q Suara Pemred − Oscar Primadi: Vaksin Polio Tidak Mengandung Lemak Babi

Oscar Primadi: Vaksin Polio Tidak Mengandung Lemak Babi

Nasional

Editor sutan Dibaca : 1301

Oscar Primadi: Vaksin Polio Tidak Mengandung Lemak Babi
ILUSTRASI: Pemberian Vaksin Polio (vickyfahmi.com)
JAKARTA , SP- Sebuah foto bungkus vaksin polio bertuliskan  'ada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi' beredar di media sosial membuat was-was para ibu rumah tangga.
Bagaimana tidak, keterangan foto tersebut menyebutkan,  vaksin itu digunakan untuk Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016. Vaksin disebut mengandung unsur babi. Benarkah kabar tersebut?

Berdasarkan penelusuran di lapangan,  hasilnya foto itu merupakan kemasan vaksin suntik polio. Hal ini berbeda dengan vaksin yang digunakan oleh Kemenkes dalam kegiatan PIN Polio 2016 yang menggunakan vaksin tetes (trivalent oral polio vaccine) produksi lokal PT Biofarma yang tidak ada tulisan apa pun terkait bahan bersumber babi.

"Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan ‘pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi’ adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah vaksin tetes," tutur Kabiro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Oscar Primadi.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar ini menambahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016, sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

Karena itu, pemerintah mengimbau kepada masyarakat agar membawa anak-anak mereka yang berusia 0 hingga 59 bulan ke Pos PIN terdekat, pada tanggal 8-15 Maret 2016.

"PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus polio. Dengan imunisasi polio, masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi. Sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio," ucap Oscar.


Kabar yang mengatakan, vaksin yang digunakan dalam PIN Polio 2016 mengandung unsur babi dalam proses pembuatannya adalah tidak benar atau hoax. Vaksin untuk PIN berjenis vaksin tetes bukan vaksin suntik, seperti dalam foto yang beredar di media sosial.

Di Kalbar sendiri, program PIN Polio di sejumlah daerah justru berjalan lancar. Para ibu berduyun-duyun membawa anaknya ke Posyandu Seperti di Kayong Utara.
Ratusan orangtua yang berdomisili di Sukadana dan sekitarnya, berbondong-bondong membawa balitanya ke tempat acara di gedung pertemuan Balai Nirmala, Selasa (8/3) pagi, untuk mendapatkan vaksin polio secara gratis dari dinas kesehatan kabupaten.


Di Sintang juga demikian. Bupati Sintang, Jarot Winarno bahkan meminta petugas kesehatan, memberikan imunisasi polio sampai ke daerah pedalaman. Tujuannya,  agar anak daerah terbebas dari ancaman polio.

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, Arwani Faishal mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan kehalalan vaksin polio, meski pada proses pembuatannya bercampur dengan materi najis atau haram.

"Vaksin, termasuk untuk polio, itu awal prosesnya bercampur misal dengan darah. Tapi dalam tahapannya telah melalui proses penyucian. Sehingga suci dan dapat digunakan," kata Faishal.


Selama ini, terjadi proses penyebaran informasi simpang-siur mengenai vaksin polio yang tidak halal, karena mengandung enzim babi.

"Memang ada mereka yang secara keras menolak berbagai vaksin untuk digunakan. Mereka beralasan vaksin mengandung enzim babi atau materi najis lainnya," kata dia.

Dia menenggarai pihak-pihak yang menolak vaksin itu lebih percaya kepada "kabar burung" daripada memverifikasi dugaan, adanya enzim babi di dalam vaksin.

"Apa mereka pernah uji lab? Padahal dalam pembuatan vaksin itu ada proses menjadikan itu suci, sehingga di akhir tidak ada materi haram atau najis," kata dia. (det/lip/abd/ble/lis)