Tahun 2016, Terjadi Dua Peristiwa Keracunan Makanan di Kabupaten Kubu Raya

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 1336

Tahun 2016, Terjadi Dua Peristiwa Keracunan Makanan di Kabupaten Kubu Raya
Petugas BPOM menunjukkan pewarna tekstil yang masih digunakan untuk pewarna makanan saat sosialisasi keamanan pangan jajanan anak sekolah di SDN Cukir, Jombang, Jawa Timur, Rabu (23/3). Sosialisasi itu untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian komunit
KUBU RAYA, SP – Sepanjang 2016 atau pada beberapa bulan terakhir telah terjadi dua kali peristiwa keracunan yang dialami warga di Kabupaten Kubu Raya. Namun,  hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti keracunan itu.  

Kepala Seksi  Pelayanan Dinkes Kabupaten Kubu Raya (KKR), dr Asep Ahmad Saefullah mengungkapkan, banyak faktor yang menjadi penyebab dari kasus keracunan, di antaranya higiene makanan dan bahan kandungan makanan 


"Memang dampak keracunan, seperti yang terjadi kemarin-kemarin di daerah kita, korban mengalami muntah, diare dan pusing. Hal itu bisa saja dampak dari ada bakteri Escherichia Coli atau disingkat E Coli yang ada pada makanan," terangnya, Minggu (17/4). 

Dikatakan, penilaian pada satu sisi tidak bisa menjadi pokok penyebab terkecuali sudah dilakukan uji oleh Balai POM. Namun, rentetannya tidak jauh dari kandungan zat berbahaya akibat pengolahan, kebersihannya serta kedaluwarsa makanan tersebut.  

Jika secara medis, katanya, bisa diprediksi penyebab dari pengaruh yang terjadi pada korban keracunan.
“Selanjutnya kepastiannya ke Balai POM. Yang perlu dilakukan masyarakat hanya perlu berhati-hati. Pintar dalam memilih makanan higienis dan selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa. Jika perlu tanyakan kepada si penjual," ungkapnya.

Sementara,  Kepala Dinas Perdagangan KKR, Lediyanti mengaku pihaknya selalu mengantisipasi setiap peredaran bahan bahan makanan melalui pengawasan di lapangan setiap sekali dalam sepekan. Selain sebagai agenda disperindag, hal itu juga untuk  mewaspadi terjadinya kasus keracunan di Kubu Raya. 

 "Memang kita lakukan pengawasan seminggu sekali terhadap peredaran barang makanan dan minuman. Namun berkaitan dengan barang yang mengandung zat kimia atau bahan yang sudah kedaluwarsa yang seperti itu memang tidak terkontrol, sehingga peran semua pihak terutama pedagangnya sendiri diperlukan," katanya.  

Lediyanto menjelaskan, pelaku usaha seperti pedagang tentunya yang lebih mengetahui barangnya. Apakah itu sudah basi atau kedaluwarsa. Pihaknya sendiri tentu akan kesulitan dalam mengontrol semuanya secara langsung.

Sebab, selain memang keterbatasan petugas, dalam pemeriksaan kandungan itu hanya bisa dilakukan dinas kesehatan.  

"Jika ada barang yang kita curigai dari kandungannya, kita akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, karena mereka yang bisa mengetahuinya," ungkapnya.  

Kunci utamanya, menurut Kadis, kesadaran kedua belah pihak yakni antara penjual dan pembeli barang. Kesadaran bagi penjual dan kecermatan pembeli menentukan kualitas terhadap barang.  

"Kita sudah sejak awal selalu menyosialisasikan, baik kepada produsen dan konsumen, untuk tumbuh kesadaran. Pembelinya harus bisa jadi konsumen cerdas. Karena kami tidak mungkin bisa memeriksa keseluruhan dari zat berbahaya pada bahan makanan," tuturnya. (jek/bah)