Jalan Darat Nanga Pinoh Hancur, Transportasi Sungai Menjadi Andalan

Melawi

Editor sutan Dibaca : 1231

Jalan Darat Nanga Pinoh Hancur, Transportasi Sungai Menjadi Andalan
TRANSPORTASI AIR – Speed boat bermesin 40 PK, saat tambat di dermaga SDF Nanga Pinoh. (SP/ Eko Susilo)
NANGA PINOH, SP-  Rusaknya akses jalur darat dari Nanga Pinoh menuju Kota Baru di Kecamatan Tanah Pinoh, membuat masyarakat beralih ke mode transportasi sungai.   Sejak berhenti beberapa tahun lalu, kini sejumlah speed boat  mulai beroperasi kembali membawa penumpang ke wilayah perhuluan sungai Pinoh.  

Son, seorang motoris speed boat asal Kota Baru mengatakan, speed boat mulai lancar membawa penumpang, terutama sejak jalan mulai rusak parah.
 Hal ini karena banyak kendaraan yang sulit menembus Kota Baru akibat jalan darat yang hancur lebur.
 

“Mereka yang menggunakan speed boat ini, terutama yang tidak mampu naik mobil, dengan kondisi jalan yang rusak. Sebab kalau lewat sungai, hanya memakan waktu dua jam. Sementara lewat darat bisa lebih dari enam jam,” ujarnya.
 

Menurut Son, saat ini sudah ada tujuh armada speed boat yang akan membawa penumpang untuk tujuan Pinoh-Sayan-Kota Baru. Sementara untuk wilayah Sokan, kecamatan terakhir di hulu Sungai Pinoh, terdapat armada tersendiri.
 

“Untuk biaya, memang lebih mahal. Nanga Pinoh-Kota Baru, biaya sekali naik Rp 250 ribu. Tidak ada penumpang yang mengeluh, karena kalau mau cepat sampai ditujuan solusinya hanya lewat speed boat. Bahkan bila penumpang hanya tiga orang, mereka berani bayar Rp1,5 juta sekali jalan,” ungkapnya.
 

Irwan, seorang penumpang speed boat mengaku terpaksa memilih melalui jalur sungai mengingat kondisi jalan yang masih rusak berat.
 

“Tak jarang bus sering terjebak dalam kumbangan lumpur yang begitu dalam. Bahkan beberapa waktu bus sempat berhenti beroperasi. Kalau lewat sungai kan lebih cepat dan kita juga tak harus merasakan capek karena jalan rusak,” papar Irwan.  

Menurut Irwan, keadaan ini memang sangat dilematis. Ketika masyarakat membutuhkan akses transportasi yang memadai, ternyata pemerintah belum dapat menyediakannya.  

“Kami berharap, pemerintah bisa segera memperbaikinya. Kami kesulitan dengan keadaan ini,” tutur Irwan. (eko
/mul)

Baca Juga:
Harga Cabai di Sintang Rp 140 Ribu Perkilogram
Puluhan Tahun, Desa Sungai Tapang Tanpa Listrik
Keluarga Korban Pelecehan Seksual Ancam Upaya Hukum Sendiri