300 Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 245

300 Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen
MASA PANEN – Tampak seorang petani tengah memanen padi di lahan pertanian di Jalan Arteri Supadio, Kubu Raya, Minggu (25/2). Dinas Pertanian menyebut sebanyak 300 hektare lahan pertanian gagal panen akibat banjir yang terjadi pada Desember-Januari 2018. (

Gandhi Tuding Banjir Jadi Penyebab


Kadistan Kubu Raya, Gandi Satyagraha
"Saya berharap dukungan instansi lain untuk membangun kembali, atau merehab tanggul-tanggul yang jebol, atau membangun pintu air yang rusak, dan menormalisasi saluran air di wilayah pertanian masyarakat, supaya bisa meningkatkan hasi panen petani kita ke depan,"

KUBU RAYA, SP - Kepala Dinas Pertanian Kubu Raya, Gandhi Satyagraha mengungkapkan, dampak genangan banjir yang terjadi di bulan Desember hingga awal Januari lalu menyebabkan sebanyak 300 hektare padi petani gagal panen.  

Ratusan hektare padi gagal panen tersebut berada di tiga kecamatan. Diantaranya di Kecamatan Terentang, Batu Ampar, dan Kakap. 

Gandi menjelaskan, tertahannya genangan air hujan di lahan pertanian tiga kecamatan tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Namun yang utama adalah penyumbatan saluran air. 

"Saluran air yang sumbat ini harus kita normalisasi tahun ini," kata Gandi, kemarin.

Selain itu, penyebab banjir di lahan pertanian adalah pasangnya air laut yang sangat tinggi. Sementara, tanggul di lahan pertanian di tiga kecamatan tersebut banyak yang mengalami rusak berat. Bahkan, ada yang jebol. Kondisi itu pun menyebabkan air pasang sangat mudah masuk. 

"Ini lah yang menjadi persoalanya," ucap dia.

Kendati demikian, Gandi tetap optimis hasil panen petani Kubu Raya secara komulatif tahun ini tidak jauh menurun dibanding tahun lalu. "Paling tidak masih bisa menyamai hasil panen tahun lalu," harapnya.

Mengenai anggaran pembiayaan pembangunan yang berkaitan dengan pertanian di Dinas Pertanian, memang anggaran tersebut sangat terbatas. Kondisi itu lah yang membuat beberapa infrastruktur pendukung pertanian tertunda dibangun.  

Oleh karena itu, di tahun anggaran 2018 ini beberapa persoalan terkait dengan infrastruktur pendukung pertanian, seperti nomalisasi saluran air, rehab tanggul dan lain sebagainya bisa ditanggulangi dengan didukung penuh oleh SKPD terkait. 

"Saya berharap dukungan instansi lain untuk membangun kembali, atau merehab tanggul-tanggul yang jebol, atau membangun pintu air yang rusak, dan menormalisasi saluran air di wilayah pertanian masyarakat, supaya bisa meningkatkan hasi panen petani kita ke depan," ucapnya. 

Gandi menegaskan, keberhasilan di bidang pertanian tergantung dengan dukungan sarana infrastruktur pendukung. Sarana pendukung yang dimaksud yaitu meliputi ketersediaan pintu air, tanggul, irigasi, dan saluran air.

"Sarana pendukung ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan di bidang pertanian kita," ucapnya. 

Di tahun ini ada beberapa kecamatan yang akan mendapat bantuan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. 

"Ada tiga program yang kami siapkan. Ada pembangunan long storig, pembangunan DAM parit, dan pembangunan pintu air," katanya.

Belum lama ini, Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas PUPR Kubu Raya, Abu Sufyandi mengatakan, Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018 di Bidang Sumber Daya Air mencapai Rp16,9 miliar.

Menurut dia, DAK tersebut sebagian besar diperuntukan untuk pembangunan irigasi di wilayah pertanian. Adapun jumlah irigasi yang akan dibangun tahun ini sebanyak 22 titik di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Sungai Kakap, Kuala Mandor, Terentang, dan Batu Ampar. 

"Termasuk di daerah Empening, Terentang Hulu, juga akan kita di lakukan pemeliharaan irigasinya. Karena, wilayah itu merupakan penyumbang padi yang cukup besar," jelasnya.

Produksi Dua Ton Padi


Camat Terentang, Sarino berharap, tahun ini Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melalui dinas terkait dapat segera membangun irigasi di lahan pertanian masyarakat di Teluk Empening Kecamatan Terentang.

Alasanya, Teluk Empening adalah salah satu kawasan pertanian penyumbang produksi padi yang cukup besar di Kecamatan Terentang. Menurut Sarino, rata-rata, per hektare petani di sana mampu memproduksi padi sebanyak dua ton untuk sekali panen. 

Luas lahan pertanian di Teluk Empening berkisar 150 hektare. Namun, petani di sana mengalami gagal panen, akibat banjir yang merendam lahan persawahan pada Desember dan awal Januari lalu.

Banjir yang merendam persawahan di Teluk Empening akibat irigasi nya tidak berfungsi normal. Selain itu, pintu air di Teluk Empening pun sampai saat ini belum dibangun. (abd/ang)