Diego Rumania, Berdayakan Petani Lokal Kubu Raya

Kubu Raya

Editor K Balasa Dibaca : 274

Diego Rumania, Berdayakan Petani Lokal Kubu Raya
Diego Rumania.
Menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Diego Rumania kini malah sibuk memberdayakan petani. Padahal, program studi yang dia ambil adalah Ilmu Administrasi.

Sejak dua tahun lalu, pemuda asal Kabupaten Ketapang ini bergelut dengan para petani dan peternak di Desa Mega Timur, Kubu Raya. Dia mengajak warga setempat mengembangkan peternakan kambing dan tanaman buah.

“Awalnya cuma kambing, tapi sekarang sudah tambah petani yang diberdayakan, sekarang lagi proses budidaya jahe, ke depan akan tanam cabai dan sayuran lain. Kita juga punya buah, jambu madu,” ceritanya.

Dimulai dari dua petani dua peternak, dia mengembangkan peternakan kambing lokal, etawa, boer, erawa dan jawa randu. Saat ini, kurang lebih 200 ekor ada di kandang. Dalam kondisi penuh, jumlahnya bisa mencapai 500 ekor. Hanya belakangan permintaan banyak masuk dari rumah potong.

“Ada beberapa puluh ekor tidak dijual, khusus program pengembangbiakan. Mulai dari calon indukan, jadi indukan, menghasilkan ‘dedek-dedek’ baru,” imbuhnya.

Peternakan tersebut memang menjual kambing hidup, kambing potong segar dan daging beku. Bahkan jika ada permintaan gulai kambing untuk akikah pun disanggupi. Kini, dia tengah menjajaki kerja sama ritel.

“Kalau susu kambing belum berani dipasarkan secara umum. Karena kambing etawa pesusu belum banyak. Misal respon positif dari pasar, rencana akan ditambah jumlah kambing etawanya,” sebutnya.

Awalnya apa yang dia kerjakan merupakan upaya pemberdayaan petani dan peternak lokal. Modal awal didapat dari Masyarakat Tani Nusantara (MTN). Namun dalam perjalanannya, hasil pemberdayaan tersebut dirasa perlu langsung dipasarkan ke konsumen. Dia ingin menghubungkan langsung petani dengan konsumen. Dengan demikian, hasil maksimal bisa didapat.

“Ini tentu memancing peternak dan petani yang lain untuk terlibat,” sebut lelaki yang tengah mendalami ilmu kopi ini.

Meski masih usaha kecil-kecilan, dia menargetkan wilayah itu bisa jadi desa wisata. Tiap minggu, Diego membawa temannya yang tertarik ke desa tersebut. Dia memang rutin membagikan aktivitasnya di akun Facebook.

“Reaksi mereka seru, sih. Kan bayangan mereka kandang kambing itu bau, jorok dan lainnya. Tapi dengan aku mereka bisa gendong anak kambing, sambil nyusuin kambing yang bayi, selfie. Lumayanlah untuk refresh dari rutinitas kota,” ujarnya sambil tertawa.

Media sosial juga dijadikannya ladang jualan. Ke depan, semua produk hasil petani dan peternak akan dipasarkan lewat branding ‘I-go’, yang berarti ‘saya menuju organik’. Termasuk alpukat para petani Sulawesi yang dia pasarkan di Pontianak.

Awalnya, dia merasa apa yang dikerjakan hal receh. Ternyata respon luar biasa didapat. Termasuk dari warga setempat. Interaksi jadi lebih dalam. Dia melibatkan orang-orang yang bisa mendukung. Mulai dari akademisi hingga komunitas untuk memberdayakan warga setempat.

“Dari awal semangat untuk bisa bermanfaat, jadi aku ndak pikirkan kendala-kendala yang ada. Karena kedekatan interaksi, masyarakat pun percaya. Lalu muncul pikiran untuk potong jalur distribusi tengkulak yang tekan harga dan barang dipasarkan langsung ke konsumen,” jelasnya.

Lantaran sering berbagi cerita di Facebook, beberapa tertarik berinvestasi. Dia tak menyangka pengaruh media sosial bisa sebesar itu. Beberapa peternak pun menyarankan untuk menerima investasi luar. Namun agaknya dia masih ingin membuktikan bagaimana mandiri.

“Salah satu kekhawatiran aku, orang kalau sudah tanamkan modal pikirnya selalu untung. Sedangkan ini kan perlu dikontrol perawatan dan kesehatannya, jadi nanti kalau mau investasi aku mau edukasi kalau ini nanti akan dirawat bersama, dipikirkan kendala dan hal-hal buruk yang akan terjadi,” terangnya.

Menariknya, dia tak sengaja memberdayakan warga Mega Timur. Program peternakan yang dia bikin awalnya berada di Desa Punggur Kecil. Namun indukan dibeli dari peternak di Desa Mega Timur. Dalam perjalanan, dia merasa lokasinya tidak pas. Budaya beternak minim di sana.

“Dalam dua hari didatangkan ternak, kambing mati tiga ekor. Aku pusinglah. Lalu peternak di Mega Timur bilang, ‘yaudah bang, sama kita aja, bantu kita’, akhirnya aku alihkan ke sana,” terangnya.

Walau semua modal disiapkan, peternak mendapat keuntungan 70 persen dari harga jual. Kewajiban peternak hanya soal lahan dan merawat. Kini, kambing atawa mereka memenuhi permintaan rumah potong hewan. Ketika Iduladha pun, laku banyak. Padahal, promosi hanya lewat Instagram.

“Dari awal, aku tekankan aku ndak kasih uang. Biar mereka ndak money oriented,” tutup pengajar di salah satu lembaga les ini. (kristiawan balasa)