangan terkait perkara yang menyeret namanya ini. Dia sedang tidak berada di tempat ketika akan dikonfirmasi.

Menurut salah satu karyawan, Edi Suhita masih berada di Kota Pontianak. "Pak Akok masih berada di Pontianak ada urusan, beliau Sabtu kemarin berangkatnya, kemungkinan dalam waktu dekat beliau kembali," ujarnya. (sap/and)